Chapter 2

484 56 12
                                        

Sebagai ketua kelas, akulah yang harus pergi mengumpulkan buku tugas matematika kelas 2-4 ke kantor. Lebih tepatnya mendatangi meja Son Hyunwoo seonsaengnim yang tadi memberikan tugas ke kelas. Beliau adalah guru piket hari ini. Aku disambutnya dengan hangat, lalu menyuruhku untuk meletakkan tumpukkan buku yang kubawa ke atas mejanya. Setelah itu aku pamit undur diri.

Aku pulang sendiri, naik bus. Alasan kenapa aku tidak pulang bersama Soomi adalah karena rumah kami tidak searah. Rumahnya lebih jauh dari sekolah dan dia selalu dijemput oleh kakak laki-lakinya. Sementara aku, aku tidak punya kakak laki-laki, yang kupunya adalah adik laki-laki.

Sekolah ini dibubarkan pukul 6 sore. Tidak terlalu siang, tidak juga terlalu malam. Aku cukup bersyukur dengan kebijakan sekolah. Dengan begini aku tidak perlu takut kalau pulang sendirian. Gara-gara menyalin tugas di buku Yoongi tadi, aku terpaksa keluar kelas 15 menit lebih akhir dari yang lain.

Halte sekolah tampak lengang. Hanya segelintir siswa yang ada di sana dan tidak ada satu pun yang kukenal. Aku pun mendudukkan diri di kursi halte. Bersebelahan dengan seorang siswa berkacamata yang memakai hoodie biru muda. Aku pernah melihatnya. Tapi aku tidak yakin siapa namanya. Yang pasti, dia berada di angkatan yang sama denganku.

Aku memilih tidak mengacuhkannya dan memandang sekitar. Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan dan semua kendaraan yang lalu lalang juga menyalakan lampu depan. Polusi cahaya. Satu persatu siswa meninggalkanku. Kebanyakan dari mereka dijemput orangtua. Lalu hanya tersisa dua orang. Ialah aku, dan siswa berhoodie biru muda di sampingku.

Aku melirik arloji.

Kenapa lama sekali?

Seorang pria bertubuh tinggi jangkung dengan pakaian serba hitam tiba-tiba menginjakkan kaki di halte ini. Dia berdiri jauh dari kami. Aku melihatnya sedang bersandar pada sebuah tiang. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh topi dan masker. Aku tidak yakin. Perasaanku buruk terhadapnya.

Aku pun melirik siswa berhoodie biru muda. Tampaknya, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Kami saling berpandangan. Kemudian ... sebuah mobil mewah berhenti di depan kami. Warna hitam metaliknya nyaris menyatu dengan warna langit. Seseorang muncul dari balik kemudi, pria berjas hitam. Siswa berkacamata di sebelahku mendadak bangkit.

Jadi ... kemungkinan besar dia juga dijemput. Dan itulah jemputannya. Itu artinya, aku akan ditinggalkan sendirian di sini bersama pria asing itu. Akh! Aku tidak mau!

Sebuah tangan terulur tepat di depan hidungku. Aku pun mendongak. Kutemukan siswa berkacamata yang memakai hoodie biru muda itu tersenyum. Senyum yang nyaris mirip seperti senyumnya Min Yoongi. Apa jangan-jangan dia saudara Min Yoongi? Ah tidak. Kenapa aku malah memikirkan pria dingin itu?

"Namaku Yoo Kihyun. Kau?"

Sudah kuduga, dia bukan saudara Min Yoongi.

Aku pun membalas uluran tangannya. Berusaha tersenyum, tapi aku tidak yakin. "Aku Oh Sena."

"Senang berkenalan denganmu," ujarnya ramah sambil melepaskan jabat tangannya. "Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengantarmu pulang. Boleh?"

Kekhawatiranku tadi ternyata tidak berguna. Tanpa pikir panjang aku pun mengangguk. Ini lebih baik. Kihyun jauh lebih bisa dipercaya daripada pria asing itu. Ia pun memimpinku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aroma parfum mobil yang khas langsung menyerang indera penciumanku. Aku duduk di sisi kanan, sementara dia di sisi kiri. Mobil ini pun melaju di bawah kendali ahjussi yang kudengar bernama Jung Hoseok.

Kulihat Kihyun melepas kacamatanya. Oh? Jadi kacamata itu hanya sebagai aksesoris? Bahkan dia dengan santai mengacak rambutnya sampai terlihat seperti tatanan bad boy. Kupikir dia adalah tipe nerd yang kuno dan sebagainya ternyata ... itu hanya topengnya saja? Entah kenapa aku malah takut berada di sini. Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu yang buruk padaku? Bagaimana kalau dia ternyata adalah pria brengsek? Bagaimana kalau....

Stereotype (BTS & Monsta X) [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang