Chapter 12

282 43 6
                                        

Author POV

Malam ini adalah malam yang terpanjang dalam hidup Sena. Perut Kihyun tertebas pisau, hanya demi menyelamatkannya. Polisi sudah mengepung tempat itu saat pisau itu ditarik kembali. Beberapa dari mereka termasuk Hoseok langsung memasukkan Kihyun ke mobil dan membawanya pergi ke rumah sakit terdekat. Sena shock berat, tapi dia ikut serta ke rumah sakit. Dia duduk di kursi belakang, membiarkan pangkuannya menjadi penahan kepala Kihyun.

Darah sudah membasahi tempat duduk dan kaos Kihyun. Sena hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tidak sadar, kalau bibirnya juga ikut berdarah karena dia menggigitnya terlalu kuat. Dia baru menyadari itu ketika mereka sampai di rumah sakit. Hoseok memberitahunya. Dan tanpa hitungan menit, dia pun pingsan.

--

Matanya menyipit saat ia terbangun di sebuah ruangan yang silau. Sena paling tidak suka tidur dengan cahaya terang. Ia pun segera melindungi matanya dengan tangan kiri. Tapi detik itu dia sadar, kalau tangannya sedang tersambung ke sebuah kabel transparan. Sena pun menoleh dan terkejut melihat kantung infuse di sisi kiri ranjangnya. Sejak kapan aku di sini?

Seorang suster menyibak tirai dan membelalak ketika pandangan mereka bertemu. Detik berikutnya suster itu tersenyum, lalu mendekat padanya, berdiri di sisi kiri ranjangnya. "Kau sudah sadar, Nona? Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?"

Sena pun bergerak duduk. "Kenapa saya ada di sini?"

"Oh? Kau tidak ingat? Beberapa jam lalu kau pingsan, dan kami langsung membaringkanmu di sini. Kau pasti sangat lelah."

Beberapa jam lalu, ya, dia sudah tidak sadarkan diri selama itu. Tapi dia sama sekali tidak merasa sakit, jantungnya normal, napasnya teratur, matanya juga tidak ada gangguan. Hm ... dia pun baru ingat kalau tadi dia jatuh pingsan karena bibirnya yang berdarah. Lalu ia pun menyentuh bibirnya untuk memastikan.

"Shh...." Masih sakit, tapi sudah tidak berdarah.

Ia pun melirik suster yang masih berdiri di sisi kiri ranjangnya, memantau kantung infus. "Berapa jam saya pingsan?"

Suster itu menoleh. "Hm ... sekitar tiga jam? Ya, kurang lebih selama itu."

Sena membelalak. "Lalu ... lalu di mana Kihyun?"

"Kihyun?" Dahi suster itu berkerut sebentar. "Ah ... temanmu yang terkena pisau itu? Dia tadi menjalani operasi saat kau pingsan, dan sekarang dia sudah dipindahkan ke ruang rawat."

"Operasi?! Apakah operasinya berhasil? Di mana dia sekarang?"

Suster itu berjalan memutari ranjang Sena lalu menyibakkan tirai di sisi kanan ranjangnya. Di sanalah Kihyun berada. Berbaring tak sadarkan diri di ranjang itu, dengan infus yang tertancap di tangan kirinya dan masker oksigen yang menutupi hidung serta mulutnya. Sementara di sisi kanan ranjang itu, terdapat elektrokardiograf yang berbunyi lembut meramaikan suasana.

"Pasien Yoo baru saja diberi obat tidur, jadi mungkin dia akan bangun beberapa jam lagi. Sejak operasinya selesai dia terus saja bangun, dan menolak untuk tidur. Dia sangat menghawatirkanmu, Nona. Sampai-sampai satu suntikan obat bius tidak cukup untuknya. Beruntungnya setelah dipaksa oleh temannya, dia akhirnya mau minum obat tidur."

"Temannya?"

"Kau sudah sadar?"

Sena POV

Suara seorang pria yang familiar pun terdengar dari sudut lain tempat tidurku. Begitu aku menoleh, aku benar-benar tidak bisa menutupi keterkejutanku. Yoongi. Sedang apa dia di sini?

Stereotype (BTS & Monsta X) [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang