Chapter 9

264 40 2
                                        

Paginya mataku bengkak. Sudah mataku bulat, sekarang ditambah dengan bengkak. Makin terlihat aneh. Aku pun melempar sandal rumah yang hanya tersisa satu itu ke sudut kamar. Peduli apa, barefoot is youth. Aku pun pergi mandi, lalu memakai seragam, memasukkan semua buku-buku dan keluar.

"Sena! Kenapa baru bangun sekarang?! Ini, cepat berikan pada Yoongi!"

Aku menoleh dan hanya menatap datar rantang makanan yang dibawa ibuku. Biasanya aku akan bersemangat mengantar sarapan ke rumahnya, tapi hari ini aku muak. Dan tanpa bisa dikontrol, mulutku pun berujar, "Mau dia sarapan atau tidak itu bukan urusanku 'kan?".

"Kau ini bicara apa?! Cepat bawa ini atau namamu kuhapus dari kartu keluarga!"

Ancaman itu akhirnya sukses membuatku membawa rantang makanan itu saat keluar rumah. Langit tampak terang. Wajar, sekarang sudah pukul 7. Dengan ogah-ogahan aku pun pergi ke rumahnya. Tsk, melihat gerbang rumahnya saja sudah membuat perutku mual. Aku benar-benar benci harus melakukan hal yang sangat kubenci.

Sesampai di depan gerbang rumahnya. Tanpa pikir panjang aku langsung menekan bel secepat jariku bergerak. Entah dikali yang keberapa, aku kelelahan dan meletakkan rantang itu di dekat pintu. Terserah, aku sudah menekan belnya selama 60 detik tapi tidak ada respon apa pun dari rumahnya. Ya sudah, aku memutuskan untuk segera pergi ke halte.

Begitu aku masuk bus, ponselku tiba-tiba bergetar. Banyak pesan yang belum kubaca tapi barusan yang datang adalah pesan dari ibu Yoongi. Aku pun membuka pesan itu.

Bus sudah setengah perjalanan begitu aku selesai membaca pesan dari Nyonya Jeon

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bus sudah setengah perjalanan begitu aku selesai membaca pesan dari Nyonya Jeon. Sial. Kalau aku kembali sekarang sudah pasti aku akan terlambat. Sudah tidak mungkin kalau aku berniat membolos lagi seperti kemarin. Hari ini ada ulangan harian Biologi, dan guru Biologi tidak pernah memberikan sesuatu yang namanya 'ulangan susulan'.

Akhirnya aku pun mengirim pesan pada eomma untuk mengecek keberadaan Yoongi di rumah. Eomma membalas pesanku begitu aku turun di halte sekolah. Rantang makanan yang kubawa masih tergeletak di luar dan rumah dalam keadaan kosong.

Perasaanku mendadak tak menentu saat aku berjalan menuju sekolah. Bagaimana ini? Di mana Yoongi sekarang? Kenapa saat ditelepon nomornya tidak aktif? Apa kemarin malam dia benar-benar pergi dari rumah? Tapi kemana? Rumah Kihyun tidak ada, rumah Taehyung juga tidak ada, tempat-tempat yang biasa dikunjunginya tidak ada. Kau kemana sebenarnya, Min Yoongi?

"Sena!"

Aku otomatis menoleh, dan langsung diserang dengan sebuah pelukan erat. Aroma minyak bayi, ini kakakku, Soomi.

Dia melepas pelukannya lalu menatapku dengan senyum cerianya. Tapi senyum itu tidak bertahan lama. "Eh? Kenapa matamu bengkak?"

"Kau ... ekhem!" Tenggorokanku mendadak serak. "Kau tahu di mana Yoongi?"

Stereotype (BTS & Monsta X) [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang