Chapter 7

309 48 5
                                        

Orang itu maju selangkah, tersenyum lebar padaku –ya, padaku. "Ketua kelas 2-4, kau dipanggil oleh Min Ji Sung seonsaengnim untuk segera mengumpulkan lembaran ulangan harian."

Aku menelan ludah susah payah ketika semua pandangan tertuju padaku. "Di-dimana?"

"Kelasku. Ayo, Min seonsaengnim sudah menunggu."

"A-ah, baiklah." Aku buru-buru bangkit. Saking terburu-burunya, aku tidak perhatian dan kakiku tersandung kaki meja. Hish. Aku berusaha bersikap cool dan langsung berjalan cepat menghampiri Kihyun. Dia tersenyum padaku lantas memimpinku untuk keluar kelas.

Aku bernapas lega begitu menginjakkan kaki diluar kelas. Kutarik lengan seragam Kihyun untuk berhenti sejenak. Dia menatapku bingung sedangkan aku sibuk mengatur napas. Aish, kenapa aku bisa segugup ini?

"Kau baik-baik saja?" tanyanya. Aku pun mendongak. Memandang wajahnya yang tampan itu masih dengan napas yang terengah-engah.

Saat aku berdiri tegap, aku merasakan nyeri yang sangat di kakiku dan saat kulihat ke bawah, tubuhku mendadak lemas. Kihyun menangkap tubuhku, bukan kertas yang mendadak berceceran di lantai karena aku melepaskannya begitu saja. Sial, kenapa kakiku harus berdarah sekarang?

"Kau kenapa? Hei?" Dia mendudukkanku dengan menyandarkan punggungku di dinding. Kulihat dia mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dan begitu melihat kakiku matanya langsung membola. "Kakimu berdarah."

Dadaku mendadak sesak saat mataku tak sengaja melihat darah yang mengalir dari kuku ibu jari. Padahal niatku adalah melihat kertas-kertas yang berserakan di lantai. Itu semua kertas ulangan, bagaimana kalau mereka rusak?

"Tolong kertas ulangannya."

Kihyun tidak mengacuhkanku. Dia justru melingkarkan lenganku di lehernya, lalu mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya. Saat dia akan membawaku pergi, aku reflek berseru, "kertas ulangannya!"

Dia menatapku kesal. "Apa sekarang itu penting?! Kakimu berdarah! Kau harus segera diobati!"

Aku tertegun, ini pertama kalinya Kihyun membentakku. Aku pun menelan ludah. "Tapi ... itu tanggung jawabku."

"Serahkan padaku." Suara pria di belakang kami spontan membuat kami menoleh. Aku membelalak. Sejak kapan Yoongi, Taehyung, Soomi dan teman-temanku yang lain ada di sana? Soomi langsung membuang pandangan begitu bertatapan denganku. Sementara Yoongi yang tadi menginterupsi kami, langsung maju untuk mengumpulkan semua kertas-kertas itu. Taehyung membantunya beberapa detik kemudian.

Kihyun membenahi posisiku yang membuatku kembali menoleh padanya. Kemudian tanpa banyak bicara dia langsung membawaku ke ruang kesehatan. Aku menoleh ke belakang. Melihat punggung Yoongi yang lama kelamaan hilang dari pandanganku.

Dan sekarang kami berada di ruang kesehatan. Kihyun mendudukkanku di sebuah ranjang, ironisnya ranjang itu adalah ranjang yang minggu kemarin dipakai Yoongi, lalu dia berlarian menuju kotak obat dan kembali tak lama kemudian. Hari ini dokter sekolahnya tidak ada, dan hanya ada kami berdua di sini. Aku membiarkannya mengobati lukaku. Kami berdua sama-sama diam. Atmosfer jadi terasa canggung. Aku pun menghela napas untuk menetralkan perasaanku.

"Maaf tadi aku membentakmu," ujarnya. Aku pun mendongak. Menatapnya lamat-lamat.

"Aku kesal karena kau lebih mementingkan kertas ulangan daripada kakimu sendiri. Sudah tahu kondisimu seperti itu, kenapa kau masih saja memikirkan hal yang tidak penting," lanjutnya.

Aku meringis. Kihyun menekan lukaku terlalu kuat.

"Sebenarnya tadi kenapa kau tiba-tiba menyuruhku berhenti? Apa barusan di kelasmu terjadi sesuatu?"

Stereotype (BTS & Monsta X) [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang