Bisa digambarkan bagaimana perasaanku ini, saat ini aku, Surya dan keempat anak anakku tengah berada di kelapa gading, markas besar Brimob. Surya telah mengadukan izin menikah di markas Brimob dua minggu yang lalu, dan baru di konfirmasi kemarin.
Tante Indah sudah menyetujui kami menikah, ternyata bukan hal yang sulit untuk menyakinkannya, dua minggu yang lalu beliau tak mau menerima diriku yang ternyata mandul, tetapi dengan usaha kerja keras Surya untuk meyakinkannya beliau pun mau kalau aku menikah dengan anaknya. Dan Tante Indah saat ini sangat dekat dengan Syifa, anak anakpun sudah memanggilnya dengan sebutan "Nene"
"Kenalkan nama kamu siapa?" wanita yang berpakaian bewarna pink itu bertanya kepada kami
Aku menatap Mas Surya "perkenalkan nama saya Surya Sucipto SH, dan calon istri saya namanya dr. Cahaya Sinar Sp.B" mereka yang berada di depan kami mengangguk anggukkan kepalanya
Di depan kami ada Kapolda tempat Mas Surya ngantor yang bernama Iptu Suaib Istri Bayangkari yang aku tau namanya Susi Sulisti, dan ibu Bayangkari lagi yang tak ku kenali namanya
"Ibu Sinar ini janda yah?" akhirnya pertanyaan ini muncul juga aku menatapnya dan mengangguk
"Iya... Saya janda itu anak anak saya" aku tersenyum menunjuk anak anakku duduk manis dibelakang sambil melambaikan tangannya
"Wahh...hebat juga yah kamu, umur kamu baru 26 tahun tapi sudah punya empat anak" ibu Susi menggelengkan kepalanya
Aku hanya tersenyum menatap mereka kulihat Surya menatapku dia terlihat pucat dariku hehehe
"Pak Surya kamu tahu, kalau anggota kepolisian yang belum pernah terikat tidak boleh menikahi janda apalagi kamu belum sama sekali menikah" inilah yang Surya takutkan, takut pernikahan kami tidak diterima oleh kesatuan Brimob
Surya mengangguk "aku tau, tapi dalam agama kami, apapun yang terjadi dengan siperempuan aku ingin mendapatkan perhiasan dunia karena istri yang sholeha adalah sebaik baiknya perhiasan dunia, Sinar ini orang yang sangat baik, Sinar ini Ibu yang penyayang, walaupun aku bukan yang pertama tapi aku yang akan menjadi yang terakhir buatnya, aku mencintainya karena Allah dan saya siap untuk menikahinya" aku menatap Surya aku rasanya ingin menangis saja mendengar kata katanya yang tegas membela diriku.
Kupandang kedepan, kulihat para pengetes melihat kami sambil tersenyum dan mengangguk angguk mendengar jawaban Mas Surya "yasudah, saya mau bertanya sama Sinar dulu, Sinar apakah kamu siap untuk menjadi istri bayangkari?" tanya ibu Susi menatapku sambil mengerutkan keningnya
Aku tersenyum dan mengangguk "insyaAllah siap Bu'" kataku sambil tersenyum
Mereka menatapku, entah apa yang mereka pikir. Aku hanya terus tersenyum sambil menatap mereka satu persatu
"Peraturan tetap peraturan, mohon maaf Pa, sepertinya kami tak bisa menerima ibu Sinar menjadi ibu Bayangkari, maafkan kami pa ibu" aku hanya diam mendengar utaran kata Pa Suaib, aku menatap Mas Surya, Mas Surya terus memandang ke depan terlihat raut wajah keras di tulang pipinya
"Seperti inikah cobaan hidup yang kulalui. Banyak sekali hambatan hambatan yang kujalani, dari waktu muda dulu, sampai sekarangpun menikah dengan dirinya kok sulit sekali Ya Allah" batinku, tanpa sadar tetesan air mata membasahi pipiku.
Aku mulai menghapus air mataku, yang tak kunjung henti menetes, ku tatap sekali lagi Mas Surya yang sudah tak bisa berbicara lagi. Aku lelah, lelah dengan kenyataan ini. Aku bangkit dari tempat duduk "ya sudahlah Pak" aku tersenyum
" satu hal yang Bapak dan yang ada di sini, jodoh bukan ditentukan oleh kalian, tetapi jodoh di tentukan oleh Allah. yasudah, Mas saya berangkat diluan, mungkin kita bukan jodoh" aku berjalan ke kursi di mana anak anakku duduk, ku hapus air mataku dan mengambil mereka dan melangkah keluar
"Ibu, ibu kok gitu tinggalin Ayah"
"dr.Sinar" suara Pak Suaib menghentikan langkahku
"Kalau Ibu keluar dari ruangan ini, maka batallah anda menjadi Ibu Bayangkari" ucapan Ibu Ani mengagetkanku
Maksudnya apa dengan perkataannya, bukankah diriku memang tidak bisa menjadi seorang Bayangkari
Aku membalikkan badanku, kutatap Mas Surya yang masih berdiri ditempatnya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Aku berjalan kududukkan anak anakku kembali, "Bunda jangan nangis" ucap Satria menghapus air mataku .
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku, kucium satu persatu anakku ini. ku langkahkan kakiku menuju kursiku tadi.
"Begini Ibu Sinar, kami hanya menguji kalian heheeh" aku mengerutkan keningku, kulihat semua tertawa hanya saya dan Mas Surya yang tidak mengetahui masalah
"Ibu Sinar, kami mau bertanya suaminya meninggal atau cerai?" tanya Pak Suaib
"Meninggal Pa" jawabku
Suasana sidang setelah kejadian tadi mulai tenang, dan mencair menurutku. Pertanyaan pertanyaan yang munculpun dijawab dengan candaan
Kurang lebih satu jam didalam dan akhirnya pertanyaan dan persyaratan telah terpenuhi
"Ok baik, Ibu Sinar selamat anda sudah resmi menjadi Ibu Bayangkari" jawab ibu Susi, aku lalu tersenyum dan menatap Surya yang ikut tersenyum
"Alhamdulillah, terimah kasih Bu'" jawabku menjabat tangannya
***
Saat ini kami tengah berada di rumah makan, setelah kejadian tadi yang menguras tenaga dan pikiran itu. Mas Surya dan keempat anakku makan dengan lahap. Ah...bahagianya diriku.Dikaruniai empat anak yang baik dan mengerti diriku, walaupun hanya Syifa yang merupakan darah dagingku tapi aku menganggap jagoan jagoan ku itu anakku sendiri.
"Sinar, kok kamu melamun sih, makan makanan mu" ucap Surya sambil mengunyah
Aku tersenyum dan mengangguk "Mas apakah kamu menerima diriku dan anak anakku ini?" tanyaku lagi, aku belum yakin dengan jawabannya, aku berfikir mana ada cowo single menerima janda beranak empat dan tak bisa menghasilkan keturunan buat dirinya. Masih adakah lelaki seperti itu?
"Sinar, apakah kamu meragukanku?" tanyanya
Aku mengangkat bahuku "aku tak tau Mas"
"Lihat aku Sinar, walau bagaimana pun keadaanmu, aku menyukaimu dari awal kita bertemu, aku juga menyukai anak anakmu dari awal aku bertemu dengan mereka, dan yang paling penting aku ingin bersama dirimu dan anak anak kita,bukan hanya di dunia tapi di jannahNya Allah juga" jawabnya mantap, aku menatapnya, jantungku berdetak, air mataku menetes. Aku sudah mantap untuk bersamanya
"Sudahlah jangan nangis, kalau kamu nangis kaya gini, aku rasanya ingin peluk kamu deh hah" ucapnya sambil tersenyum
Aku hanya mengambil tisu yang berada didepanku untuk menghapus air mataku
"Anak anakku, lihat tu Bunda kalian nangis tuh"
"Bunda kok nangis sih, Ayah apain Bunda? " tanya Bima menatap Surya dengan mata yang besar
Hahah lucunya anak anakku " tidak kok, bukan salah Ayah, ini salah Bunda" ucapku menatap mereka dengan senyuman
"Ayo peluk Bunda" Surya menuntun anak anak untuk memelukku
Semuanya berlari memelukku, Surya yang berada di sampingku juga ingin memelukku, kubulatkan mataku
"Hehee...maaf Bunda" ucapnya nyegir, aku hanya tersenyum menanggapi jawabannya
***
Hai hai semua... Maafkan diriku yang baru melanjutkan cerita ini, rencananya sih aku nggak mau lanjut, tapi ah... Lanjutin ajalah heheheh...
Ini efek pulang KKN jadi malas nulisnya dan sudah nggak tau jalan ceritanya gimana heheh..
Kalau ada yang nanya ini cerita betulan, jawabannya tidak
Maaf yah banyak banget typo nya habisnya ketiknya lewat HP hehhe...
Ini mungkin nggak akan lama lagi selesainya
Jangan lupa comen dan love yah..
Terima kasih

KAMU SEDANG MEMBACA
sinar surya
SonstigesPertemuan dengan calon dokter berkerudung merah jambu itu menambah anggunnya dirinya. Membuat surya yang merupakan anggota korps brigade mobil, atau bisa disebut dengan brimob jatuh cinta pada pandangan pertama. Senyumannya yang manis, wajahnya yang...