3.berkenalan

3.4K 208 10
                                    

Surya POV

Terdengar suara hujan di jendela kamar gue, hujan turun lagi. Tapi suasana hati gue kali ini, berbanding terbalik dengan cuaca saat ini, hati gue cerah banget lihat senyuman Dokter cantik itu yang bernama Sinar, namanya aja udah buat gue tak bisa tidur.

Setelah gue sadar, belum ada yang jengguk gue, mungkin mereka sedang sibuk dengan bom bom itu, kalau gue pikir itu, gue kaya' nggak guna banget jadi polisi. Orang Tua gue, ah...gue nggak mau hubungin mereka kalau kondisi gue seperti ini, mereka harus ngelihat gue berhasil jadi Polisi, mereka juga mungkin sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing

Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari pintu kamar gue, dan muncul lah sosok bidadari yang membuat otakku selalu memikirkannya

"Sore"

Gue menatap pintu kamar gue, itu hah bidadari dari surga deh menurut gue, bibir nya yang merah walaupun tak dipoles dengan lipstik , matanya yang bulat, kulitnya yang putih natural. Yah, bisa imbangi gue lah yang kulit gue yang agak kecoklatan kaya' gini

Gue tersenyum membalas senyuman Sinar

"Sore Dok"

"Gimana ni keadaannya?"
Dia berjalan kedekat gue, dia memakai sarung tangan, mungkin agar terhindar dari virus para pasien yang dia periksa, dia di temani dengan perawat wanita yang sudah 2 kali gue lihat masuk ke ruangan gue.

"Udah agak baikan Dok, ini bukan luka parah kok Dok, dulu pernah luka di sekitar kaki Dok, parah banget dah. waktu itu gue ada di hutan, siapa coba yang mau nolongin, tapi yah setidaknya ada dokter Polisi bersama kami, walaupun obat-obatnya tidak ada,hanya obat herbal saja yang ada di hutan"

Jelas gue panjang lebar, yah gue paling suka berbicara sama siapapun,

Kulihat dia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya

"Wah Dokter Polisi itu pasti hebat banget, dia bisa mengenal obat-obat herbal, jadi otomatis dia juga belajar farmasi di kampusnya, aku aja nggak terlalu paham tentang obat obatan herbal"

Ucapnya penuh semangat menjelaskan tentang keruminatan tentang kedokteran

"Ok, aku ganti dulu yah perbannya sekalian periksa jahitannya dulu, Pik, tolong gunting"

Dia mulai membuka perban gue yang melilit di lengan ku, agak perih sih, mengerak kan lenganku

Dia mulai memeriksa jahitannya dan memoleskan obat cair di sana, yang membuat lengan gue dingin dan nyaman, tapi setelahnya makin perih ni lengan auuu, kulihat dia mengangguk-anggukan kepalanya, dan gue pun tak mengerti selanjutnya, gue hanya menahan perih nya lengan ini,

"Sakit?"tanyanya menatapku sambil tersenyum, mungkin ini itu tatapan terlama gue deh dengan ni cewe, setiap natap dia, pasti dia nunduk, tapi sekarang dia menatap gue lebih dari 5 detik WAW

Dia mengalihkan pandangannya kembali, gue terus saja memperhatikannya, rasa perih di lengan sudah gue lupain, wajahnya jadi obat dah buat gue.

dia mulai melilitkan kembali perban baru di lengan ku, dibantu dengan Suster Pika

"Insya Allah, besok bisa keluar. Tapi, tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu,pegang senjata apa lagi, berkelahi, pokoknya lengannya tidak boleh banyak-banyak bergerak dulu" ucapnya membuatku mengerutkan kening gue

"Tapi dok, semua yang dilarang tadi menyangkut profesi gue loh dok"

Masa gue nggak bisa pegang senjata sih, gimana mau menaklukkan para teroris, pencuri atau semacamnya lah

Gue lihat Sinar hanya tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya

"Ia aku tau, nanti Dokter Tamrin yang akan memberikan surat kepada Kapolda kalau kamu nggak bisa ikut dalam pelatihan kepolisian"

sinar suryaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang