"Mama sepatu Azna mana?" tanya Azna setengah berteriak. Azna kemudian berlari dari kamarnya sampai tangga.
Naya yang nampak sedang sibuk menyiapkan sarapan sedikit mendongakkan kepala. Naya melirik jam yang masih menunjukkan pukul 05.47. "Tumben udah rapi." ucap Naya. Dari ruang makan memang Naya dapat melihat jelas keberadaan Azna. "Biasanya juga masih kebo," lanjutnya.
"Ye mama suka gitu, bangun siang dimarahin lah masa bangun pagi juga malah dibilang tumben. Terus aku mesti bangun jam berapa?" Azna mendelik kesal kearah Naya. Yang menjadi objek justru malah memamerkan cengiran lebar.
"Biasa aja kali Az, 'kan maksud mama tumben aja gitu kamu bangun sepagi ini. Pasti kamu mau bantuin satpam bukain gerbang ya?" Naya terkekeh pelan kemudian membayangkan Azna membuka gerbang sekolah yang tiga kali lipat dari tinggi Azna.
Azna melayangkan tatapan tajamnya kepada Naya. "Anjirr tega banget sih mama," ucap Azna sembari menampilkan wajah memelasnya sesekali juga menyeka air mata yang tak jatuh sedikitpun. Azna mendramatisir keadaan seolah ia tersakiti.
Naya tertawa terpingkal-pingkal sebagai respon dari aksi drama Azna. Tak lama kemudian, Azna tak urung ikut tertawa juga. "Gimana mam akting aku bagus 'kan?" tanya Azna yang membuat tawa Naya semakin menggelegar namun pada akhirnya ia menganggukan kepala tanda setuju.
"Kenapa sih daritadi kalian berisik mulu?" tanya Arkan yang baru saja turun dari atas lantas ia pun merangkul Azna, mengajaknya turun dari tangga. "Kamu juga Az, emang gak pegel mantengin tangga mulu kayak sales yang lagi promosi produk terbaru,"
"Papa gak boleh gitu dong sama aku, mama sama papa itu sebelas dua belas banget emang," Azna melepaskan rangkulan Arkan seraya menghentak-hentakkan kakinya. Arkan terkekeh pelan melihat kelakuan childish Azna. Naya pun ikut terkekeh melihat Azna yang begitu manja kepada Arkan. Naya selalu bersyukur karena telah dianugerahi dua orang yang sangat ia cintai.
"Udah mending kalian sarapan deh," celetuk Naya sembari membenarkan posisi piring milik mereka. Setelahnya ia mengambil satu centong nasi goreng buatannya pada piring Arkan. "Oh iya Az sepatu yang kamu maksud, sepatu yang mana?" tanya Naya.
"Itu mam, hari ini 'kan hari sabtu jadi aku pengen pake sepatu motif bunga yang mama beliin waktu itu," jelas Azna.
"Sepatu itu udah mama simpan di kamar kamu 'kan?"
"Masa sih mam? Orang gak ada,"
"Udah deh kamu diem biar mama ambilin,"
¤¤¤
Kimia adalah pelajaran yang paling Azna sukai. Berhubung Bu Hani sangat baik hati dan tidak killer seperti guru pada umumnya membuat Azna semakin giat dalam pelajaran Kimia.
Saat ini Azna pun sangat fokus mendengarkan penjelasan materi dari Bu Hani. Tanpa menghiraukan gangguan Gio yang semakin hari semakin merajalela.
"Ikatan kovalen adalah penggunaan elektron secara bersama-sama," Bu Hani menjelaskan materi baru yaitu Ikatan kimia. Entah Bu Hani terlalu baik atau mungkin kurang tegas membuat para siswa terutama laki-laki menjadikan bahan untuk berbaper ria.
"Kimia aja punya ikatan masa aku sama kamu enggak?!" celetuk Gio seraya menoleh ke arah Azna. Membuat seisi kelas terbahak. Azna menatap tajam Gio detik kemudian memutar bola matanya jengah. "Baper banget sih lo,"
"Anjirr gercep banget Yo," sahut Rean.
"Unchh baper ae Gio," Denisa pun angkat bicara. Semuanya semakin terbahak ketika mendengar suara alay Denisa. Bukannya mencari sensasi atau perhatian, namun pada dasarnya Denisa sering berkata alay dari sananya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TIRED
Teen FictionJika mencintaimu adalah patah hatiku yang paling disengaja, lantas ajarkan aku cara membenci sampai aku lupa cara mencintaimu. -Razna Shabiya Dzahin Jika kamu tetap menjadi seseorang yang dulu, mungkin aku tetap menjadi pemilik ruang hatimu. -Adrian...
