Sesak, dan aku kesulitan bernafas. Semalam aku berusaha untuk tidur namun selalu berakhir mimpi buruk. Butuh beberapa menit bagiku untuk mengetahui bahwa aku masih berada di kamarku yang paling aman dan tentram.
Mereka membantingku cukup keras. Aku tak mampu membayangkan bagaimana saat aku menjelaskan pada teman-teman di sekolah mengenai kejadian kemarin, penyebab sesungguhnya seminar kacau. Terlebih tindakan Citra yang memang sengaja menyuruhku untuk melakukan tugasnya yang semestinya bukan tanggung jawabku, sampai aku melupakan tugasku sendiri yang merupakan puncak menuju ambang kesuksesan.
Aku telah mengecewakan semua orang, kenyataan yang paling membuat pilu adalah aku sudah mempermalukan sekolahku sendiri. Cukup tergambar jelas di pikiranku akan reaksi teman-teman di sekolah nanti saat melihatku. Meludahi wajahku atau bahkan membunuhku. Aku memang tak berguna dan menyedihkan, sangat persis dengan kata-kata kotor yang mereka keluarkan tentang diriku.
Nasibku tamat, seperti yang dikatakan Prilly. Hal yang paling membuatku kadang ingin bahagia (lalu menangis) adalah sampai saat ini aku masih menganggapnya sebagai teman bahkan saudaraku, sama seperti ketika kami masih kelas satu. Namun tidak untuknya. 😖
Matahari begitu terik akibat sinarnya, dan aku masih berada di tempat tidur dengan wajah sembab serta rambut berantakan. Aku tak bisa menghilangkan bayangan suara-suara itu yang seakan siap menerkamku secara perlahan namun keji. Seandainya papa ada disini, aku ingin minta maaf atas segalanya.
"Maafin aku pa..."
***
Selesai mandi aku langsung mengambil seragam dari lemari lalu kupakai. Begitu jijik. Aku seperti mempermalukan diriku sendiri. Setelah semua rapi, aku memasukkan apapun yang kutemui ke dalam tasku. Aku menyisir rambutku dan memakai make up seadanya untuk menutupi wajah sembabku. Semoga tak ada yang curiga. Aku keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Pagi honey...", sapa mama dari kamar mandi dan menarik tanganku untuk menuju meja makan.
"Pagi ma..."
"Wiihhh,, ini dia si panitia seminar!!! Gimana acaranya kemarin dek?? Sukses gak??", tanya kak Kimberly yang sudah lebih dulu sarapan.
"Sukses dong jelas!!! Buktinya semalem sampek gak keluar kamar,, pasti kecapekan dehh anak mama....", rasanya ingin kembali menangis saat mendengar mereka yang begitu antusias mengira bahwa seminar kemarin sukses. Sukses hancur lebur!!!
"Woohhh kereeennn!!! Ayo sarapan yang banyak dek,, kamu pasti lemes kan habis pulang jadi langsung tidur. Sekarang kamu butuh asupan lagi biar semangat ke sekolah. Kakak yakin banget,, pasti temen-temen kamu bakal kasih selamat karna kinerja kamu bagus buat dateng'in idola mereka. Gak salah dehh adek kakak yang paling cantik ini jadi kandidat calon ketua OSIS...."
" He'emb.. Mama bangga sama kamu sayang..."
Mungkin ganasnya teman-teman di sekolah akan menginjakku hingga menjadi lempengan, dan membuangku ke tong sampah. Aku tak sanggup membayangkan apakah aku bisa selamat dari mereka. "Kok diem aja?? Kamu gak kenapa-napa kan dek??"
"Fine....", aku hanya bisa mengangguk dan memberikan senyuman tipis sebagai bentuk jika aku masih kuat untuk saat ini.
"Trus kenapa masih berdiri gitu?? Ayo duduk Ki...."
Ini akan menjadi hari yang berat.
***
Byyuuuurrrrr......
"Arrrgghhhh!!!"
"Hahahahahaha........"
Baru selangkah Yuki memasuki kelas, tak disangka dirinya mendapat sambutan yang sangat memilukan. Sebuah ember berisi aneka jus yang sangat lengket langsung tersiram di sekujur tubuhnya dari atas.

KAMU SEDANG MEMBACA
~ DEPRESI ~
HorrorNB : Cerdaslah dalam bersosial media!!!! Bismillahirrohmanirrohim.....