BAB 16

7.2K 352 5
                                    

Elisa kembali dipulangkan dari rumah sakit setelah dua hari dirawat. Dokter memberinya beberapa obat dan menyarankan Elisa untuk dirawat di rumah sakit lebih lama. Namun Elisa merengek ingin pulang jika tidak ada Mommy dan Daddy yang menemani. Alhasil aku hanya pasrah dan menuruti keinginannya.

Daddy baru menujukkan batang hidung mereka seminggu kemudian. Mommy? Entahlah. Aku sudah menjelaskan keadaan Elisa kepada Daddy, namun ia hanya menganggap Elisa terlalu lelah dan menyuruhnya untuk libur sekolah dulu.

Hari ini seperti yang sudah-sudah, rumah kami terasa lengang. Akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu untuk keluarga, namun bagi kami, itu hanya ilusi. Orangtuaku tetap sibuk bekerja, seperti biasa. Karier dan uang adalah prioritas mereka, sementara aku hanya berharap mereka sekali saja bisa duduk bersama kami, tanpa gangguan.

Aku berjalan ke ruang kerja Daddy, melihatnya sibuk menatap layar laptopnya, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Sesaat aku ragu, tapi akhirnya memberanikan diri.

"Dad, bisa kita bicara sebentar?" ujarku sambil mendekatinya.

"Ya, ada apa sayang?" ucap Daddy menghentikan aktivitasnya.

Aku duduk di depannya, meanatap mata lelah yang tak pernah benar-benar menatapku. "Daddy sibuk banget ya, sampai gak punya waktu buat aku sama Elisa?" tanyaku mencoba menahan nada kecewa.

Daddy tersenyum tipis. "Bukan begitu sayang, Daddy kan kerja juga demi kamu sama Elisa," jelasnya.

"Tapi Dad..." aku menghela napas, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Aku rasa kita ini cuma butuh kasih sayang dan menghabiskan waktu bersama, Dad?" ucapku memelas, suaraku sedikit bergetar.

Namun, Daddy hanya tersenyum lagi. Senyum yang sama, senyum yang tak membawa perubahan apapun. Tangannya kembali sibuk dengan pekerjaannya, seolah percakapan ini tak lebih penting dari dokumen-dokumen di hadapannya.

"Dad, dengerin please," aku mencoba sekali lagi, "Aku cuma minta satu hari aja. Daddy belum temuin dokter buat nanyain Elisa waktu itu, kan?" sambungku lagi.

"Elisa cuma sakit biasa, sayang." jawab Daddy masih tetap fokus dengan pekerjaannya.

"Tapi, Dad–" bantahku, nadaku mulai naik. "Mana mungkin dokter sampai bilang kayak gitu."

Namun tak ada respon apapun dari Daddy. Aku mendengus kasar dan bangkit meninggalkan ruang kerjanya. Aku berjalan menuju Elisa yang sedang bermain bonekanya di ruang tamu, wajahnya pucat, tubuhnya terlihat lemah dan semakin kurus. Aku menghampiri dan berjongkok di sampingnya.

"Elisa, main sendirian?" tanyaku pelan sambil mengusap pipinya lembut.

Elisa hanya mengangguk. Matanya masih fokus memainkan boneka di tangannya.

"Di mana bi Ina?" tanyaku lagi.

"Tadi bi Ina bilang mau keluar sebentar," jawab Elisa, matanya menatap boneka di tangannya.

"Oh..." hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku duduk di sebelahnya, memperhatikan gerak-geriknya.

"Kak?" Elisa tiba-tiba menghentikan permainannya, menatapku dengan mata polos. "Mommy kemana, ya?"

Pertanyaan itu seperti panah yang menancap di hatiku. Aku tak punya jawaban yang pasti. "Kan, Mommy lagi kerja."

"Kok gak pulang-pulang, ya?" tanyanya lagi sambil memonyongkan bibir mungilnya.

Aku menahan napas, berusaha tersenyum meski hati rasanya remuk. "Kakak juga gak tau, ya udah kamu maen aja dulu," ucapku mencoba menghibur.

Elisa mengangguk pelan. "iya deh," balasnya dengan senyum tipis.

HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang