BAB 27

6.1K 277 7
                                        

Lima tahun lalu...

Sharin berlari kecil, meraih gerbang yang masih sedikit terbuka dengan cepat. Tasnya terayun-ayun di punggung, rambutnya yang diikat rapi terurai sedikit di sisi wajahnya karena terburu-buru. Di luar sana, Raveno sudah menunggunya dengan gelisah. Ia duduk di atas motor ninjanya, memakai setelan seragam SMAnya. Raveno menghela napas panjang, lalu mengencangkan suara deruan motornya, seolah kode agar Sharin segera cepat.

Sharin tersenyum kecil, membuka gerbang sepenuhnya, lalu melangkah cepat menuju Raveno. "Yuk berangkat!" ujarnya ringan sambil menutup gerbang di belakangnya.

Raveno memutar bola matanya, lalu berdecak kesal. "Lama banget sih, bisa-bisa gue yang telat ke sekolah gara-gara nganterin lo dulu!" omelnya.

Sharin hanya membalas cengiran lebar. Ia menaiki motor Raveno tanpa berkata apa-apa, bersenandung kecil seolah omelan Raveno hanyalah angin yang lewat.

Raveno menggelengkan kepalanya, menahan senyum di balik helmnya. "Pegangan yang kenceng. Gue mau ngebut," ancamnya, meski dengan nada bercanda.

Sharin memukul helm Raveno gemas. "Jangan ngebut-ngebut! Gue aduin tante Reyna, lo!"

"Siapa suruh lelet!" Raveno berujar lirih. Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung melajukan motornya dengan cepat, melewati jalanan yang mulai ramai di pagi hari. Angin menerpa wajah mereka dan Sharin berusaha menyeimbangkan diri sambil berpegangan erat pada jaket Raveno.

Kurang dari sepuluh menit, mereka sudah tiba di gerbang sekolah Sharin. Namun, gadis itu tak segera turun dari motor seperti biasanya. Raveno mengernyit heran, menoleh ke belakang, dan menemukan Sharin masih sibuk menaburkan bedak di wajahnya.

"Lo ngapain sih?" keluh Raveno, suaranya setengah tertahan. "Lo mau sekolah apa pentas? Haram bocah SMP pake make up!" tambahnya, kali ini sambil menepis tangan Sharin yang masih sibuk merapikan bedak di wajahnya.

"Ish, cuma bedak doang, elah!" Sharin membalas dengan ketus. "Daripada lo, belum punya SIM tapi udah bawa motor!"

"Turun gak! Gue udah telat nih! Jarak sekolah lo ke sekolah gue gak deket, neng!"

Sharin terkekeh, masih sibuk mengaca di spion motor Raveno. "Iya, iya, bawel lo!"

Raveno memutar bola matanya jengah. "Lo mau kencan, ya?" sindirnya memperhatikan Sharin yang kini sibuk mengoleskan lip balm ke bibirnya.

Sharin menoleh. "Iya, sama Ranvi," jawabnya datar.

Perkataan itu seperti menusuk Raveno tepat di hatinya. Ia tak bisa menyembunyikan kekesalan yang langsung terpancar di wajahnya. Nama Ranvi itu bagai duri yang selalu menyusup di antara mereka, dan Raveno jelas-jelas merasa cemburu.

"Kemarin lo bilang benci sama dia," ujar Raveno, suaranya tiba-tiba kasar. "Sekarang luluh gitu aja? Gampangan banget sih jadi cewek?"

Sharin mendengus, matanya menyipit. "Bukan urusan lo ya!" balasnya sengit, nada suaranya meninggi.

Raveno menatap Sharin tajam. "Awas aja ntar nangis-nangis lagi, gue mampusin lo sampe nyesel!"

Sharin membalas dengan pukulan ringan di helm Raveno, lalu menendang motor itu dengan kesal. "Gak asik banget lo!" ujarnya kemudian pergi memasuki sekolah, tanpa menoleh ke belakang lagi.

Raveno menatap punggung Sharin yang semakin menjauh, hatinya dipenuuhi campuran rasa frustasi dan amarah. Ia mendengus pelan, lalu menyalakan motornya kembali. Kali ini ia melaju lebih cepat, bahkan lebih kencang dari sebelumnya, seolah ingin meluapkan semua perasaan yang terbakar di dadanya pagi itu.

***

Hi...

today...

I break up w/ my bf

lmao..


HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang