Kepalaku berdenyut ketika aku membuka mata, cahaya matahari yang menembus dari jendela langsung menusuk penglihatanku. Pusing. Di mana ini? Aku memandang sekeliling, merasakan keanehan. Ini bukan kamarku. Apa aku sudah dibawa oleh mereka? Apa yang mereka lakukan padaku? Pikiran buruk mulai menghantui, membuatku gemetar.
Saat aku memandang ke arah jendela, ada sosok yang familiar berdiri di sana. Dia adalah Raveno.
"Raveno?" panggilku, langsung duduk dengan perasaan terkejut.
Dia menoleh, menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Perlahan, dia mendesah dan berjalan mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Kok gue ada di sini?" tanyaku, masih bingung dan sedikit panik.
Sementara Raveno hanya menatapku dengan tatapan yang dalam, lalu membuka mulutnya, "Lo hampir aja celaka, tau nggak? Ngapain sih keluyuran di tempat kayak gitu malem-malem? Kalau gak ada gue, gimana coba?" Nada suaranya terdengar kesal, tapi lebih dari itu, aku merasakan kekhawatiran yang tulus di balik omelannya.
Aku menghela napas panjang. Kenapa harus dia yang menyelamatkanku?
"Gue gak butuh pertolongan lo!" ucapku sinis dan bangkit dari tempat tidur. Aku tidak mau berlama-lama di sini bersamanya, terutama setelah semua yang terjadi di antara kami. Luka di hatiku masih menganga, rasa sakit itu tak pernah benar-benar hilang.
Tapi dia tidak menyerah. "Gue denger, lo teriak-teriak minta tolong sama Tuhan," ucapnya pelan, "Lo sampai memohon supaya dikirim seseorang buat nolongin lo dan gue orang yang dikirim Tuhan buat nyelametin lo," lanjutnya sambil nyengir lebar.
Aku memalingkan wajahku. "Gue gak butuh pertolongan lo," ulangku dengan suara lebih rendah.
Tiba-tiba, tangan Raveno menarik lenganku, menghentikan langkahku. "Dengerin gue, please," pintanya, suaranya terdengar tulus, tapi emosiku sudah meluap. Tanpa bisa kucegah, air mata mulai mengalir di pipiku.
"Lepasin gue!" ucapku dengan suara bergetar oleh amarah dan rasa sakit yang tertahan.
"Gue tau lo marah sama gue soal Tiara," ujarnya.
"Lepasin gue bilang!" aku berontak, berusaha melepaskan diri, tapi cengkeramannya kuat.
Raveno hanya menatapku dengan tatapan yang tak bisa kubaca. "Gue kangen cerewet lo," ucapnya dengan suara pelan.
"Lepas!" bentakku lagi, dan kali ini dia akhirnya melepaskan genggamannya. Aku menatapnya dengan penuh amarah.
"Gak usah ngegombal, rayuan lo udah basi, Rav!" serangku, suaraku pecah. "Lo bilang sayang, cinta sama gue, semua itu omong kosong! Lo tunangan sama cewek lain dan bahkan hamilin dia!" teriakku, mengingat kembali rasa pengkhianatan yang menghancurkan hatiku.
Raveno hanya menunduk, tampak tak berdaya di hadapan amarahku. "Gue bisa jelasin semuanya," bisiknya, suaranya serak dan penuh penyesalan.
"Gak perlu! Gue benci sama lo!" aku memukul dadanya dengan kedua tanganku, tangisku semakin keras. Tapi bukannya mundur, dia justru menarikku ke dalam pelukannya.
"Lo jahat," ucapku pelan di antara isakan, tanganku memukul dadanya yang terasa hangat dan lembut oleh air mataku. Tapi pelukannya semakin erat, seakan tak mau melepasku.
"Gue bisa jelasin semuanya," ucapnya lagi, kali ini suaranya lebih rendah, lebih dalam, seolah takut kehilanganku untuk selamanya.
Aku berontak hingga akhirnya berhasil melepaskan diri. Aku melangkah cepat menuju pintu, tapi lagi-lagi, Raveno menarikku dan memaksaku duduk kembali di tempat tidur.
"Duduk," ucapnya tegas, kali ini tak memberiku pilihan.
"Gue mau pergi!" bentakku, masih mencoba melawan.
"Gue bilang duduk!" Raveno menatapku dengan pandangan tajam membuatku tak berdaya untuk melawan lagi. Aku hanya bisa menatap lantai, menahan diri dari tangis yang tak kunjung berhenti.
"Sharin, dengerin gue," suaranya melembut lagi, "Gue sama sekali nggak ada hubungan apa-apa sama Tiara, apalagi tunangan. Gue nggak pernah ngelakuin apa yang dia bilang. Waktu itu dia cuma-"
Aku menggelengkan kepala, air mata masih mengalir. "Gue gak percaya..." bisikku lirih.
"Please, dengerin gue," pintanya lagi. "Soal dia hamil-"
"Mana ada cowok yang mau ngaku salah!" potongku sinis, tak ingin mendengar alasan lagi.
"Percaya sama gue," desaknya. "Gue sama dia cuma temen, gue juga bingung kenapa waktu dia ngaku tunangan gue. Gue kenal dia sejak pindah di Kanada, dia juga kenal nyokap gue, dia yang emang bantuin gue di sana." Raveno menghela napasnya. "Ceritanya panjang, gue gak bisa cerita lengkapnya sekarang. Tapi sumpah, gue gak pernah ngelakuin itu. Kalau pun gue yang salah, gue pasti tanggung jawab."
Aku masih diam. Perasaan bingung dan terluka berkecamuk dalam diriku. Aku ingin percaya, tapi rasa sakit itu begitu kuat.
"Gue tau lo gak langsung percaya," lanjutnya dengan suara serak, "Tapi gue bakal buktiin, Rin. Setelah anak itu lahir, gue bakal tunjukin kalo dia bukan anak gue."
Dia terdiam sejenak, memandangku dengan tatapan penuh harapan. "I'm sorry. Gue nggak bisa tenang setelah kita berantem. Gue kangen lo, Rin. Gue janji, gue selalu di sini buat lo, buat ngelindungin lo."
Raveno menarikku ke dalam pelukannya lagi dan kali ini aku tak melawan.
Setelah beberapa saat, aku akhirnya berkata pelan, "Gue mau ke rumah sakit."
Raveno mengangguk, memegang kedua pundakku lembut. "Gue anter ya?" ucapnya. Aku hanya mengangguk lemah.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]
Ficțiune adolescenți[PRE-ORDER NOVEL HOME SWEET HOME] Dalam dunia yang penuh luka dan ketidakpastian, Sharin berjuang untuk menemukan cinta di tengah kehampaan keluarganya. Dibesarkan di keluarga yang lebih memuja karier daripada kasih sayang, Sharin tumbuh dalam bayan...
![HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/98867530-64-k384211.jpg)