Aku melempar kerikil-kerikil kecil ke dalam danau, menciptakan gelombang kecil yang bertabrakan. Kuletakkan kakiku di air, dinginnya menusuk kulit, namun menenangkan. Mataku bengkak karena terlalu sering menangis. Rambutku acak-acakan dan pucat pasi, seperti zombie. Setelah mengurung diri berhari-hari, kuputuskan untuk keluar sebentar, walau tubuhku masih lemas dan kepala pening yang tak kunjung hilang. Tapi hal itu tidak sepadan dengan rasa sakit yang mencabik-cabik hatiku karena merindukan Elisa. Di rumah kini terasa lebih sunyi, hanya ada aku, dan bi Ina, orang yang tetap setia menemaniku. Sedangkan Mommy dan Daddy sudah tenggelam dalam kesibukan masing-masing, seolah semuanya hanyalah badai sementara yang berlalu.
Aku menatap langit biru yang bersih, kontras sekali dengan keadaanku yang remuk redam.
"El, gimana rasanya di surga?" gumamku sendiri. "Pasti lebih indah daripada di sini, ya?" tawa getir keluar dari bibirku. Aku menunduk menatap bayanganku di permukaan air, lalu menarik napas panjang, berusaha melawan semua ingatan pahit. Aku tidak ingin berlama-lama di sini, takut ada yang mengenaliku. Aku segera bangkit, memakai kembali topi hitamku dan berjalan menuju mobil.
Aku termenung sejenak di dalam mobil. Saat merogoh saku mencari ponsel, aku baru sadar ponselku hancur akibat emosiku sendiri. Dengan kesal, aku memukul tanganku ke dashboard. "Bodo amatlah!" gumamku, lalu menekan gas, meninggalkan taman itu dan semua kenangan di dalamnya. Berdiam terlalu lama di sana hanya membuatku terjebak dalam bayang-bayang Raveno, sosok yang tak pernah lagi kulihat selama seminggu ini.
Di rumah, kulihat mobil Mommy dan Daddy sudah terparkir di halaman. Aku melangkah lesu masuk ke dalam. baru saja aku mencapai pintu depan, suara gebrakan keras dari dalam mengejutkanku.
BRAAK!
Refleks, aku bergegas masuk, dan lagi-lagi pemandangan yang memuakkan menyambutku, Mommy dan Daddy bertengkar di ruang kerja Daddy.
"Aku tidak mau tahu! Kau batalkan tur konsermu itu atau kita bercerai!" suara Mommy meledak, telunjuknya menunjuk tepat di wajah Daddy. Aku terdiam, berharap semua yang kudengar hanyalah ilusi.
Daddy memijit pelipisnya frustasi. "Kalau aku membatalkannya, agensi akan mengeluarkanku! Kau tahu?" jelasnya sambil menepis tangan Mommy yang menunjuk ke arahnya.
"Kenapa? Kau lebih takut kehilangan kariermu daripada memikirkan keluarga kita?" balas Mommy dengan suara bergetar.
Daddy menggenggam bahu Mommy dengan keras, suaranya bergetar menahan amarah. "Kau kira hanya kau saja yang hancur setelah kehilangan Elisa? Aku juga hancur, Kenzie! Sangat. Tapi, kita tidak bisa selamanya larut dalam kesedihan!"
Aku melihat Mommy mulai menangis. "Oke, kalau itu pilihanmu. Kau memang tidak pernah mengerti perasaanku!" serunya terisak, lalu berjalan keluar dari ruang kerja.
Mommy menghampiriku, meraih lenganku dengan tangan gemetar. "Ayo Sharin, kita pergi dari rumah ini," ajaknya.
Namun, aku menepis tangannya, air mataku mulai mengalir. Daddy berdiri di dekat kami, mencoba menahan tangannya. "Kenzie, tolong dengarkan aku!" katanya. "Kenapa kau tidak pernah mendengar suamimu selesai bicara? Apa kau pernah memahami perasaanku juga? Hah?"
Mommy menoleh sengit. "Itu karena kau egois!" suaranya memecah keheningan menggema di ruangan itu.
Aku tidak tahan lagi. Rasanya dadaku benar-benar ingin meledak. Cukup sudah. Batas kesabaranku sudah habis. Aku menatap mereka penuh kebencian yang semakin menggunung.
"SHUT UP!" teriakku. Keduanya menoleh menatapku, terdiam. "Kalian tidak pernah berubah, bahkan setelah Elisa pergi! Lebih baik aku yang pergi dari sini!" seruku kemudian melangkah cepat ke pintu depan.
"Sharin!" Daddy mencoba menghentikanku, mencengkeram lenganku. "Mau ke mana kamu?" tanyanya dengan nada tegas.
Namun aku memberontak, berusaha melepas cekalannya yang kuat. "Lepas, Dad! Aku benci kalian!" teriakku, air mata mengalir deras.
Aku terus berontak berusaha melepas cekalannya, hingga tanganku terlepas dan tanpa sengaja menampar wajah Daddy. Ia terdiam, terkejut. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari keluar, masuk ke mobil, dan menyalakan mesin dengan tangisan yang kian keras.
Di belakang, Mommy dan Daddy tampak mencoba mengejarku, tapi sudah terlambat. Aku menginjak pedal gas dan memacu mobil kencang, tak peduli ke mana arahku pergi.
"Maafin kakak, El," gumamku lirih, disela-sela tangisan.
Kecepatanku semakin tinggi, tapi aku sudah tidak peduli. Aku terlalu lelah dengan semua ini. Haruskah aku mati? Pikiran itu berputar dalam kepalaku, semakin kuat, menguasai seluruh benakku. Mungkin dengan mati aku akan menemukan ketenangan.
Aku menginjak gas semakin kencang dan tak terarah, menantang maut yang seolah siap menyambutku kapan saja.
"Mom... Dad... you'll live to regret it..."
KAMU SEDANG MEMBACA
HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]
Teen Fiction[PRE-ORDER NOVEL HOME SWEET HOME] Dalam dunia yang penuh luka dan ketidakpastian, Sharin berjuang untuk menemukan cinta di tengah kehampaan keluarganya. Dibesarkan di keluarga yang lebih memuja karier daripada kasih sayang, Sharin tumbuh dalam bayan...
![HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/98867530-64-k384211.jpg)