BAB 9

9.3K 414 2
                                        

Have I known you,

20 seconds or 20 years?

~ Taylor Swift ~

"Dad, please, jangan kirim aku luar negeri dong." Aku merengek memohon padanya. Aku tahu Daddy melihatnya, namun wajahnya tetap datar, penuh ketegasan yang mengintimidasi.

"Keputusan Daddy sudah bulat!" jawabnya mantap. Suara itu tegas, matanya dingin seperti es yang sulit ditembus oleh api sekalipun.

"Mom, please?" Aku beralih pada Mommy, dengan harapan setidaknya ia bisa membujuk Daddy. Aku mencari harapan dalam tatapan matanya, tapi Mommy hanya menatapku penuh simpati, kemudian menggelengkan pelan. Tidak ada jalan keluar.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur napas dan menyusun kata-kata yang bisa meluluhkan mereka. "Dad, please! Aku janji gak bakal ulangin lagi," ujarku memelas, mencoba merayu dengan segenap tenaga yang tersisa.

Daddy hanya mendengus kecil, seolah tak ada satu pun dari kata-kataku yang mampu menggerakkan hatinya. Rasanya seperti bicara dengan dinding-dinding beton yang keras.

"Oke, kalo emang Daddy tetap pindahin aku ke luar negeri, aku gak bakal mau makan, gak mau belajar, gak mau nikah!" ucapku ngawur, membuat Daddy tersedak makanan yang masih ia kunyah, sementara Mommy tampak menahan tawanya. Tanpa berpikir panjang aku berbalik dan langsung masuk ke kamar, menutup pintu dengan keras.

Daddy berdiri dari kursi. "Sharin!" panggilnya. Tapi kali ini, aku tak peduli.

"Bodo amat!" aku berteriak balik dari dalam kamar. Aku sudah memutuskan, ini adalah perlawanan terakhirku.

***

Keesokan harinya, aku sudah membulatkan tekad untuk tidak makan sampai Daddy membatalkan rencananya. Rasa kesalku masih membara, dan aku tidak akan membiarkan mereka menang dengan mudah. Saat turun ke ruang makan, aroma sarapan menyeruak, menggoda indera penciumanku. Tapi aku tetap teguh, seolah rasa lapar itu hanya bayangan. Aku menarik napas dalam-dalam, menyiapkan diri untuk melewati meja tanpa menyentuh apapun.

"Good morning, sayang," sapa Mommy dengan senyum hangatnya.

Aku hanya membalas dengan senyum singkat, tanpa berkata apa pun. Langkahku berlanjut menuju pintu, berpura-pura tak mendengar suara perutku sendiri yang mulai protes.

Daddy duduk di meja makan, seolah semuanya baik-baik saja. "Good morning! Sini makan dulu," ajak Daddy dengan suara ceria, seolah melupakan perdebatan semalam.

'Ingat Sharin kau tidak boleh tergiur oleh makanan itu' gumamku dalam hati. Aku mempercepat langkah, berusaha mengabaikan wangi sarapan yang semakin membuat tekadku goyah.

"Makan dulu, sayang. Daddy tahu kamu masih ngambek, tapi itu nggak akan bisa merubah keputusan Daddy buat kirim kamu ke sekolah Jerman," ujar Daddy dengan nada santai, seolah percakapan kemarin hanyalah angin lalu.

Tunggu sebentar? Apa aku tidak salah dengar lagi?

Aku berhenti di ambang pintu, memutar tubuh dan melotot tajam. "Astaga, kemaren Daddy bilang ke London, sekarang ke Jerman, besok kemana lagi?!" sergahku penuh emosi, rasanya kesabaranku sudah habis.

Daddy hanya tertawa kecil, ekspresinya tenang seakan menikmati kekesalanku. "Lihat saja nanti," jawabnya sambil tersenyum misterius, menambah kobaran pada amarahku.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku membuka pintu dan keluar. Suara Mommy yang memanggil namaku sayup-sayup terdengar, tapi aku terus berjalan tanpa menoleh. Mereka tidak mengerti, aku bukan sekadar anak kecil yang bisa diatur seenaknya.

HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang