Aku mengetuk pintu rumah Raveno keras dengan tidak sabar. "Rav! Buka!" seruku, tapi tidak ada jawaban. Keheningan rumah membuat hatiku berdebar cemas, dan aku menggigit bibir, berusaha menahan rasa khawatir yang perlahan merayap naik.
Sharin mendengus frustasi, lalu tanpa pikir panjang mencoba membuka pintu. Anehnya, pintu itu tak terkunci. Keningku mengernyit, namun aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aku melangkah masuk. Sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Jantungku semakin berdetak cepat saat aku berjalan menuju kamarnya, berharap dia ada di sana.
Namun tiba-tiba, sama-samar, aku mendengar suara gemericik air dan suara yang tak asing dari kamar mandi. Aku berdecak kesal.
"Pantesan aja dipanggil gak denger! Kebiasaan karaoke di kamar mandi!" omelku sendiri, bergumam sambil menggelengkan kepala. Suara Raveno yang fals terdengar jelas, seolah tak sadar bahwa seseorang telah memasuki kamarnya.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Terlihat rapi, seperti biasanya. Lalu pandanganku terhenti pada sebuah bingkai foto yang terpajang di meja kerjanya. Foto Raveno bersama Tante Reyna. Di foto itu, senyum mereka tampak begitu bahagia. Hatiku mencelos. Benarkah tante Reyna sudah tiada?
Pikiranku melayang, bertanya-tanya, hingga pandanganku beralih dengan map coklat yang menyembul di laci meja Raveno. Rasa penasaran mendorong tanganku untuk membukanya. Setelah menyingkirkan sedikit keraguan, aku akhirnya menarik map itu keluar. Di dalamnya, ada sebuah surat. Dengan tangan gemetar, aku mulai membacanya.
Sebuah surat diagnosis.
Keningku berkerut, hatiku dipenuhi rasa tak nyaman, sebelum akhirnya mataku membelalak lebar. Nama yang tertulis di sana membuat dunia di sekitarku serasa runtuh. Raveno Alexander William.. gagal ginjal.. operasi transplantasi..
Aku menutup mulutku dengan tanganku, tak bisa menahan isak yang tiba-tiba keluar dari mulutku. Rasanya seperti ditikam dari belakang. Semua ini, penyakitnya, operasinya, dia menyembunyikannya dariku.
Pintu kamar mandi di kamarnya tiba-tiba terbuka, membuatku tersentak. Raveno keluar dengan rambut basah dan baju kimono yang ia pakai. Matanya membelalak saat melihatku di sana, berdiri dengan wajah penuh air mata.
Aku hanya bisa menatapnya dengan pilu. Pandangannya segera beralih ketika melihat lembaran kertas tersebut di tanganku. Dengan gerakan cepat, dia merebut kertas dari tanganku dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Wajahnya tampak begitu panik.
"Kapan lo dateng?" tanya Raveno, suaranya terdengar gugup. Dia tak berani menatapku langsung.
Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, menahan rasa sesak dengan fakta baru yang kutemukan. Dengan cepat, aku menyingkap kimono ke samping. Benar saja, di samping perutnya ada bekas jahitan yang memanjang hampir ke punggungnya. Napasku tersendat.
"Sharin..." Raveno menepis tanganku dengan lembut, suaranya serak.
Aku menatapnya, merasa marah, sakit, kecewa semua bercampur aduk. "Kenapa lo gak cerita kalo lo sakit?" tanyaku dengan suara bergetar, hampir tertahan oleh isak yang semakin deras.
Raveno tampak kebingungan. Dia mencoba mendekat, tapi aku mundur selangkah, tidak ingin dia mendekat. "Sharin, dengerin..." dia mencoba berbicara, namun aku memotongnya cepat.
"Lo juga gak pernah bilang kalo tante Reyna udah gak ada?" ucapku lagi.
Wajah Raveno kembali menegang. "Lo tau dari mana?" tanyanya dengan suara lemah, nyaris tak terdengar.
Aku menatapnya dengan tatapan penuh tuntutan. "Jelasin semuanya sekarang!" seruku, suaraku bergetar, penuh dengan emosi yang tak bisa kubendung lagi.
Raveno mengusap wajahnya kasar, tampak bingung dan tertekan. "Nanti, gue jela-"
"SEKARANG!" aku memotongnya dengan tangisan yang tak bisa lagi aku bendung.
Dia menatapku dalam diam, lalu mengangguk. "Oke, oke. Gue jelasin semuanya, lo tunggu di ruang tamu dulu, oke. Gue mau ganti baju,"
Raveno memegang kedua bahuku menuntunku untuk keluar kamar lalu ia menutup pintunya.
Aku terduduk lemas di sofa. Air mataku tak kunjung berhenti mengalir. Perasaan campur aduk terus menghantamku.
'Kenapa, Rav? Selama ini lo anggep gue apa? Kenapa lo sakit aja gue gatau?' batinku.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]
Jugendliteratur[PRE-ORDER NOVEL HOME SWEET HOME] Dalam dunia yang penuh luka dan ketidakpastian, Sharin berjuang untuk menemukan cinta di tengah kehampaan keluarganya. Dibesarkan di keluarga yang lebih memuja karier daripada kasih sayang, Sharin tumbuh dalam bayan...
![HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/98867530-64-k384211.jpg)