"Saat itu lo berteriak minta tolong, memohon sama Tuhan ada malaikat yang nyelametin elo. Dan saat itu juga gue dateng buat bantuin elo. Mungkin gue malaikatnya."
Aku terhenti di sebuah bangku di pinggir jalan, bayang-bayang lampu jalan menyelimuti tubuhku. Malam sudah hampir larut, dan aku tak tahu di mana aku berada. Tapi itu bukan hal besar bagiku saat ini. aku memandang ke jalan yang sepi, tetapi pikiranku kosong. Pulang? Entah bagaimana nanti, aku tidak peduli. Yang jelas, sekarang aku hanya ingin melupakan segalanya.
Tiba-tiba, ada tangan yang menyentuh pundakku. Aku terlonjak, sontak berbalik.
"Hai?" suara seorang perempuan terdengar, lalu ia duduk di sampingku tanpa diundang. Usinya mungkin seumuranku, tapi penampilannya... sangat berbeda. Rok mini dan pakaian ketat yang dikenakannya jelas memancarkan kesan liar. Aroma alkohol tercium begitu kuat dari tubuhnya.
"Lo siapa?" aku bergeser, menjauh sedikit.
"Jangan takut," ujarnya santai sambil menatapku dari atas sampai bawah. "Lo Sharin, kan?"
Jantungku berdegup kencang. Siapa dia? Dan bagaimana dia tahu namaku?
"Kok lo tau nama gue?" tanyaku, berusaha menahan kegelisahan yang mulai merayap.
"Lo kan anak idola gue, gue juga pernah liat foto lo di instagramnya," jawabnya santai, tapi entah kenapa nadanya terdengar serius. Sorot matanya tampak menyembunyikan sesuatu yang ingin ia katakan, namun ditahannya.
"Maksud lo... Javier Collins?" nama itu keluar begitu saja dari bibirku.
Dia mengangguk. "Ya!
Aku terdiam, mencoba mencerna maksud ucapannya.
"Oh ya, kenalin, nama gue Sarah," lanjutnya, menawarkan tangan untuk berjabat.
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya menyambutnya. "Sharin."
Kami berjabat tangan singkat, namun pikiranku masih dipenuhi pertanyaan.
"Lu ngapain disini?" tanyanya lagi.
"Gabut aja," ucap ku singkat.
"Lu harus pulang dari sini," ucapnya serius. "Di sini gak aman buat gadis polos kayak lo."
Aku menatapnya dengan bingung. "Maksud lo?"
Sarah mendesah panjang, seolah aku benar-benar tidak mengerti. "Tempat ini bahaya buat lo. Nggak liat di sana, banyak cowok mabok dan gak jelas."
Sebelum sempat aku membalas perkataannya, tiba-tiba dua orang laki-laki asing mendekat ke arah kami. Tubuh mereka besar, penuh dengan tato di kedua lengannya, dan tatapan mereka segera tertuju pada Sarah.
"Sarah, lo ngapain di sini? Bos udah nunggu!" ucap salah satu dari mereka dengan nada yang tidak bersahabat.
"Lebih baik lo cepatan pergi dari sini," bisik Sarah cepat kepadaku.
Aku berdiri, tapi belum sempat melangkah, salah satu laki-laki itu menatapku dengan mata penuh nafsu, seolah menemukan mangsa untuk disantap. "Siapa cewek ini? Temen lo?" tanyanya, sambil berjalan mendekatiku.
Jantungku berdegup lebih cepat. Aku mundur perlahan.
"Dia anak baru di sini?" tanya laki-laki yang lebih kecil, mendekat lebih agresif. Tatapan matanya membuat bulu kudukku berdiri.
"Sarah, temen lo boleh juga nih," ucap laki-laki kecil itu, mengabaikan peringatan Sarah. Tubuhnya mendekat semakin dekat ke arahku.
Tanpa pikir panjang, Sarah berdiri di depanku, menghalangi langkah mereka. "Jangan sentuh dia!"
KAMU SEDANG MEMBACA
HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]
Teen Fiction[PRE-ORDER NOVEL HOME SWEET HOME] Dalam dunia yang penuh luka dan ketidakpastian, Sharin berjuang untuk menemukan cinta di tengah kehampaan keluarganya. Dibesarkan di keluarga yang lebih memuja karier daripada kasih sayang, Sharin tumbuh dalam bayan...
![HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/98867530-64-k384211.jpg)