BAB 14

7.9K 360 4
                                        

Pagi itu, matahari menyelinap malu-malu di balik awan tipis, seakan menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar menyinari langit. Jam pelajaran olahraga yang seharusnya berlangsung di luar ruangan kali ini digantikan dengan pembahasan materi di kelas, mengingat ujian tengah semester sudah di depan mata. Aku sedang berjalan menuju kelas ketika sebuah suara yang familier memecah lamunanku.

"Nanti gue ngajar di kelas lo," ujar Raveno, sambil berjalan di sampingku dengan langkah santai.

Aku menoleh, "Emang lu bisa ngajar materi, ya?" tanyaku dengan nada meledek.

Dia langsung membalas dengan tawa kecil,"Yee, ngeremehin ya, lo?" ucap Raveno sambil mengacak-acak rambutku, membuatku sedikit tersentak.

"Ck, berantakan rambut gue, tai!" dercakku cepat-cepat menepis tangannya.

Raveno memonyongkan bibirnya. "Gak sopan lu sama guru!"

"Dih, ogah juga gue punya guru kayak lo!" balasku.

Raveno terkekeh. "Ya udah, masuk kelas sana, ngapain diem di parkiran mulu!" ucapnya menyenggol bahuku.

Aku melirik ke arahnya sambil memasang wajah datar, "Iya ni lagi mau jalan. Udah sana ke ruangan lo, ngapain diem di parkiran mulu!" balasku, meniru ucapannya dengan nada meledek.

"Tunggu gue dikelas lu!" ucap Raveno setengah berlari.

KRINGGG!!!

Bel tanda masuk sekolah berbunyi nyaring. Aku berjalan masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkuku, menunggu pelajaran dimulai. Tak lama kemudian, Raveno memasuki kelas dengan gaya khasnya yang percaya diri.

"Good morning, guys!" sapanya dengan suara lantang, langsung menarik perhatian seisi kelas.

Aku menggelengkan kepala dengan sudut bibir terangkat, membentuk senyum yang dipenuhi cemoohan. Sudut mataku menangkap Selly yang sibuk mempercantik diri. Dia menaburkan bedak di wajahnya, seolah sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang lebih dari sekadar pelajaran.

"Kita akan mulai mempelajari materi baru, bisa kalian buka halaman 69!" ucap Raveno, membuka bukunya dan berjalan ke depan papan tulis.

"Halaman 69? Niat amat bikin halamannya," gumam Billa yang ada di sampingku, sambil menggaruk hidungnya.

Sedangkan pandanganku kembali melirik ke arah Selly yang tampaknya sedang menambahkan sentuhan akhir pada dandanannya. "Shh, liat tuh ikan teri, najisun tralala!" bisikku jijik ke arah Billa.

"Ganjen bet!" cibir Billa.

Aku hanya mengangguk setuju, merasa geli sendiri. Sementara itu, Raveno mulai menjelaskan materi dengan penuh semangat. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar mantap. Di tengah penjelasan, tiba-tiba tangan Selly terangkat tinggi.

"Kak, eh, Coach!" katanya dengan nada menggoda, membuatku otomatis bergidik.

"Kak? Eww..." gumamku pelan, merasa geli dengan sebutan itu.

Raveno melirik ke arah Selly dengan senyum professional, "Ya kamu, mau tanya apa?"

'Diladenin lagi!' dalam hati aku mendesah. Kenapa aku merasa terusik? Entah ini cemburu atau hanya kesal belaka. Yang jelas aku tidak suka melihat Raveno meladeni si Selly yang super duper genit itu. Ingat! Bukan cemburu!

"Hmm, aku belum ngerti teknik yang...."

Sebelum dia sempat melanjutkan, ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku melihat ke layer, panggilan masuk dari nomor yang penting.

"Rav, eh! Coach, maaf mau angkat telepon!" kataku buru-buru, memotong ucapan Selly dengan sengaja.

"Silahkan kamu angkat di luar!" jawab Raveno tegas, layaknya guru-guru killer.

HOME SWEET HOME [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang