2. Gerimis dan Sepasang Mata

103 4 18
                                    


"Ah... Safe!" gumam Widi sembari menghempaskan dirinya ke tempat duduknya.

"Tumben mahasiswa teladan hampir telat." Goda teman Widi.

"Ketiduran, Van."

"Begadang?"

"Dikit. Tadi malam maraton nonton Yongpal," jawab Widi sambil tersenyum lebar kepada teman nya Ivan.

"Ya elaahh, gara-gara drama Korea to!" Ivan yang duduk dibelakang Widi hanya bisa menggelengkan kepala. Pembicaraan mereka terhenti karena tiba-tiba Pak Hendra masuk dan berdiri di depan kelas.

"Selamat pagi, silahkan kumpulkan tugas minggu kemaren di meja di ujung sana." Pak Hendra menunjuk meja yang dimaksud dengan lirikan matanya.

Widi menggeledah tas nya dengan panik karena tidak bisa menemukan tugas yang sudah Ia kerjakan dimalam sebelumnya. Iapun sadar bahwa tugasnya ada di meja belajar di kamar kost nya dan Ia lupa memasukkan tugas tersebut ke dalam tas karena terburu-buru.

"untuk yang tidak mengumpulkan tugasnya sekarang. Saya akan menunggu sampai jam 5 sore. Apabila tugas kalian belum ada di meja saya jam 5 sore, maka kalian tidak boleh ikut midtest mata kuliah saya." Sambung Pak Hendra sambil mengamati setiap mahasiswa yang hadir, seakan-akan tahu beberapa orang belum menyelesaikan tugasnya. "Dan sebagai hukuman karena terlambat mengumpulkan tugas, kalian harus membuat ringkasan bab 20, dan berikan 5 contoh real untuk masing-masing konflik yang disebutkan di bab 20 beserta tahun terjadinya konflik tersebut. Kalian hanya boleh mengambil contoh konflik dari tahun 1990 sampai 2016." Para mahasiswa yang belum mengumpulkan tugas hanya bisa tercengang dengan mulut menganga.

"Good luck!" bisik Ivan yang bisa menebak bahwa Widi tidak bisa mengumpulkan tugas nya dari caranya mengacak-ngacak tas nya.

Jam 3 sore, semua kelas Widi sudah selesai. Dengan dibonceng Ivan, Ia pulang ke tempat kost nya untuk mengambil tugas yang tertinggal kemudian kembali lagi ke kampus, tepatnya ke perpustakaan, untuk menyelesaikan tugas tambahan. Ketika Widi sampai di perpustakaan, beberapa teman yang senasib dengan Widi sudah berkumpul. Sebagian sudah mulai merangkum dan sebagian lagi sedang berdiskusi tentang contoh konflik yang harus mereka sertakan dalam tulisan nya. Dengan sedikit kekompakan dan kerjasama akhirnya Widi dan teman-teman berhasil menyelesaikan tugas mereka dan mengumpulkan nya 10 menit sebelum jam 5.

Tenaga dan pikiran Widi telah habis terkuras oleh tugas dari Pak Hendra. Dengan perut keroncongan Widi pun berlari ke warteg di depan kampus.

Selesai makan, Widi menatap langit yang sudah digantungi awan hitam. Jam baru menunjukkan jam 5:30 sore tapi hari nya sudah gelap. Suara gemuruh dari langit sudah mulai terdengar. Nggak bawa payung lagi, gerutu Widi dalam hati. Ia pun memutuskan untuk mengambil jalan pintas, yaitu gang kecil yang dilalui nya tadi pagi. Jika berlari, Widi bisa sampai di tempat kost dalam waktu kurang lebih lima menit tapi dengan kondisi kekenyangan, Widi memutuskan untuk berjalan kaki saja. Perjalanan nya dari kampus ke tempat kost akan memakan waktu kurang lebih 10 menit.

Widi mempercepat langkah kaki nya ketika memasuki gang kecil. Tidak ada seorang pun yang lewat di gang tersebut. Lampu jalan yang menempel di tembok pembatas antara sungai dan gang tersebut sudah menyala. Setidaknya Widi bisa melihat sekeliling nya dengan jelas. Sepanjang perjalanannya Widi mengamati tiga rumah yang dibangun agak berjauhan satu sama lain. Hanya 1 rumah yang lampunya menyala, dua rumah yang lain masih dalam keadaan gelap.

Widi hampir mencapai ujung gang ketika Ia dikagetkan oleh petir yang menyambar. Widi menengadahkan kepalanya. Ia bisa melihat kilat menghiasi awan gelap di langit. Sesaat kemudian ia merasakan sesuatu jatuh di pipinya.

Air.

Gerimis sudah mulai turun. Widi pun mulai memacu langkah nya, berlari kecil agar lebih cepat sampai. Keluar dari gang itu, Widi berbelok ke kiri. Namun, hanya setelah tiga langkah kaki nya terhenti.

Di titik itu, satu titik yang selalu menarik perhatian Widi setiap kali ia melewati tempat itu,di ujung jalan, di pinggir sungai dekat pohon yang tumbuh di depan jalan yang ada di seberang gang kecil, sepintas Widi melihat sepasang mata yang menatap langsung padanya.

Tiba-tiba udara terasa semakin dingin. Telinga Widi tidak bisa menangkap suara apapun selain suara tetesan air dari langit yang jatuh ke tanah dan atap bangunan yang ada di sekitarnya. Walaupun ia belum membalikkan badan nya, Widi bisa merasakan tatapan mata tertuju pada punggung nya.

Widi terdiam mematung di tempatnya. Ia bisa merasakan rambut-rambut kecil yang ada di tubuhnya berdiri. Bukan karena dingin, tapi karena sepasang mata yang menatapnya dari sudut kanan di belakang nya.

Berbalik Widi.

Berbalik Widi.

Setelah memejamkan mata nya untuk mengumpulkan keberanian, Widi pun membalikkan badannya.    

DROPLETS: Perempuan di Ujung JalanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang