Tidak ada seorang pun yang berdiri di tempat itu. Jalanan benar-benar sepi. Lampu jalan yang menggantung di sisi kanan bawah papan nama Jl. Cokroaminoto membuat pemandangan di sekitar pohon dan di bagian depan Jl. Cokroamonoto terlihat jelas. Tidak ada seorangpun yang masuk ataupun keluar dari jalan tersebut.
Mungkin salah lihat. Bisik Widi dalam hati untuk menghibur diri. Untuk seorang mahasiswa yang berpikiran rasional, Otak Widi menolak percaya pada sesuatu yang tidak masuk akal walaupun hati nya berkata lain.
Suara gemuruh yang mulai terdengar lagi menyadarkan Widi dan membuat nya berlari ke tempat kostnya.
**
Widi baru saja selesai mengganti pakaian nya yang basah karena kehujanan dan memutuskan untuk menikmati secangkir coklat panas sambil menonton TV di ruang tamu tempat kost nya. Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor memasuki pekarangan. Selang beberapa saat, dua kepala mulai tersebul dari pintu balik masuk.
"Assalamu'alaikum." Ucap Vina dan Tini secara bersamaan. Vina dan Tini adalah teman kost yang baru dikenal Widi sejak dua minggu yang lalu, saat Ia baru pindah ke tempat kost yang ditinggalinya sekarang. Vina adalah mahasiswa semester satu di kampus yang sama dengan Widi namun berbeda jurusan sedangkan Tini adalah karyawan di sebuah pusat perbelanjaan.
"Wa'alaikum salam. Mandi di jalan Vin?" Tanya Widi sambil tersenyum jahil ke arah teman nya Vina yang kebasahan.
"Iya mba, biar praktis. Jadi nggak perlu mandi lagi!" seloroh Vina sambil tertawa. Ia pun berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kamar nya.
"Sudah lama pulang, Wid?" Tanya Tini yang sedari tadi sibuk merapikan rambut nya yang acak-acakan dengan jari nya setelah melepaskan helm nya yang basah.
"Baru nyampe juga, Mba. Habis ganti baju langsung nyantai di sini."
"Naik apa tadi?" Tanya Tini yang tahu bahwa Widi tidak berani mengendarai motor.
"Jalan... setengah lari sih, he." Widi tersenyum kepada Tini yang sudah duduk sebelah kirinya.
"Jalan? Pas dari kampus belum hujan?"
"Belum, pas di kampus masih mendung-mendung aja. Tadi aku lewat gang kecil yang di ujung jalan itu biar cepat sampai."
"Gang kecil yang diseberang Jl. Cokroaminoto?" Tini menatap Widi.
"Iya." Widi mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya yang sedari tadi tertuju pada TV ke Tini yang sudah duduk di sampingnya.
"Nggak takut, Wid? Kan gang nya sepi."
"Nggak sih. Memang jarang kayanya ada orang yang lewat situ soalnya udah beberapa kali aku lewat situ memang agak sepi."
"Ih, kalo aku sih nggak berani. Dari depan gang nya aja kelihatan sepi. Ga banyak rumah kan di dalam situ?"
"Iya, rumah nya cuma ada tiga, sisanya ya tanah kosong, pohon sama belukar aja."
"Tu kan horor!" Tini bergidik, "mending jangan lewat situ deh, Wid. Kalo bisa muter aja lewat depan. Jauh dikit nggak apa-apa lah, dari pada nanti kamu diculik orang gimana? Gang nya sepi gitu, kalo kamu ada yang ganggu kamu mau minta tolong sama siapa?" Tini menatap Widi dengan serius.
Widi melemparkan senyuman kecil kepada temannya itu, "Iya, Mba. Tadi kepepet mau hujan. Biasanya juga lewat depan."
"Tapi katanya yang beneran serem itu yang di pinggir sungai, samping pohon di depan Jl. Cokroaminoto." Sambung Tini yang sudah mengalihkan pandangan nya ke TV.
Widi teringat dengan sepasang mata yang dilihat nya tepat di tempat yang barusan di sebutkan oleh teman nya. Namun, dari pada bercerita, Widi lebih memilih mencari tahu lebih dalam tentang tempat itu.
"Kenapa dibilang serem, Mba?"
"Kurang tau juga. Aku denger itu dari tetangga sebelah. Pas pagi mau nyalain motor, si ibu ngobrol sama tetangga-tetangga yang lain deket pagar kita ini. Katanya si ibu suka merinding kalo lewat situ, trus yang lain pada ngomong kalo di situ memang angker. Katanya bisa bikin celaka."
"Celaka gimana?"
"Ga jelas juga. Tapi denger-denger sih warga sini sering liat penampakan di dekat pohon itu. Orang yang liat penampakan itu pasti dapat kecelakaan."
"Mba Tini percaya?" Tanya Widi lagi.
"Dibilang percaya ya nggak juga sih. Cuman, aku orang nya parno-an. Paling males lewat di tempat yang serem-serem." Tini mengusap lengan nya karena Ia sudah mulai merinding. "Kamu nggak percaya?"
"Nggak. Ceria begituan kan biasa nya cuma takhayul doing, Mbak. Mana ada hubungan nya salah lihat sama kecelakaan."Di dalam hatinya, Widi memutuskan untuk menganggap keanehan yang dialami nya dan kesamaan tempat kejadian sebagai sebuah kebetulan.
"Mba Tini dan Widi nggak pernah dengar cerita perempuan di ujung jalan?"

KAMU SEDANG MEMBACA
DROPLETS: Perempuan di Ujung Jalan
Terror(Tamat) HR: #147 in HORROR Widi hampir mencapai ujung gang ketika Ia dikagetkan oleh petir yang menyambar. Widi menengadahkan kepalanya. Ia bisa melihat kilat menghiasi awan gelap di langit. Sesaat kemudian ia merasakan sesuatu jatuh di pipinya. Ai...