Author's note:
DROPLETS: Perempuan di Ujung Jalan sekarang rangking #591 dalam kategori Horror dan sudah dibaca lebih dari 90 kali. Wow,,, that's a record!
Bab ini di dedikasikan untuk KhairunisaFathiah, ara_arsy dan myforever_blue. Terima kasih karena sudah jadi pembaca setia cerita ini dan tentunya untuk komentar dan voting nya. You guys rock!!! :D
Terima kasih juga untuk silent readers yang tidak bisa disebutkan namanya (karena nggak tau siapa :D ) yang sudah mau mampir untuk membaca cerita ini dan memberikan voting.
Selamat membaca!
################
Widi sudah siap untuk berangkat ke kampus tapi ia masih duduk di depan cermin. Setiap kali Widi melihat pantulan wajahnya di cermin, Ia selalu teringat perempuan yang dilihatnya di ujung jalan dan mimpinya tadi malam. Widi bertanya-tanya kenapa wajah perempuan itu sama dengan wajahnya.
Widi menundukkan kepalanya untuk melihat cincin kecil pemberian Ivan yang melingkar di jari kelingking tangan kirinya. Ia pun tersenyum. Dalam kegundahan hati dan pikiran, cincin itu adalah satu dari sedikit hal yang bisa membuat nya tersenyum.
Telepon genggam Widi bergetar.
Satu pesan masuk
Dari: Ivan
Keluar, Wid. Aku di depan pagar.
Senyum Widi semakin lebar. Ia menyambar tas yang ada di atas tempat tidur nya dan melangkah keluar kamar. Ia berpapasan dengan Tini yang mau membuka pintu.
"Udah mau berangkat, Wid? Baru juga jam 8. Kan biasanya pas jam nya udah mepet baru berangkat." Kata Tini yang ingin keluar ke halaman.
Widi hanya tertawa kecil, "Mba Tini tau aja kebiasaan ku. Makanya sekarang lebih awal berangkatnya, biar nggak mepet."
Ketika Tini membuka pintu, Ia melihat Ivan didepan pagar, duduk di atas motornya.
"Oh, ini to alasan nya berangkat lebih awal." Ucap Tini dengan suara sedikit lebih keras, sengaja agar Ivan juga mendengar.
Ivan memalingkan kepalanya ke sumber suara, "Pagi, Mba Tini.... Pagi, Wid."
"Pagi, Van. Mau pacaran pagi-pagi ya?" Goda Tini ke Ivan. Mendengar pertanyaan Tini, wajah Widi memerah.
Ivan hanya tertawa, "mau nyari sarapan dulu, Mba. Di rumah nggak ada makanan."
"Sarapan apa sarapan?" Tini tersenyum jahil. "Kamu udah ngasih cincin masih manggil nama aja ke Widi, nggak romantis banget!"
"Dari sana nya memang nggak romatis, Mba." Jawad Ivan sambil tersenyum. "Ayo, Wid. Berangkat dulu, Mba!"
Ivan dan Widi pun menghilang dari pandangan Tini.
***
Jam 10 pagi
Seorang laki-laki paruh baya berkumis tipis mengetuk pintu rumah Nini Adang yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat kost Widi.
"Masuk, Pak Joko!" kata Nini Adang kepada laki-laki itu sambil terenyum.
"Ndak usah, Ni. Saya di sini saja." Jawab laki-laki yang di panggil pak Joko dengan logat jawa yang kental.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Ini soal anak baru di tempat kost Nini. Kira-kira seminggu yang lalu, saya lihat dia lewat gang kecil."
Senyum Nini Adang hilang.
"Ini kan sudah bulan Nopember, mungkin Nini bisa kasih tau ke anak baru itu supaya jangan lewat situ lagi. Paling tidak untuk bulan ini. Dia kan masih muda, sayang kalau sampai kenapa-napa."
"Pak Joko teh yakin itu anak baru di kost saya?"
"Yakin, Ni." Pak Joko mengangguk. "Saya pernah berpapasan sama dia di depan kost Nini, pas saya pulang dari warung depan."
"Terima kasih banyak Pak Joko, Saya teh lupa kasih tau dia. Nanti sore saya ke kost, ngasih tau dia dan mengingatkan anak-anak yang lain."
"Kalau begitu saya pulang dulu, Ni. Mari!"
***
Jam 2 siang di kampus
"Maaf ya, Wid."
"Nggak papa, Van. Aku bisa kok pulang sendiri." Widi tersenyum ke Ivan.
"Ya sudah, nanti aku sms ya." Dan Ivan pun pergi ke rumah sakit karena salah satu sepupunya mengalami kecelakaan lalu lintas. Widi tidak ikut karena masih ada kelas yang harus diikutinya.
Jam 5 sore, Widi masih di perpustakaan. Ia sedang bersiap-siap untuk pulang. Diluar, hujan deras yang turun dari jam 4 sudah berganti dengan gerimis. Widi mengeluarkan payung lipat dari dalam tas nya dan berjalan keluar.
Widi berjalan mendekati gerbang kampus dengan tangan kanan memegang payung. Ia di kagetkan oleh seorang laki-laki berbaju compang-camping yang langsung menyambar tangan nya. Payung Widi terjatuh. Ia melangkah mundur tapi laki-laki itu malah maju, merentangkan tangannya seakan sengaja ingin menghalangi jalan Widi. Suasana kampus yang selalu sepi di sore hari sama sekali tidak menolong. Warteg di seberang jalan pun tidak buka. Singkatnya, jalan hari itu sepi dan tidak ada yang bisa menolong Widi.
Widi berusaha berlari ke kanan tapi langsung dihadang oleh orang itu. "Haaa... mau kemana ayo," orang itu terkekeh. Deretan giginya yang kuning tampak jelas.
Refleks, Widi langsung berlari ke kiri. Ia sangat ketakutan. Ia hanya ingin pergi dari tempat itu, dari orang itu. Kakinya serasa seperti bergerak sendiri. Ia berbelok, masuk ke gang kecil sambil berteriak minta tolong.
"Aakkhhh!" Widi terjatuh. Wajah nya menyentuh tanah. Ia berusaha untuk bangun, menopang tubuhnya dengan kedua tangan nya.
"AH!" Widi terjatuh lagi karena ada sepasang tangan yang menarik pergelangan kakinya. Widi menendang-nendang berusaha melepaskan diri tapi percuma. Ia diseret oleh tangan itu.
"Tolooonngg! Tolooonggg!" teriak Widi. Ia bisa mendengar suara laki-laki tertawa di sela teriakan nya, kemudian ada suatu yang menghantam belakang kepalanya dan semuanya pun menjadi gelap.
Siapapun orang yang tertawa itu, Ia menyeret Widi ke semak-semak.

KAMU SEDANG MEMBACA
DROPLETS: Perempuan di Ujung Jalan
Horror(Tamat) HR: #147 in HORROR Widi hampir mencapai ujung gang ketika Ia dikagetkan oleh petir yang menyambar. Widi menengadahkan kepalanya. Ia bisa melihat kilat menghiasi awan gelap di langit. Sesaat kemudian ia merasakan sesuatu jatuh di pipinya. Ai...