Tidak lama kemudian, seorang lelaki dengan jaket jeans muda menaiki anak tangga menuju kantin, gayanya tak karuan macam berandal. Rambutnya berantakan, mulutnya tak henti memainkan permen karet, dengan ransel abu dipundak ia melihat arloji hitam yang terlilit di tangannya, lalu dia bergegas mempercepat langkah tapi tanpa merusak image tampan nya.
Semua orang mulai berbisik, termasuk teman-temanku.
"Feeling gue dia deh anak baru itu" kata Tesa memecah hening.
"Ganteng sumpah!" ucap Revia dengan bola mata yang masih mengikuti langkah si anak baru itu.
"Yee lo mah semua cowo juga dibilang cakep" gertakku hingga kita semua tertawa.
※※※
Jam terakhir di sekolah pun sudah berbunyi, ah melelahkan!
"Eh eh, El, lo lagi dapet?" kata Kya.
"Hah? Apaan, ngga ko"
"Ih lo bocor, parah" tegas Tesa.
"Serius lo? Ah sialan, yaudah gue ke toilet dulu"
Aku berlari kecil dengan tergesa seraya menutup rok putih yang sekarang sudah tercoret noda merah dibelakangnya.
Telah selesai. Aku pun keluar dari toilet.
"Yah mana ga bawa jaket lagi" rutuk ku sembari menutup rok bagian belakang yang membuatku resah.
"Nih pake jaket gue"
Dengan santai laki-laki itu memberikan jaketnya.
Aku kaget, dengan cepat aku melihat wajahnya. Benar saja, itu dia.
"Duh gausah, gapapa, makasih" singkatku lalu pergi.
Ntah bagaimana, tapi dia sudah ada didepanku lagi.
Tanpa bicara, dia langsung melilitkan jaketnya dipinggang ku.
"Tutupin darah di rok lo, jijik" ketusnya.
Apa? Jijik? Ah! Aku kira dia akan romantis seperti di drama korea, nyatanya... Sial!
Aku mengerutkan dahi.
"Kalo jijik, terus maksud lo ngasih jaket ke gue apa?" jawabku,kesal.
"Canda kali, yaudah sana balik"
Aku tak habis fikir, dia dengan datarnya menyuruhku pulang.
"Em.. Thanks ya jaketnya"
"Gue balikin besok"
Aku gugup.
Dia hanya tertawa meremehkan.
"Iyalah besok, emang mau lo simpen terus?"
"Oh iya, cuci ya, yang wangi"
Arrgh! Ini cowo nyebelin banget sih.
"Kalo ga ikhlas mending gausah" kataku sambil membuka ikatan jaket.
"Apaan sih, gitu aja marah" tanggap dia dengan menahan tanganku yang akan melepas jaket nya.
"Udah sana"
Aku mendelik. Sekilas menatap matanya, lalu pergi.
Dari kejauhan, teman-temanku terlihat kaget, tergambar jutaan pertanyaan di kepalanya.
Ini pasti tentang jaket.
"Udah jangan banyak tanya, yu cepet balik" ucapku tanpa membiarkan mereka mengintrogasi.
Mereka hanya saling tatap dan terheran.
Sesampainya dirumah, aku langsung mencuci jaket si anak baru itu, dengan detail aku periksa setiap saku dijaketnya, dan ternyata..
Ada secarik kertas di saku kiri, disitu tertera sebuah alamat, dan aku tau alamat itu.. Rumahku.
Otak ku mulai berputar,menebak alasan untuk secarik kertas itu. Kenapa rumah ku? Siapa dia? Ada apa?
Kusimpan kertas itu, lalu aku keluar dari kamar bergegas menuju mesin cuci dekat dapur, saat aku menuruni anak tangga, tak sengaja aku mendengar percakapan mama dan papa di telepon.
"Jadi hari ini Bara tidur di hotel dulu, pah?"
Bara? Siapa?
"Oh ya udah, papa baik-baik ya disana" Mama mengakhiri percakapan, dan menutup telepon itu.
"Bara? Siapa ma?" tanyaku.
"Ada deh, nanti kamu juga tau" jawab mama santai.
"Yah mama.. "
Aku melanjutkan niatku untuk mencuci jaket si anak baru.
'Bara? Siapa sih? Jadi penasaran. Eh tapi nama si anak baru siapa ya? Apa jangan-jangan dia itu.. Bara? Ah ngaco gue, masa iya sih'
fikiranku mulai kacau, pertanyaan yang bercabang memenuhi otak ku.
YOU ARE READING
WHO IS MINE? He or Him?
Teen FictionTerjebak di dua hati emang sulit, Ketika kamu sedang mencintai seseorang dalam diam. Ada seseorang yang mencintaimu dengan blak-blakan. Kadang Cinta itu aneh. But, it makes love more beautiful. NUELSIA AFREEN DAMARA. Gadis yang tak pernah menya...
