Buru-buru kulepas jaket miliknya yang masih terpakai di tubuhku, dan kali ini aku yang menghamparkannya di badan Bara.
Aku menarik nafas panjang sebelum memulai menyetir, karena ini adalah kali pertama aku menjalankan mobil di jalanan yang ramai. Tidak lupa aplikasi gps yang telah aku set disimpan di depan, agar aku tidak tersesat dan sampai dirumahnya dengan cepat.
Setelah hampir lima belas menit aku menyetir, akhirnya aku masuk ke wilayah perumahan yang cukup elit.
Aku mengitari wilayah itu mencari-cari rumah dengan nomor B-4, beruntung block Bara termasuk tempat yang cukup dekat dengan portal masuk perumahan tadi. Membuatku lebih mudah menemukan rumahnya.
Aku berhenti di rumah berlantai dua yang menjuntai tinggi, dan halamannya yang cukup luas. Gerbang hitamnya yang setinggi tiga meter terlihat megah. Tak lama seorang bapak-bapak dengan style hitam-hitam khas security menghampiriku.
"Malam, Mbak. Mau cari siapa?"
"Saya temennya Bara, Pak," ucapku sambil mendorong badanku ke belakang, agar sosok Bara terlihat.
"Eh? Den Bara?" Satpam itu terlihat kaget melihat kondisi Bara.
"Tenang, Pak. Saya bukan orang jahat, kok. Bara kayaknya sakit, jadi saya yang nyetir."
Satpam itu masih diam di tempat, melihatku lekat, sambil mengernyit ragu.
"Saya Nuel, Pak. Anak Pak Rama, temennya Om Mahesa."
"Oh atuh saya tau kalo gitu mah. Adiknya mas Nial, ya?"
Aku mengangguk gemas. Bapak ini banyak tanya.
"Alah-alah meuni geulis, Mas Nial nya juga meuni kasép begitu pantes aja adiknya meuni bening kieu geuning," Pak Satpam itu menggeleng sambil tersenyum, "Tunggu ya, Mbak,"
Aku cuma cengar-cengir denger Pak Satpam ngoceh, bukan apa-apa, tapi karena aku nggak ngerti bahasa Sunda, he-he.
Akhirnya Pak Satpam membukakan gerbangnya, dan mempersilahkan aku masuk.
"Makasih, Pak."
Lucu juga ini Pak Satpam. Aku tersenyum geli.
Mobil telah terparkir ditempatnya, aku mencoba membangunkan Bara. Tapi tidak jadi. Aku urungkan lagi niat itu, melihat Bara yang tertidur pulas membuatku tak tega jika harus mengganggunya.
Aku keluar dari mobil dan mulai membopong Bara ke arah pintu rumah. Aku mengetuk-ngetuk pintu cokelat tua yang besar itu, dan sesekali memencet bel.
"Assalamualaikum," beberapa menit menunggu, ibu-ibu paruh baya yang aku duga sebagai pembantu rumah tangga pun membuka pintu.
Wajahnya tersentak melihat Bara,
"Alah, den Bara, kunaon atuh si aden, teh?" nadanya yang bercampur cemas begitu membuatku haru.
Lalu ia sadar dengan kehadiranku,
"Eh, punten, mbak teh siapa, ya?" tanyanya sambil memegang sebelah lengan Bara.
"Saya Nuel, Bi. Adiknya Nial." ucapku mengukit senyum.
"Euleuh-euleuh, ini Mbak Nuel teh, meuni geulis, mangga atuh masuk, Mbak."
YOU ARE READING
WHO IS MINE? He or Him?
Teen FictionTerjebak di dua hati emang sulit, Ketika kamu sedang mencintai seseorang dalam diam. Ada seseorang yang mencintaimu dengan blak-blakan. Kadang Cinta itu aneh. But, it makes love more beautiful. NUELSIA AFREEN DAMARA. Gadis yang tak pernah menya...
