SIAL VS UNTUNG

55 15 5
                                        

※※※

"Nueeeeeel"
Haduh, alarm ku yang tak pernah bisa mati sudah menyala. Artinya, aku kesiangan.
"Iya iya bentar ma"
Aku mendecak,lalu melihat jam di meja samping kasur ku.
What? Jam 7 kurang 5?
Tidakkkkkk.

Secepat kilat aku bersiap menuju sekolah,
"Ma, ka Nial mana?"

"Dia udah pergi sayang, katanya kamunya lama sih"

"Yahh, jadi El pergi gimana dong Ma?" keluh ku panik.

"Mama udah pesenin taxi, udah cepet sana, ini sarapanya bawa, sarapan di mobil aja"
Aku berlari ke depan, untung saja mama pengertian. Taxi sudah kudapati.

Feeling ku, hari ini sial.

Benar saja, sampai sekolah gerbang sudah ditutup. Aku keluar taxi dengan tergesa.
Tapi, apa boleh buat, gerbang benar-benar dikunci.

Tiba-tiba seseorang menarik tanganku, membawaku ke pinggir dinding sekolah.

"Naik" perintahnya.
Aku hanya menganga melihat dia.

Dia memutar bola matanya.
"Gue bilang naik, lo mau sekolah gak?"

"Lo gila? Gue kan pake rok,masa iya naik tembok,mana gak ada tangga lagi"

"Banyak omong, naik pundak gue"
"Hah?"
"Cepet! Buang-buang waktu!"
"Cowo modus!" gertak ku.
"Bawel,buruan!"
Aku kalah,dan akhirnya aku naik ke pundaknya. Aku bersyukur tapi kesal juga.
Dia merapihkan bajunya, begitupun aku.
"Thanks" kataku dengan nada malas.

Dia cuma melihatku sekilas, lalu pergi.
Aku melihat punggung nya yang berlalu.

'Dia nolongin gue buat yang kedua kali'

Dan, aku lupa! Ini pelajaran Bu Sari, kelas fisika.
Sial.

※※※

"El, lo gila ya? Untung aja tadi bu Sari gak masuk kelas!" kata Revia.
"Parah lo bener-bener, gue kira lo gak akan masuk" timpal Kya.
"Tapi, kok lo bisa masuk? Kan gerbang udah pasti dikunci?" tanya Tesa.
Aku tak menjawab. Hanya membalasnya dengam senyum, teringat dia, si anak baru.
Teman-temanku terheran, mereka saling pandang.

"Eh, lo tau gak si murid baru kelas apa?" kata ku. Kya memejamkan mata, seolah sedang mengingat.

"Emmm kalo ga salah, XI IPA 1!" lantang nya dan langsung membuka mata.
"E buset, kaget gue" sontak Revia.

Aku hanya mengangguk. Lalu pamit.
"Gue ke kelas dulu ya bentaran, ambil jaket"
Seraya pergi.

"Jaket?" heran Tesa sambil mengerutkan dahinya.
"Jangan-jangan... " Revia menduga-duga.
"Jaket yang kemaren Nuel pake itu...." timpal Kya.

"JAKET ANAK BARU!!!" Mereka histeris.

Aku cepat-cepat mengambil jaket di kelas, takut ketiga temanku memergoki.
Aku pergi menuju kelas XI IPA I, sambil menenteng jaket jeans muda yang kini bau dengan wangi khas ku.
Sesampainya, aku mengintip ke kelas, tapi tidak terlihat sedikit pun batang hidung si murid baru. Aku berbalik, lalu berjalan menuruni anak tangga, beruntung, aku bertemu dengan dia.
Dia terlihat kaget. Begitu juga aku.

Tunggu....
Saat ini dia begitu Tampan, keringatnya mengarlir melewati pelipis mata, halisnya yang tebal basah. Hidungnya yang kokoh penuh dengan cipratan keringat. Ah!

"Woy" katanya.
Aku buyar.
"Eh ini, gue mau balikin ini"
Kusodorkan jaket.
Dia langsung mengambilnya, lalu merogoh saku jaket itu.
"Kertasnya mana?"
"Kertas apaan?"
"Jangan bilang, lo cuci!?"
"Apaan sih! Gue ga ngerti"
"Lo nemu kertas ga di jaket gue pas mau lo cuci?" Dia panik
"Nggak tau, lupa" kataku santai.
Dia mendecak kesal.
"Ahh! Kertas itu idup gue!" dia membentak ku, dan pergi dengan sedikit berlari menaiki anak tangga.

WHO IS MINE? He or Him?Stories to obsess over. Discover now