PENGHUNI BARU

37 4 0
                                        

Paginya aku bergegas ke sekolah, tidak seperti biasanya yang sedikit 'malas'. Hari ini aku penuh semangat.

"Pagi Ma, Pagi Pah.. Duh papa, El kangen banget tau!" dengan manjanya aku peluk Papa dari belakang. Papa Damara.

"Halo sayang, baru juga ditinggal satu minggu sudah makin cantik saja nih anak Papa.. "

"Iya dong, anak siapa dulu.. Papa Damar muah. " kataku sambil mencium pipi Papa.

"Pagi, Ma. Eh ka Nial mana? Kok belum keliatan?"

"Tumben banget kamu nyamperin Mama ke dapur? Kayanya lagi seneng banget?"
Mama membalikkan badan menghadap padaku. Dengan wajah sedikit agak meledek.

"Apaan sih Mama, biasa aja kok." aku mulai malu-malu—kucing.

"Yaudah deh. Yang penting anak Mama seneng! Gemes deh kalo kamu lagi seneng gini" Mama mencubit kedua pipiku pelan.
Aku hanya mengulum senyum malu.

Tapi, aku se-bahagia ini. Karena apa?

"Em, Ka Nial mana ya? Kok belum turun juga?"
Aku memandangi lantai atas, dan sesekali mencuri pandang, melihat kamar Ka Nial—waktu dulu. Yang sekarang adalah kamar Bara.

"Kayanya masih siap-siap." sahut Mama.
"Oh.. " jawabku dengan mata yang masih mengitari sekeliling lantai atas.
Aku duduk di meja makan, bersama Papa.

"El, kamu sudah tau kan anaknya Om Mahesa?"

Aku menaik turunkan kepala, "Udah Pah.."

"Bagus kalo begitu. Oh ya, ngomong-ngomong kemana Bara? Sudah jam segini kok belum turun?"
Aku mengedikkan bahu.
Dari arah tangga terlihat Ka Nial sedang turun seraya membenarkan rambut jambulnya.

"Pagi semua.. "

"Lho, Al. Bara mana ya? Kok belum turun juga.."
kata Mama.
"Coba kamu liat, jangan-jangan belum bangun."
Lanjutnya.

"Oke" Ka Nial berbalik, kembali menaiki anak tangga.

Tapi entah apa yang ada fikiranku saat itu.

"Eh Ka, biar El aja yang liat. Sekalian mau ngambil buku El ketinggalan di meja belajar."
Dengan spontan aku mengusulkan diri untuk melihat Bara.

Semuanya terlihat kaget, tapi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Artinya itu tidak masalah.

"Yaudah, sana." Ka Nial berjalan mengarah ke meja makan, bersilangan denganku.
Ketika kita berhadapan, tiba-tiba Ka Nial berbisik di telinga kananku.
"Ciee"
Sontak aku memukul Ka Nial. Cukup keras.
"Aww.. "
Ka Nial mengernyit kesakitan.

Aku sedikit berlari menaiki anak tangga, karena takut kesiangan. Iya takut kesiangan. Bukan untuk alasan lain. Bukan untuk cepat bertemu dia—Bara.

Ketika sampai di depan pintu kamarnya, aku malah ragu. Ketuk. Jangan. Ketuk. Jangan. Ah!
Jantungku berdegup semakin keras, tapi..

"Toktoktok.. "
"Cepet turun! Yang lain udah nungguin lo di bawah!"
Tak ada suara sedikitpun yang menyahut teriakanku.
"TOKTOKTOK.. "
Kali ini aku mengetuk lebih keras.
"Lo denger gue gak sih?!"
Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki mendekati pintu.

Ceklek..

Matanya sayu, wajahnya pucat pasi, bibirnya kering.

"Sorry, tolong bilangin sama Om dan Tante gue gak bisa ikut sarapan hari ini.. "
"Sorry banget.. "
Perlahan dia menutup kembali pintu, tapi dengan cepat ku tahan.

"Lo... sakit?"
Dia hanya menatapku lamat-lamat.
Dan aku masih mengerutkan dahi. Kaget.

"Gue mau istirahat.. "
Bara kembali menutup pintunya, yang kali ini kubiarkan tertutup.

Apa dia sakit gara-gara semalem nyari gue? Ah nggak mungkin.

Aku kembali ke bawah, menemui yang lain.
"Bara sakit." singkatku.
"Sakit?" tanya Papa.
Ku naikkan kedua halis seraya mengangguk.
"Sakit apa dia? Coba Mama lihat dulu.. "
Mama melepaskan celemek polkadotnya lalu pergi ke lantai atas.

"Yaudah, lo bareng gue aja." ajak Ka Nial.

"Nial kamu ini! Sama adik sendiri bicaranya kok lo-gue!" Papa sedikit kaget mendengar panggilan yang biasa aku dan Ka Nial pakai.

"Em.. Iya Pah. Keceplosan hehe" Ka Nial seperti mati kutu.
Aku terkekeh melihat Ka Nial yang diomeli Papa.

"Yaudah kita pergi ya, Pah."

"Hati-hati ya, jangan bandel! Sekolah dan kuliah yang bener, jangan cuma tidur saja." kata Papa sambil sedikit meledek kebiasaan Ka Nial dari jaman Sekolah Dasar. Tidur di kelas.

Kami pun tertawa geli mendengar ledekan Papa.

※※※

Tiba di gerbang sekolah, kudapati Ka Raven berdiri didekat pos satpam. Baru kali ini, aku malas bertemu dia. Aku mendelik membuang pandangan dari Ka Raven.
Dan bergegas melewatinya.

"Nuelsia."
Kaki ku berhenti melangkah.
Kenapa Ka Raven memanggil nama panjangku?

Dia berjalan ke arahku, aku hanya diam tanpa ada niat untuk menanggapi ataupun..lari.

"sorry buat yang kemarin.. "
Dia berucap ragu, aku hanya terenyum tipis dan pergi tanpa permisi.

Makan tuh maaf! Batinku tak henti mengoceh.

Dia melihat punggungku berlalu, dan mengekoriku dari belakang.

"El.. " panggilnya, "Nuel!" kali ini dia berteriak cukup keras, sampai orang-oramg disekitar menatapku aneh.

"Apa?!"
Aku mengeraskan suaraku. Berharap Ka Raven tidak menggangguku dulu, untuk saat ini saja.

Tanpa merespon, Ka Raven langsung menarik pergelangan tanganku, dan membawaku pergi ke belakang sekolah.

"kalau kamu marah, mending bentak kakak aja, jangan kaya gini caranya."

Aku berdecih,
"kenapa aku harus bentak kakak? Toh aku nggak marah,"

"bohong," dia mendekatiku selangkah,
"nggak mungkin kamu nggak marah, "

Tubuhku terkunci, aku dan Kak Raven hanya berjarak satu langkah.

"Kenapa emang kalau aku gini?"

"Kakak nggak suka,"

"Aku juga nggak suka ditinggal gitu aja,"

"El.." kali ini Kak Raven memegang kedua bahuku.

"Please, jangan nyuekin gini." lanjutnya

Aku tak berkata apapun, melihat binar mata Kak Raven saja aku sudah bisu.

Dia melepaskan pegangan dibahuku,

"Sekali lagi sorry ya, El."
Kak Raven pun pergi meninggalkanku, aku yang masih mematung menarik nafas panjang.

Lo tuh kenapa si El, lebay banget! Sadar! Batinku sambil memukul kepala pelan.

Sesampainya di kelas, trio Bigos (Biang Gosip) sudah menempati bangku ku,

"Widih, yang kemarin abis jalan kok badmood gitu, sih?" Revia yang sedari tadi melihatku akhirnya bertanya.

"Gimana gimana? Seru nggak?" tanya Kya tak kalah semangat.

"Tau ah, males." ketusku.

"Lho kok gitu? Nggak sesuai ekspetasi?" timpal Tesa.

Aku masih mendengus kesal.

Tiba-tiba aku ingin cepat pulang, entah karena apa. Mungkin karena mood yang kurang baik, atau segala rasa kesal yang menghasilkan kemalasan. Atau bisa jadi... Aku ingin cepat bertemu seseorang yang ada di rumah ku, penghuni baru.


Setelah sekian lama, akhirnya update jugaaaaa😥

Aku jadi bingung sama cerita ini, terlalu banyak angan-angan alur cerita.
Jadi, aku nggak tau harus nyusun dari mana😂

Tapi, semoga kalian tetep stay jadi Beloved Readers yaaaa! Makasiii😚😚

WHO IS MINE? He or Him?Stories to obsess over. Discover now