Gita baru saja melepas coat dan membersihkan wajahnya. Saat ia tiba dirumah tadi jarum jam menunjukkan pukul delapan waktu setempat. Hari ini ia pulang lebih awal, entah mengapa saat tadi Brian mengajaknya ke club Gita sama sekali tidak berminat.
Suara telepon berdering membuat Gita melangkah mendekat, nomor yang tak dikenalinya. Jika itu nomor Papany sudah pasti tidak akan diangkatnya. Hanya nomor Tante Winda yang pasti akan diangkatnya.
Setelah nada berakhir terdengar bunyi bip menandakan ada sebuah pesan masuk disana. Gita menekan tombol lalu terduduk di pinggir ranjang.
"Gita, ini Tante Niken. Kalau kamu dengar pesan ini Tante cuma mau bilang Papa kamu masuk rumah sakit. Papa kamu pengin banget kamu pulang. Gita, kamu pulang sebentar ya. Satu hari aja nggak masalah kok. Papa kamu cuma mau lihat wajah kamu, katanya."
Gita menggertakkan giginya. Kenapa seperti ia yang bersalah. Tidak orang-orang itu yang bersalah kepadanya. Sengaja memanfaatkan keluguannya dulu. Papanya duluan yang berkhianat kepada Mamanya.
Sialnya mendengar suara itu lagi membuat memori Gita mengulang kembali kenangan yang sengaja sangat ingin dilupakannya itu.
Pulang sekolah Gita celingukan di gerbang sekolahan. Tak biasa mobil yang biasa digunakan Mang Tarmin untuk menjemputnya tak tampak.
"Apa Mang Tarmin lupa jemput Gita?" gumamnya sendiri. Ia hendak meraih ponselnya namun mobil yang sangat dikenalinya meluncur didepannya.
"Papa!" pekiknya mendekat ke mobil tersebut.
Gita langsung memutari sisi mobil dan naik ke kursi penumpang.
"Hallo Gita."
Suara seseorang sontak membuat Gita menoleh ke arah belakang.
"Gita kenalin itu Tante Niken, teman kerja Papa."
Gita mengulum senyumnya dan bersalaman dengan orang yang disebut Papanya Tante Niken tersebut.
"Kok Tante ikut Papa?"
"Tadi, Papa ada kerjaan diluar sama Tante Niken, dan pas kebetulan lewat sini, jadi sekalian jemput Gita," jawab Papanya.
"Oh..." seru Gita menganggukkan kepalanya.
"Gita laper kan? Papa sama Tante Niken juga laper. Kita cari makan, ya? Gita mau makan apa?"
"Bakmi, boleh nggak Pa? Eh, tapi nanti kena marah Mama, kata Mama Gita nggak boleh sering-sering makan Mie."
"Kali ini boleh. Kan nggak ada Mama. Oh ya, Gita. Tante Niken ini juga punya anak perempuan loh."
"Iya umurnya dua tahun diatas kamu," sambung Tante Niken. "Kapan-kapan kamu mau nggak Tante kenalin?"
Gita mengangguk. "Boleh Tan."
Gita mengusap wajahnya kasar harusnya ia tidak mengingat lagi. Pertemuannya dengan Tante Niken sebelum Mamanya meninggal bukan sekali dua kali, ia juga berkenalan dengan anaknya Prita. Bodohnya ia sama sekali tidak menghiraukan ketidakhadiran Mamanya tiap kali Papanya mengajaknya bertemu Tante Niken. Gita sangat polos saat itu, dan kini ia hanya menertawai ketololannya.
Itulah sebabnya ia disini, tidak merasa wajib menjadi anak yang dibanggakan oleh Papanya. Melakukan apapun yang disenanginya tanpa satupun berhak melarang. Papanya telah mematahkan semua impian indahnya. Gita hidup seperti air mengalir, mencoba banyak hal yang ingin dirasakannya. Bergaya hidup bebas tidak peduli dengan tagihan kartu kredit karena Papanya lah yang harus membayar semuanya. Ia juga tak mau menyentuh kompor sama sekali karena ia akan menggunakan uang Papanya untuk hidup tanpa perlu bersusah payah, walau dulu ia suka sekali memasak bersama dengan Mamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not The Wrong Choice [TERBIT]
General FictionMereka tidak menjalani sebuah keterpaksaan. Mereka hanya jiwa-jiwa lelah. Cukup dengan kesepakatan kecil maka jalinan sebagai pasangan sah pun menaut. Sekuel Revenge
![Not The Wrong Choice [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/105696160-64-k173011.jpg)