Bab 9

25.4K 2.5K 66
                                        

Adel langsung menangkap sesuatu yang tak beres begitu melihat mobil Sammy berjajar manis di car port. Pria itu telah mendapat balasannya, tidak sehari tapi tiga hari berturut-turut Adel mengabaikan panggilan teleponnya. Entahlah, ajakan pria itu tempo hari masih terdengar tak masuk akal bagi Adel. Menikah demi sebuah kesepakatan? Mengapa ia harus melakukannya? Demi apa? Memang Mamanya yang terus-terusan menuntutnya melepas status single. Namun, seburuk apapun kalimat yang terlontar dari mulut Mamanya, Adel jamin seribu persen, tak akan sampai membuatnya terusir dari rumah ini.

Dengan langkah penuh antisipasi, Adel masuk ke dalam rumahnya. Terdengar suara tawa Sammy menyambut. Apa yang sedang dilakukan Sammy? Apa ia mengajak Papanya bercanda? Adel berdeham saat mendekat dan melihat dengan matanya sendiri Papanya sedang tertawa terbahak, sungguh pemandangan langka, lelucon garing apa yang dibuat oleh Sammy, batinnya sarkastik.

"Nah... ini Adel nya udah pulang." Mama Adel langsung merangkul bahu Adel.

"Mau ngapain dia kemari?" tanya Adel pelan.

Mila dengan tangkas memukul pundak Adel. "Mau ajak kamu kencan... gimana sih."

"Nak, Sammy, tunggu bentar ya—lima belas menit lagi Adel turun," tutur Mila kepada Sammy sambil menarik tangan Adel.

"Ih... Apaan sih Ma..!" gerutu Adel. Mila tak peduli ia tetap menarik tangan Adel hingga ke kamar. Membuka lemari dan mengambil gaun Adel yang menurutnya paling pantas.

"Sammy mau ajak kamu kencan. Berdua. Ke restoran mewah. Pokoknya kamu harus dandan!"

Adel berdecak merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

"Ini anak ---" Mila menarik kuat tangan Adel.

"Adel capek Ma – bilang aja sama Sammy, Adel kecapekan."

"Buruan mandi nggak!" Mila membuka laci nakas dengan cepat. "Atau ini Mama bakar!"

"Eh ... nggak. Iya ini Adel mandi!"

Setelah Adel masuk ke dalam kamar mandi barulah Mila meletakkan kembali album foto ke tempatnya. Anaknya memang sudah gila. Satria sudah menikah tapi setiap barang yang berhubungan dengan Satria sama sekali tak boleh tersentuh. Setelah menikah nanti Mila akan mencari cara untuk melenyapkan semuanya.

***

Wajah pria yang berjalan disampingnya ini benar-benar memuakkan bagi Adel. Sammy menang telak kali ini. Bagaimana bisa kedua orang tuanya sangat pro kepada Sammy. Menyebalkan!

"Adel..." Adel segera menoleh.

"Tante, Om."

Senyum Adel berubah agak kikuk, namun ia tetap harus sesantai mungkin. Dibandingkan dengan Satria wanita paruh baya dihadapannya ini jauh lebih memerhatikannya. Tante Widya, Adel tak memungkiri ia orang yang membuatnya mampu bertahan kala itu. Hingga kini Tante Widya bahkan sering menelponnya hanya sekadar untuk menanyakan kabar.

"Ini sama siapa?" tanya Tante Widya. Oh, Adel hampir lupa ia bersama seseorang kali ini.

Adel tercenung sejenak. "Oh, Ini." Adel memberanikan diri menggandeng tangan Sammy yang lantas membuat pria itu terkejut bukan main. "Calon suami Adel."

Fix. Senyum kontan terbit di wajah Sammy, ia merekam dengan jelas dengan otaknya kata-kata Adel. "Sammy. Om. Tante," salam Sammy dengan nada semringah menjabat tangan Widya dan Malik.

"Oh ... Jadi Adel udah punya calon sekarang," senyum lega itu tampak menghiasi wajah Malik.

Adel mengangguk. Dengan hati yang tak bisa digambarkan kondisinya. Dibandingkan dengan orang tuanya yang Adel anggap bisa menerima semua kekurangannya. Kedua orang tua lain dihadapannya ini yang tampak paling bersalah padanya. Berkali-kali ia selalu mendengar Tante Widya mengucapkan kata maaf dan menatapnya dengan wajah mengasihani. Adel ingin menghapus semua itu. Meskipun awalnya ia tak berpikir dengan cara ini. Dengan cara memperkenalkan orang lain dihadapan mereka.

Not The Wrong Choice [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang