Bab 11

24.9K 2.2K 65
                                        

Ini pasti kerjaan Mama!

Adel mencampakkan kesal tas pakaian yang isinya? Baju kurang bahan dengan kain transparan. Adel terduduk dipinggir ranjang sambil mengontak nomor ponsel Mamanya. Pakaian resepsi lengkap dengan make up dan sanggul masih melekat ditubuh Adel. Sungguh. Ia merasa sangat lelah dan kini Ibu yang melahirkannya itu tak menjawab panggilan teleponnya. Berkali-kali Adel berusaha tetap tak ada jawaban. Adel berusaha menghubungi Buk Rum juga sama. Sepertinya mereka komplotan.

Bel kamar hotel yang ditempatinya berbunyi Adel melangkah kesal dan membuka pintu. Wajah semringah dari pria yang sudah resmi menyandang status suaminya itu menambah rasa muak.

"Jutek banget," seru Sammy yang juga masih mengenakan pakaian resepsinya. Ia tampak bahagia menunjukkan sebuah amplop berwarna gold dengan pita cantik. "Hadiah dari Papi. Kayak-kayaknya paket liburan nih!" seru Sammy yang tak dipedulikan Adel.

Sammy membuka cepat isi amplop. Sedetik kemudian senyum bahagianya berubah kecut. "Lho. Kok?"

Hal itu otomatis menarik perhatian Adel.

"Kok cuma ke Bali? Minimal Paris kek--!" seru Sammy kesal sementara Adel hanya menggeleng kepalanya. Dasar kekanakan! Batinnya.

Sammy langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sang Papi. "Pi... ini kok cuman ke Bali sih!"

"Heh. Orang luar negeri pada pengin ke Bali kau malah nggak menghargai! Dimana rasa nasionalismu!"

"Yang nggak nasionalis siapa? Tapi ini bulan madu yang agak jauh dikit lah. Biar berkesan. Kalau cuman ke Bali seminggu sekali juga bisa. Minimal Paris gitu."

"Nanti kukasih hadiah yang lain. Sukak kau pasti."

Alis Sammy langsung terangkat. "Hadiah lain? apaan? Mobil baru. Iya kan?"

"Bukan! Enak aja kau ganti-ganti mobil, mobilmu yang lama aja hampir satu M aku keluar duit. Nanti kukasih tau abis kau pulang bulan madu."

"Papi bikin penasaran –" Sammy mencibir saat Papinya mematikan sambungan sepihak.

"Lo bawa berapa pasang baju?" tanya Adel membuat Sammy mengalihkan perhatiannya.

"Kenapa lo tanya-tanya berapa baju gue?" tanya balik Sammy yang membuka isi tasnya.

"Gue mau pinjem. Baju gue nggak layak pakai."

"Nggak layak pakai kenapa?"

"Ih... Banyak nanya lo ya."

Sammy menaikkan alisnya dan dengan cepat mengambi tas Adel. Senyumnya langsung merekah menarik sehelai pakaian dari sana. "Bagus gini dibilang nggak layak pakai. Coba deh."

Sammy dengan pikiran mesumnya tak melihat ke arah Adel yang sudah siap menyemburkan amarahnya.

"Aww.." Sammy kesakitan mengusap-usap bagian kepalanya yang dipukul Adel. "Lo baru malam pertama udah main kekerasan."

"Lo yang cari gara-gara! Kalo nggak mau minjemin ya udah. Gue tidur pake baju selayar juga nggak masalah." Sammy mendelik melihat Adel yang merangkak naik ke atas ranjang. "Lo tidur di sofa. Ranjangnya nggak cukup." Sambung Adel menyibakkan bagian bajunya.

"Lo nggak waras ya? Itu sanggul lo aja belum dicopot." Sammy mengambil tasnya dan mencampakkan kaus dan celana pendek miliknya. "Nih! Dan ini terakhir kalinya ya lo pukul kepala gue. Gini-gini gue kepala keluarga hargai dikit dong."

Adel hanya mencebik, lalu bergumam, "oh."

***

Abdi yang dari balik kemudi sesekali menoleh memerhatikan istrinya yang tak mengeluarkan suara apapun. Mereka pulang ke rumah, meskipun orang tua Abdi menginginkan mereka menginap di hotel karena sudah malam. Tetapi rumah mereka juga tidak terlalu jauh Abdi beralasan lebih nyaman tidur di rumah.

Not The Wrong Choice [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang