Gita mengatur napasnya berusaha mengendalikan diri. Masa lalu. Ya, Sammy adalah masa lalunya. Dan bukankah ia sudah mengakui semua keburukannya kepada Abdi sebelum menikah. Lantas jika sudah begitu apa yang perlu dikhawatirkan. Lagipula ia tak punya hubungan apapun dengan Sammy selain hubungan diatas ranjang dan itupun hanya satu kali. Tapi bagaimana jika Sammy membuka mulut ke seluruh keluarga Abdi? Gita menggeleng kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran jeleknya. Setidaknya ia tidak boleh terlihat gugup sedikit pun saat ini.
Gita menegakkan tubuhnya menggandeng tangan suaminya yang siap menyambut tamu spesial Mamanya itu.
"Hallo. Pak Dokter! Terhormat kali aku disambut gini."
Gita cukup terperanjat ditempatnya mendengar suara bernada lantang itu yang kini tengah memeluk Papa mertuanya. "Yang salaman sama Papa namanya Pak Alam Sinaga seorang pengacara, dia pernah jadi salah satu pasien Papa," bisik Abdi.
"Oh, sakit apa?"
"Bronkitis Akut. Dia perokok aktif saat itu, dan sekarang udah berhenti total."
Gita mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah... kenalin ini anak tunggal aku Samudra Biru Sinaga. Dan ini istri aku Berliana Ginting."
Sammy yang sedari tadi masih berusaha melepas sepatunya langsung menegakkan tubuhnya. Ia langsung menyalami orang-orang dihadapannya. "Sammy Om."
Adel memutar bola matanya. Samudra Biru menjadi Sammy dimana nyambungnya. "Adelia," sahutnya malas saat tangan itu menjabatnya.
Sampai pandangan Sammy bertemu dengan Gita. Bola mata itu seolah hendak keluar dari sarangnya. Ia menutup sekali lagi kelopak matanya takutnya ini adalah mimpi. Tak salah, yang dihadapannya adalah Gita, wanita yang selama ini dicarinya karena menghilang begitu saja.
"Gi—"
"Gita." Tukas Gita sambil menjabat cepat tangan itu.
"Ah, ini Gita menantu kami. Istrinya Abdi," ucap Mila dengan senyum semringah.
"Lah... Dokter Abdi udah nikah. Kok nggak ngundang Saya."
"Memang tidak ada resepsi, cuma acara keluarga inti saja," jawab –Warman- Papa Abdi. "Ah, ayo pada masuk! Kita lanjut bicara didalam."
Sampai makan malam berakhir dan kini mereka tengah duduk di ruang keluarga sambil menikmati makanan penutup mata Sammy tak lepas dari Gita dan pria disebelah Gita yang menurutnya tak lebih tampan darinya.
Pandangan Sammy menyipit, sesekali ia menggeram melihat kemesraan pasangan itu. Dan tak henti meneliti Abdi.
Apa lama tak bertemu dengan Gita wanita itu jadi mengubah seleranya? Ah, yang ini tidak keren sama sekali. Wajahnya juga terlalu tua. Apa itu? baju batik, celana bahan potongan bapak-bapak.
Sammy melirik penampilannya sekali lagi, setelan jas anak muda berwarna biru dongker yang sengaja dipesannya khusus dari perancang terkenal.
Oh, Ayo Gita. Wake up! Dihadapanmu ini ada pria yang jauh lebih keren dan lebih muda, kenapa kamu memilihnya?
"Ya. Jadi gini ya. Kedatangan kami ini, selain karena undangan Pak Warman, juga ada maksud lain. Kami ingin meminang anak Pak Warman untuk menjadi menantu kami."
Adel tersedak salivanya sendiri. Sedari tadi ia yang sudah gerah dengan pertemuan tak penting itu. Kini lelucon apa lagi yang sampai ke telinganya. Melirik sekilas ke Sammy ia berdecak pelan. Tampan. Sangat tampan. Keren pasti. Tapi pokok permasalahannya pria itu sama sekali tak menarik perhatiannya, penampilannya sama sekali tak ubah seperti boyband dan dia juga bukan lagi remaja putri yang langsung mimisan melihat wajah dan tampilan model begitu. Yang dari ujung rambut hingga ujung kaki terlihat klimis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not The Wrong Choice [TERBIT]
General FictionMereka tidak menjalani sebuah keterpaksaan. Mereka hanya jiwa-jiwa lelah. Cukup dengan kesepakatan kecil maka jalinan sebagai pasangan sah pun menaut. Sekuel Revenge
![Not The Wrong Choice [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/105696160-64-k173011.jpg)