Bab 5 [Flashback 2]

25.6K 2.6K 79
                                        

"Gita... kamu nggak balik lagi ke Sydney kan?"

Gita langsung keluar dari kamar inap Papanya setelah kalimat itu meluncur dari bibir Papanya. Selalu. Lagi dan lagi ia tak menjawab pertanyaan Papanya. Gita benar-benar berperan seperti patung di hadapan Papanya. Ia ingin Papanya merasakan hukuman itu, merasa benar-benar tak diacuhkan bahkan diabaikan, seperti yang dirasakan Mama. Jika ia bahagia dengan keluarganya sekarang, harusnya ia tak perlu repot mencari-cari kabar Gita. Harusnya ia tak peduli bahkan tidak lagi menganggapnya anak. Namun, sepertinya karma memang berlaku, buktinya hingga detik ini hanya ia anak kandung Papanya. Jadi kehadirannya pasti tak bisa dilupakan begitu saja.

"Melamun?"

Gita sedikit terperanjat dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah pria tinggi di sampingnya. "Dokter," sebutnya.

Pria itu Dokter Abdi. Dokter yang memeriksa Papanya. Yang hingga kini membuat keningnya mengernyit karena merasa pernah melihatnya namun entah dimana.

"Papa kamu udah bisa pulang besok."

Gita menjawabnya dengan anggukan.

"Mau?" tawarnya menyodorkan permen lolipop.

De javu. Itu yang Gita rasakan saat ini.

"Nggak suka permen ya?" Abdi menyadari kesalahannya, wanita disampingnya ini bukanlah anak kecil yang akan senang jika disodorkan permen seperti itu.

Kini Gita tergelak. Sementara, Abdi yang semakin canggung dengan penolakan itu tersenyum ramah dan memasukkan lagi permen ke dalam kantung jasnya.

"Saya mau balik tugas, sampai ketemu lagi," ucap Abdi yang berdiri dari kursi.

"Dokter."

Abdi membalik badannya. "Ya?"

"Aku yang dulu pernah Dokter tawarin permen juga. Waktu itu umurku masih lima belas tahun Dokter ingat? Waktu itu aku nangis dan Dokter bilang kalau permen milik Dokter bisa buat air mata nggak ngalir lagi. Aku tahu itu nggak mungkin tapi aku tetap ambil dan makan permen dari Dokter."

Abdi menarik seulas senyumnya. "Dulu, Saya banyak bohongin anak-anak. Saya selalu tawarin permen dan buat berbagai alasan kalau lihat anak nangis pas mau disuntik atau mau minum obat. Jadi sampai sekarang kebiasaan kemana-mana membawa permen. Siapa tahu ketemu anak-anak yang lagi nangis. Tapi benarkah kamu salah satu korban Saya? Sepertinya memang sudah lama sekali, sampai-sampai saya tidak mengingatnya, atau memang karena wajahmu yang sudah berubah."

"Apa sore ini Dokter ada waktu luang?" Gita mencoba peruntungannya. Ia ingin sekali ngobrol banyak dengan pria ini.

Abdi menaikkan sebelah alisnya. "Kalau operasinya cepat selesai mungkin ada, kenapa?"

"Ngopi bareng? Aku nggak punya teman buat diajak ngopi, itu pun kalau Dokter mau." Tawarnya.

"Saya nggak konsumsi kopi."

Mulut Gita terbuka sedikit. "O—oh. Ya udah nggak masalah. Aku bisa pergi sendiri nanti."

Gita mengira Abdi akan segera berlalu pergi, namun perkiraannya salah Abdi justru mengeluarkan ponselnya. "Bisa catat nomor ponselmu disini. Nanti kalau Saya siap cepat langsung Saya hubungi."

Tanpa sadar Gita tersenyum dan meraih ponsel Abdi lalu mengetikkan nomor ponselnya disana.

***

"Kamu udah lama di Sydney?"

Siapa sangka Abdi yang memulai perbincangan. Padahal tadinya Gita sempat berpikir pria itu tidak akan menghubunginya. Meski saat ini bisa dikatakan hari tidak sore lagi, tetapi Abdi menghubunginya. Bingung memilih tempat yang tepat akhirnya Gita bilang akan menunggu di Starbucks dekat Rumah Sakit.

Not The Wrong Choice [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang