"Sayang, ini punya kamu?"
Gita langsung mendelik melihat ke arah suaminya yang baru saja keluar dari walk in closet. Setengah berlari ia merebut benda di tangan Abdi dengan paksa.
Krekk!!
"Yah... kan robek."
Kening Abdi berkerut. "Ya udah dibuang aja."
Gita mendengus membuang lingerie yang sengaja dipesannya terkhusus untuk menyenangkan suaminya di malam pertama itu ke dalam tong sampah. Ia memang tidak jadi memakainya, karena suaminya itu menyerang duluan tanpa sempat ia melakukan adegan-adegan menggoda. Menggoda? Gita tak pernah melakukan itu kepada lelaki manapun, untuk itu ia merasa perlu memperlakukan suaminya itu, khusus. Tapi malah begini akhirnya.
Gita diam. Abdi seperti sudah hapal kebiasaan istrinya itu, tiap kali ia diam itu tandanya ia marah atau sedang kesal terhadap sesuatu hal.
Gita hendak berjalan keluar kamar dan pinggangnya keburu tertahan dengan lengan besar Abdi. "Lagian mau di pakai buat apa coba. Daripada pakai pakaian seperti itu lebih bagus kamu nggak pakai baju."
Oh, Tidak. Sepertinya suaminya ini memang sama sekali dimana letak seninya. Gita memutar tubuhnya menghadap sang suami. "Gita sengaja pesan itu lingerie khusus buat nyenengin Mas di malam pertama kita. Dan sekarang udah teronggok sia-sia gitu."
"Lho. Yang buat robek kan bukan Mas."
Bibir Gita serta merta melengkung ke bawah. "Udahlah, yuk. Nanti Mas telat."
"Ya udah dibeli lagi aja," ucap Abdi yang masih menahan pinggang Gita.
Mata Gita beradu tajam dengan Abdi, menurutnya sudah tak penting lagi, mau dibeli lagi ratusan sekalipun, seleranya memang sudah menguap.
"Ya udah, Mas salah. Mas minta maaf ya." Abdi mengecup kening Gita namun tak ada respon sedikit pun, wanita itu tetap memandangnya malas. "Ayo, coba ngomong harusnya Mas gimana?"
Gita menghela napasnya. Lelakinya ini bukan tak mencoba mengerti tetapi mungkin ada beberapa hal memang tak sejalan pemikirannya. Berlama-lama mendiamkan suaminya ini memang tak berguna karena akhirnya ia akan luluh dengan perlakuan lembut Abdi. Entahlah, sepertinya dari lubuk hati terdalam Gita benar-benar mengucap syukur Abdi bukan orang yang tempramen, bahkan hampir tidak pernah marah, ia begitu penyabar.
Bukankah seperti Papanya? Papanya juga tidak pernah marah kepada Mama.
Gita mengalihkan pandangan berusaha menghalau ingatannya yang mulai merembet kemana-mana.
"Sayang."
Gita menarik tangannya dan mengalungkannya ke leher Abdi. "Nonton. Kita nonton ya, malam ini." Ini sudah bulan ketiga pernikahan tetapi mereka belum pernah sekalipun jalan keluar, selain ke rumah mertua, Tante Winda dan rumah sakit.
Kening Abdi berkerut. "Hm. Nonton ya, ya udah kita nonton."
"Kok ekspresinya gitu? Jangan-jangan Mas nggak pernah nonton ke bioskop ya?"
Abdi menyentil hidung Gita saat wanita itu mulai tertawa.
"Mas kuno banget," seru Gita lagi.
Abdi meraih pundak Gita seraya melangkah keluar ruangan. "Bukan nggak pernah. Tapi emang udah lama banget nggak nonton. Ya, kalau datang sendiri ke bioskop kan canggung, lagipula nggak ada film yang mau Mas tonton."
"Pokoknya entar usahain pulang cepet."
"Iya..." sahut Abdi mengacak rambut istrinya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Not The Wrong Choice [TERBIT]
General FictionMereka tidak menjalani sebuah keterpaksaan. Mereka hanya jiwa-jiwa lelah. Cukup dengan kesepakatan kecil maka jalinan sebagai pasangan sah pun menaut. Sekuel Revenge
![Not The Wrong Choice [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/105696160-64-k173011.jpg)