Pria berusia 27 tahun itu tampak menatap kosong ke salah satu sudut ruangan. Ia duduk di sofa ruangan dengan kaki bersila.
"Gue berharapnya bukan lagi ayam tetangga yang mati gara-gara lo melamun. Tapi ini nih! Si pelaku teroris biadap."
Sammy melirik ke arah Juanda yang baru saja duduk disebelahnya, mengambil koran yang ada di meja.
"Lo jangan ganggu gue dulu, ini gue butuh mikir keras."
Juan menarik alisnya. "Mikir keras kenapa lo? Oh – kasus Pak Nugroho ya?" Juan lalu tersenyum jahil. "Ah – nggak yakin gue, biasanya juga kalo udah mentok minta bantuan bokap lo."
"Yang bilang gue lagi mikirin kasus, siapa?!"
"Ah..!! cewek. Pasti iya kan? Kenapa? Nggak berhasil acara perjodohan lo."
Sammy menggeleng. "Gue bukan lagi mikir itu."
"Ah... banyakan mikir lo."
"Bro..! kalau cewek yang tadinya nggak ngotot nggak mau komitmen terus tiba-tiba nikah apa kira-kira alasannya?"
"Dipaksa kawin kali."
"Yang ini nggak mungkin. Gue tahu banget, ni anak bukan model tunduk sama ortu."
Wajah Juan tampak berpikir. "Ya, karena dilamar lah, apalagi? Cewek tuh biasanya sulit nolak kalau udah dilamar cowok. Ada asumsi bisa jauh jodoh, kalau dia nolak."
Sammy berdecak. "Nggak. Nggak. Dia udah gue lamar tapi tetep nolak."
Kini lipatan di dahi Juan semakin dalam. "Siapa sih? Eh... tunggu. Ah-- cewek yang di Sydney itu kan? Yang satu kuliahan lo dulu. Yang nolak lo terus-terusan itu kan."
Sammy langsung memitak kepala Juan. "Bagian ditolaknya nggak usah dilebih-lebihin."
Juan tertawa terpingkal. "Harga diri ya, man. Kalau udah ditolak bawaannya nggak bisa lupa. Obsesi banget lo sama dia."
"Gue nggak obsesi! Gue cuma nggak terima dia udah nikah sekarang."
"Darimana lo tahu dia udah nikah? Bukannya dia di Sydney?"
"Nggak. Dia di Jakarta. Dan suaminya itu Kakak dari cewek yang mau dijodohin ke gue."
"What?!" Juan malah semakin tertawa keras. "Ipar-iparan dong lo. Keren tuh."
"Keren nenek moyang lo! Mana gue harus nikah sama tu cewek lagi."
"Lho... kenapa? Kan bisa aja lo alasan nggak suka, terus nyokap lo pasti cari calon yang lain."
"Ini bukan nyokap yang cari calon, tapi bokap!"
"Ahahaha... Ya. Ya. Gue ngerti, kalo nggak nurut pala lo kan jaminannya."
Mendengar Juan yang tertawa tak ada hentinya itu Sammy berang, menarik kepala Juan dan memukulnya berulang kali. "Iye... puas-puasin lo ketawa."
"Lo bisa gue tuntut pasal penganiayaan nih!"
"Lapor – Laporin aja sono!"
Sammy berhenti saat ada panggilan masuk ke ponselnya.
Cewek Judes Calling ...
"Woy! Mau angkat telepon aja bengong." Seru Juan.
Sammy malah tersenyum licik. Dan mengabaikan panggilan dari Adel. Dari kemarin banyak sekali chat yang dikirim wanita itu, dan dengan kejamnya ia hanya me-read dan tidak berniat membalas. Sampai ia tahu lama-kelamaan wanita itu sangat kesal dengannya dari isi chatnya.
Jangan tanyakan darimana tuh cewek mendapat semua kontaknya. Karena Papi Sammy dengan sangat royal memberitahu semua nomor, media sosial, bahkan alamat serta nomor apartemen Sammy kepada Adelia sebelum mereka pulang kemarin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not The Wrong Choice [TERBIT]
General FictionMereka tidak menjalani sebuah keterpaksaan. Mereka hanya jiwa-jiwa lelah. Cukup dengan kesepakatan kecil maka jalinan sebagai pasangan sah pun menaut. Sekuel Revenge
![Not The Wrong Choice [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/105696160-64-k173011.jpg)