[ 03 ] What A Life

5.5K 580 160
                                        

"Life is complicated, but humans are much more complicated."
—Arlene Park, Je Te Déteste

Kai nyaris mencapai mobilnya yang terparkir rapi di basement ketika menyadari bahwa Chanyeol masih tertinggal beberapa langkah di belakang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kai nyaris mencapai mobilnya yang terparkir rapi di basement ketika menyadari bahwa Chanyeol masih tertinggal beberapa langkah di belakang. Namun, fakta tersebut tak menghalangi Kai untuk bergegas memasuki mobil. Sengaja mengambil posisi senyaman mungkin di balik kemudi sampai akhirnya Chanyeol menyusulnya masuk ke mobil.

Setelah terkunci di ruang yang sama, keduanya sempat membisu. Kai lebih tertarik untuk menatap ke luar jendela, sedangkan Chanyeol sibuk mengabsen seisi mobil dengan fokusnya. Merasa asing sebab ini memang kali pertama Chanyeol menaiki jeep wrangler milik Kai.

"Keren, 'kan?" Kai beralih menatap Chanyeol yang masih saja sibuk memendar fokus. Kehendak hati ingin berbangga diri, tapi balasan yang didapat betulan membuatnya kesal. "Tidak lebih mahal dari Mercedez milikku." Begitu kata Pria Han dengan pongahnya.

Chanyeol pun menarik satu sudut bibirnya bersamaan dengan sosok Kai yang mengumpat. Selang beberapa detik senyum itu hilang digantikan lisannya yang sibuk memuntahkan silabel. "Aku baru sadar." Chanyeol menatap Kai tepat di mata. "Aku tidak tahu di mana kau tinggal dan satu-satunya tempat yang bisa kudatangi untuk mencarimu hanyalah kantor polisi sialan ini."

"Kenapa? Kau mau main ke rumahku? Atau ingin membandingkan rumahku dengan rumahmu?" tanya Kai ditutup dengusan geli, berbanding terbalik dengan netranya yang langsung berpaling. Sebisa mungkin mengkhianati cecaran fokus Chanyeol. "Ada apa? Kau mau repot-repot menemuiku sepagi ini bukan untuk membahas hal yang tidak penting, 'kan?"

"Kai Ahn juga jagonya mengalihkan pembicaraan," Chanyeol melempar balik sindiran yang semalam Kai beri padanya di XS, "tapi, ya, aku kemari untuk meminta maaf—"

"Waw!" Pekikan Kai ini memutus kalimat Chanyeol seketika. "Seorang Han Chanyeol sudah tahu caranya minta maaf sekarang?" Sepasang netra cokelat itu kembali pada eksistensi Si Pria Han. Tak lupa mengulas senyum mengejek sebelum menambahkan, "Gadis yang kau temukan di XS semalam baik-baik saja, 'kan?"

Ada hening yang sempat meraja saat Chanyeol melesakkan punggungnya pada sandaran kursi. Ganti menatap jauh ke luar jendela, sementara kedua tangannya mengepal kuat, menahan kesal. Bayangan akan kejadian semalam—ketika Anneliese dan dirinya hampir meregang nyawa—berhasil memicu amarahnya. Jelas merasa terhina, tapi juga mencemaskan kondisi gadis itu di waktu bersamaan. Harusnya Anna baik-baik saja, 'kan?

Chanyeol menggeram, lantas meninju dasbor mobil Kai secara mengejutkan. Membuat Kai memperhatikan tingkahnya dengan satu alis terangkat.

"Sepertinya kau yang tidak baik-baik saja," tutur Kai dengan nada mengejek yang tidak ditutup-tutupi.

"Aku tidak akan melepaskannya, sialan!"

"Baru beberapa menit yang lalu kau meminta maaf, sekarang sudah mengataiku sialan." Tak ada perubahan di raut wajah Kai. Pria ini terlihat begitu tenang setiap kali berujar, meski nadanya terang-terangan menyindir. Tentu saja sikap Kai berhasil menyulut kemarahan Chanyeol hingga ke ubun-ubun, tapi belum sempat lawan bicaranya itu melayangkan protes, Kai sudah kembali bersuara. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dari Anneliese? Aku juga yakin matamu masih berfungsi dengan baik karena gadis itu sama sekali tidak mirip Yoora."

Je Te DétesteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang