"Oh kamu teman satu SMA dengan Sai?"
"Ya, saat kelas dua dan tiga."
Naruto bertanya sembari menyamakan kecepatan jalannya dengan Sasuke. Harus Naruto akui cukup sulit karena tinggi dua orang itu cukup jauh berbeda. Puncak kepala Naruto hanya sampai di leher Sasuke, yang mana membuat lebar langkah kaki mereka jadi berbeda.
Lagipula Sasuke punya tendensi untuk jalan cepat-cepat, kebiasaan orang kota yang biasanya tidak ingin membuang-buang waktu dan ingin segera sampai tujuan. Berbeda dengan Naruto yang memang sudah sifatnya yang selalu santai.
Sebenarnya ada alasan lain kenapa Naruto ingin menyamakan kecepatan langkahnya. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk dapat curi-curi pandang pada janggut di dagu Sasuke. Haduh, Naruto harus mencari topik pembicaraan yang tidak putus-putus agar ia bisa punya dalih untuk menatap wajah Sasuke.
Sebenarnya, Tatapan Naruto lebih fokus ke arah janggut yang entah kenapa membuatnya merona. Ngegemesin gimana gitu deh. Kalau dibolehkan, Naruto ingin mengelus janggut yang bertengger indah di dagu si pemuda rambut mirip pantat ayam itu. Tapi sayangnya (atau lebih tepat, untungnya) Naruto masih punya akal sehat yang berfungsi cukup baik.
Ia tak akan melakukan hal seceroboh itu pada seseorang yang baru dua kali ditemuinya. Belum kenal betul. Dan dari ekspresi datar dan ucapan singkat pemuda berkacamata itu, Naruto tahu kalau Sasuke bukanlah seseorang yang bisa diajak bercanda.
Naruto tidak bisa ujug-ujug menyentuh dagu Sasuke lalu menganggapnya sebagai candaan. Ia tak ingin ambil resiko.
Kalau sampai Sasuke benci dan tidak ingin bertemu dengan Naruto karena ulahnya yang konyol. Entah bagaimana nasib Naruto Jr. dalam celananya nanti.
Bisa-bisa seumur hidup pemuda Uzumaki ini bakalan impoten.
Dih amit-amit cabang baby.
Yakali dia bisa punya bayi. Rahim gak ada, cewek gak doyan. Bisa sih adopsi, tapi apa musti sejauh itu—
—dan kenapa ini jadi melantur ke topik adopsi, sih? Naruto meracaunya gak kira-kira kalau sedang mengarungi lautan spekulasi dalam pikirannya.
Naruto menarik napas panjang. Derik jangkrik dapat terdengar sesekali di rerimbunan pagar tanaman anak nakal. Lampu-lampu jalan menerangi jalan yang tengah mereka lewati. Mobil dan kendaraan lain sesekali lewat, kemudian suasana kemabli sunyi. Hanya diinterupsi oleh suara kerasak angin dan opera serangga nokturnal.
Kadang Naruto berpikir kalau dia jadi sedikit menyebalkan, pasalnya Sasuke nampak sama sekali tidak punya intensi untuk mengobrol basa-basi dengan Naruto. Padahal jalan menuju apartemen mereka ini cukup jauh.
Naruto sama sekali tidak bisa tahan dengan kesunyian. Tapi ia tidak bisa ngotot, nanti bisa jadi bumerang kalau Sasuke jadi risih padanya.
Akhirnya sekarang ia memilih untuk bungkam. Menatap lurus ke depan dengan kecepatan langkah yang tidak berkurang. Langkah mereka terdengar begitu kencang, karena jalanan gang sangat sepi. Naruto mulai berharap agar mereka cepat-cepat sampai di apartemen.
Tadi dia sudah mendapat briefing singkat dari Sai tentang pesanan disain Sasuke Uchiha untuk selebaran klub Jurnalistik. Tapi Naruto bersikeras kalau dia ingin mendengar langsung penjelasan dari Sasuke. Padahal Naruto mengerti dengan sangat jelas penjelasan Sai, tapi memang dia punya maksud terselubung sih.
Yup.
Pembicaraan privat lanjutan di kamar Sasuke Uchiha.
Berdua.
Di ruangan tertutup.
Sai sudah tahu kalau Naruto ini sangat suka dengan yang namanya cowok apalagi yang ganteng, dapat nilai plus kalau teknik ranjangnya oke. Tapi ia bungkam ketika Naruto mengancam kalau ia tak akan membuatkan disain permintaan Sasuke. Jadi Sai pura-pura tidak tahu saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
Goatee
FanfictionMemikirkan arti cinta dan tidak menemukan jawabannya, Naruto Uzumaki tertidur di kereta karena mengantuk (tidak biasa berpikir keras, sih). Saat terbangun, ia jadi punya fetish pada sesuatu yang tidak lazim. Sesuatu yang berbulu. Sesuatu yang kasar...