♡8♡

2K 260 45
                                    

"Morn' bad boy!"

Sasuke memutar bola matanya setelah memasang kacamata di pangkal hidungnya. Ia menatap Naruto yang berdiri di depan pintu, sudah siap untuk pergi ke Uni. Entah untuk kuliah atau sekadar nangkring, Sasuke tidak tahu tapi yang jelas akhir-akhir ini pemuda pirang itu selalu bangun lebih awal darinya. Sebuah misteri untuk orang yang kenal betul dengan Naruto si pemalas.

Namun bukan misteri bagi Sasuke.

Ia tahu penyebab si tukang tidur ini bangun lebih cepat darinya.

"Janggut dong."

Sasuke menghela napas panjang, tapi Naruto tahu kalau Sasuke sama sekali tidak marah atau kesal. Sehingga senyum sumringah tiga jari Naruto tidak pudar melihat ekspresi masam Sasuke. Beberapa detik kemudian, Sasuke menyodorkan dagunya ke Naruto dengan mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat wajah mereka cukup dekat hingga Naruto dapat melihat jelas berkas pasta gigi yang tidak tersiram di pipi kiri Sasuke.

"Ehe, gosok giginya buru-buru?" Tanya Naruto seraya mengusapkan jari telunjuknya pada berkas pasta gigi di wajah Sasuke.

"Hm? Ah, yeah... hari ini ada kuliah pagi."

"Aku tahu."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Kamu tahu jadwalku hari ini?"

"Aku hapal jadwal akademikmu dalam satu minggu kok," jawab Naruto tanpa khawatir akan dicap stalker oleh Sasuke.

"Oh?"

"Aku tahu jadwalmu supaya bisa cari waktu yang tepat untuk bisa ngelus janggutmu."

"Wah sangat presisi, aku tersanjung" walaupun jelas Sasuke sama sekali tidak merasa demikian.

"Ehe... you've sign the contract with the devil ehe~"

"And I kinda regret it now."

"Terlambat, sudah tidak bisa mundur, ufufu~" ucap Naruto dengan nada jenaka, "nah permisi ya," ucapnya serayap melarikan jemarinya di rimbunan janggut di dagu Sasuke dengan khidmat. Rona di wajahnya cukup ketara sampai Sasuke sadar akan perubahan emosi pada Naruto saat ini.

Gimana ya, Naruto sekarang lagi dalam fase 'fuwa fuwa', kau seakan dapat melihat bunga-bunga imajiner mengambang di sekitar wajah pemuda pirang itu. Ia serasa terbang di langit sembari bermain di trampoin awan yang tersusun dari rimbunan janggut.

Berbulu, geli, dan yeah... menggemaskan.

Naruto harus menahan mulutnya agar tetap tertutup agar air liur tidak mengucur dari sudut bibirnya.

"Sudah?" Sasuke mengernyit, walaupun sudah seminggu ini ia membiarkan Naruto menyentuh janggutnya dengan tatapan takjub. Namun bisa dilihat kalau pemuda dengan gaya rambut pantat ayam itu masih belum terbiasa dengan sentuhan jemari roommate barunya ini. Dagunya masih agak geli ketika menerima sentuhan jemari hangat itu.

Tapi Sasuke tidak punya intensi untuk mencabut kesepakatan yang sudah ia sanggupi untuk membayar perbuatannya pada Naruto. Jadi pemuda itu pasrah saja dielus-elus oleh Naruto.

"Emm... sebentar lagi," jawab Naruto dengan tidak fokus. Sasuuke merasa setiap kali Naruto menyentuh janggutnya, pemuda pirang itu seperti hanyut dalam dunianya sendiri. Seakan hanya janggut yang penting dan Sasuke hanyalah inang bagi janggut pujaan Naruto.

Dua menit kemudian Naruto menarik jemarinya dengan ekspresi wajah berseri-seri. Seperti sudah mendapat kepuasan duniawi tertinggi. Sasuke hanya menggelengkan kepala, sudah tidak mau ambil pusing. Ia mengerling ke arah jam wekernya yang menunjukkan pukul delapan pagi kurang beberapa menit.

GoateeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang