Seorang gadis tersenyum manis saat melihat rumah barunya, ya Ia bersama ayah dan kedua kakaknya berpindah rumah untuk melupakan segala kenangan manis bersama almarhum ibunya. Ibunya meninggal akibat penyakit jantung yang dideritanya, keluarga Hortman tidak pernah mengetahui penyakit wanita itu karena Ia tidak pernah bercerita dan tidak ingin membuat semuanya mengkhawatirkannya.
Sekarang keluarga Hortman yang beranggotakan 5 orang, bersisa 4 orang. John Hortman adalah nama pengusaha terbesar di negaranya, Ia terkenal baik namun tegas dan tidak segan-segan memecat pegawainya apabila bekerja tidak becus. Ia mempunyai satu putra tampan yang mewarisi wajahnya, satu putri cantik yang mewarisi kecantikan almarhumah Istrinya dan satu putri cantik yang mewarisi ketampanan dan kecantikan antara keduanya, ya wajahnya bagaikan perpaduan antara dirinya dan Almarhumah istrinya itu.
Putranya yang pertama bernama Virlo Hortman seorang pemuda tampan nan sukses di usianya yang sangat muda yaitu 19 tahun, wajahnya tampan seperti ayahnya, rahangnya tegas yang menunjukan dia adalah orang yang berwibawa, matanya berwarna biru toska menambah ketampanan dirinya itu.
Putrinya yang kedua adalah Virly Hortman seorang Virlo dalam bentuk wanita cantik namun matanya berwarna coklat pekat seperti mata ibunya. Virly adalah saudara kembar Virlo. Waktu kelahiran mereka hanya berselang 5 menit saja. Virly yang masih duduk dibangku kuliah psikologi berbeda dengan Virlo yang sudah bekerja sebagai CEO muda karena sewaktu SD,SMP, dan SMA Virlo mengikuti kelas akselerasi yang membuat jarak mereka seperti kakak beradik yang berbeda 3 tahun padahal umur mereka sama.
Putrinya yang terakhir adalah Veranda Hortman yang akrab dipanggil Ve. Gadis cantik ini mempunyai mata berwarna hijau, berbeda dengan ayah atau ibunya. Rambut berwarna pirang coklat dan tubuh bak miss univers. Usia Ve berbeda 2 tahun dibawah kakak-kakaknya. Ia sekarang duduk di bangku kuliah semester 1 jurusan seni lukis. Jiwa seni dalam yang diturunkan oleh ibunya mengalir pekat dalam darahnya. Ia sangat menyukai seni, apapun ide yang ada dalam dirinya, ia salurkan lewat melukis.
***
Rumah yang besar ini sebenarnya sudah direncanakan saat ibunya masih hidup, namun belum sempat ibunya menginjak rumah ini, ia sudah dipanggil oleh tuhan yang lebih menyayanginya. Ve menata kamarnya sendiri, ia menempel beberapa poster lelaki tampan yang tidak ia sendiri tidak tahu siapa lelaki itu. Saat itu ia sedang berkhayal, membayangkan lelaki yang sangat tampan menjadi pasangannya kelak, tanpa ia sadari, ia melukisnya dalam canvas dan jadilah lukisan lelaki tampan ini yang langsung dicetak oleh Ve dalam bentuk poster.
Setiap kakak-kakaknya atau teman-temannya bertanya siapa lelaki dalam poster itu, Ve hanya menjawab itu adalah calon pasangannya kelak yang langsung disuguhi tawa menggelegar oleh kakak-kakaknya dan teman-temannya. Ve sampai saat ini belum pernah berpacaran walaupun sebenarnya banyak pria tampan yang ingin mendekatinya tapi Ve selalu menolak dengan alasan bukan tipenya. Ve sendiri tidak tahu pria seperti apa yang ia inginkan. Yang ia tahu ada satu pria yang selalu menghantuinya dalam mimpi, pria itu entah siapa dan pria itu adalah pria yang ada didalam poster yang sedang ia tempelkan saat ini. Tidak hanya ada satu poster yang bergambarkan pria itu tapi ada belasan poster yang terter disan. Dari mulai pria itu sedang tersenyum sampai marah. Entahlah, Ve selalu berharap pria yang ada didalam posternya itu nyata.
“Ve, sudah selesai?” tanya Virly kakaknya.
“Sebentar lagi Vi, kamu bisa bantu?” ujar Ve. ya, Ve selalu memanggil kakak perempuannya itu Vivi karena umur mereka yang berdekatan membuat mereka seperti sahabat bukan kakak beradik. Virly membantu adiknya itu menempel poster-poster yang tersisa.
“Buat apa kamu masih menempel poster laki-laki yang kamu sendiri tidak tahu siapa dia?” tanya Virly heran.
“Kamu gak akan ngerti Vi, dia itu mimpiku. Dan kamu tahu? Kenyataan itu adalah buah dari mimpi” ucap Ve mantap yang hanya disuguhi delikan dari kakaknya itu.
“Eh Vi, kak Virlo mana ya?” berbeda dengan Virly, Ve memanggil Virlo dengan sebutan kakak karena Virlo benar-benar menunjukan sikap ke-kakak-annya pada adik-adiknya.
“Mungkin dia sedang di kamarnya” jawab Virly lalu di-oh-ria kan oleh Ve.
“Sudah selesai. Aku ke kamar Virlo dulu ya Ve”
“Ya, makasih Vi” ucap Ve lalu Virly tersenyum dan berlalu meninggalkan Ve.
Ve mencari ponselnya berniat untuk menghubungi sahabatnya-Karin- untuk memberitahu bahwa Ve sudah pindah rumah. Belum sempat Ve menghubungi Karin, Ve merasa angin berhembus dengan kencang kedalam kamarnya karena jendela dan pintu kamarnya yang mengarah ke balkon terbuka. Segera saja Ve menutup jendela dan pintunya karena takut angin akan merusak semuanya yang sudah ia tata dengan rapih. Setelah Ve menutupnya Ia kambali ke kasurnya tapi Ia terkejut saat mendapati Pria tampan duduk di ujung ranjangnya.
“Si..si..siapa kau?” tanya Ve sedikit takut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Boy In The Poster
Fantasydia nyata! dia nyata! percayalah padaku! dia nyata dan aku mencintainya! © cover by dope-ing (dee and SillentStalker)