(2)Mustahil...

1.1K 48 10
                                    

Ve mencari ponselnya berniat untuk menghubungi sahabatnya-Karin- untuk memberitahu bahwa Ve sudah pindah rumah. Belum sempat Ve menghubungi Karin, Ve merasa angin berhembus dengan kencang kedalam kamarnya karena jendela dan pintu kamarnya yang mengarah ke balkon terbuka. Segera saja Ve menutup jendela dan pintunya karena takut angin akan merusak semuanya yang sudah ia tata dengan rapih. Setelah Ve menutupnya Ia kambali ke kasurnya tapi Ia terkejut saat mendapati Pria tampan duduk di ujung ranjangnya.

"Si..si..siapa kau?” tanya Ve sedikit takut.

“Apakah kamu tidak mengenalku? Bukankah kamu selalu memandangiku setiap waktu?” lelaki itu tersenyum manis kearah Ve. Sedangkan Ve, sedang mengingat-ingat siapa pria dihadapannya ini. Ve benar-benar buntu, Ia tidak tahu siapa pria dihadapannya ini.

“A..aku tidak mengenal kau, bagaimana bisa kau berada di kamarku? Sekarang keluarlah!” perintah Ve, sekarang pria itu mendekat ke arah Ve, Ve mundur mnjauhi pria itu.

“Karena kamu yang menyimpanku disini, dikamarmu”

“Apa maksudmu?”

Lelaki itu mengalihkan pandangan ke salah satu poster yang ditempel Ve dikamarnya itu dan Ve mengikuti arah pandagannya. Betapa terkejutnya Ve saat mendapati salah satu posternya hanya kertas putih. Ia tak dapat percaya, apakah Pria dihadapannya itu adala pria yang selalu ia impikan itu?

“Ya, aku adalah pria yang selalu kau puja dan selalu kau tatap”

“Ta..tapi..bagaimana mungkin?”

“Karena...”

Tiba-tiba Virly masuk kedalam kamarnya.

“Ve? Kamu bicara sama siapa?” Tanya Virly heran.

“Bersama dia” Ve menunjuk ke arah Pria itu berada tapi aneh lelaki itu tidak ada, lalu Ve melihat ke arah posternya tadi. Poster itu jadi bergambar pria itu lagi. Apakah aku berkhayal? Pikiran Ve bertanya-tanya.

“Siapa Ve? Disini tidak ada siapa-siapa” Tanya Virly lebih heran lagi dengan kelakuan adiknya itu.

“Ah, Vi. Sepertinya aku tadi berkhayal pria diposter itu hidup dan menyapaku”

“Jangan banyak melamun, Ve. Ayo kebawah kita makan malam ayah dan Virlo sudah menunggu” ajak Virly dan Ve mengikuti dari belakang dengan pikiran masih bertanya-tanya. Ah aku sudah gila Batinnya.

***

“Bagaimana Ve? Kamu suka kamar baru kamu?” Tanya Jhon-ayah VE- tapi Ve tidak bergeming dia masih sibuk dengan pikirannya. Dia masih teringat kejadian tadi. Sekuat mungkin Ve berpendapat bahwa tadi hanya khayalannya saja tapi tetap saja Ve merasa itu sangat nyata. Lamunan Ve buyar saat Virly menyenggol tangannya.

“Ya, kenapa Vi?” Tanya Ve.

“Tadi kamu ditanya sama daddy” Jawab Virly.

“Oh ya. Whats up, dad?” Tanya Ve kepada Jhon.

“Apakah kamu suka dengan kamar kamu yang baru?”

“Ya, dad. Ve sangat suka” Jawab Ve lalu tersenyum dan melanjutkan makannya.

Setelah acara makan malam itu berakhir, Ve kembali ke kamarnya dan mengunci diri. Lalu Ve menatap poster-posternya itu. Apa tadi nyata? Batinnya. Ve mengusap posternya yang masih utuh, tidak seperti tadi berwarna putih tanpa coretan sedikitpun. Ve berharap kejadian tadi nyata tapi disisi lain juga Ve takut, takut hal buruk akan terjadi padanya kelak.

“Hai” Ve menyapa lelaki yang ada dalam poster itu “apakah tadi nyata? Kurasa, aku yang terlalu menghayal” lanjutnya lagi.

***

Boy In The PosterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang