Adit selalu memikirkan apa yang dikatakan sahabat nya itu. Tiap malam dia akan tidur sangat larut dan bangun setelah 3 jam tertidur. Selalu seperti itu, sehingga membuat mata nya menghitam dan membesar seperti panda.
Adit sedang melamun menatap langit-langit kamarnya yang putih. Lamunannya teganggu karena ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Adit melihat jam yang ada dinakas samping tempat tidurnya.
7:30
Sudah waktunya sarapan.
Adit berjalan kearah pintu dan menemukan Bi Irah berdiri disana.
" Kenapa gak langsung masuk aja bi? " Tanya Adit pada Bi Irah.
" Dikira bibi teh pintunya dikunci aden. Ibu sama Bapak sudah nunggu aden, di meja makan. " Jelas Bi Irah.
" Yaudah nanti Adit turun bi. " Ucapku akhirnya
Saat mendengar jawaban ku Bi Irah langsung meninggalkan kamarku.
Aku turun menuju lantai bawah untuk sarapan bersama Mamah dan Papah ku.
" Selamat pagi kesayangan Mamah. " Sapa Mamah sambil tersenyum.
Aku membalas senyuman Mamah dan balas menyapa
" Pagi Mah. "
Mamah dan Papah adalah orang yang bisa dibilang sibuk. Mereka berdua punya kesibukannya masing-masing. Papah jarang dirumah karena kadang Papah ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya. Sedangkan Mamah selalu dirumah sakit untuk menangani orang yang sakit.
" Gimana kuliah kamu sayang? " Tanya Mamah memulai obrolan.
" Baik mah. " Jawabku sekenanya.
Iya, sekarang aku sudah kuliah. Dulu, aku me-macari Andra pada saat dia kelas 10. Ya, aku kakak kelasnya.
" Dit, kamu sering begadang ya? " Tanya Papah.
" Kenapa emang pah? " Tanya Adit seperti orang bodoh.
" Matamu terlihat membesar dan menghitam. " Jelas Papah
" Sepertinya aku memang butuh jam tidur normal. " Ucapku sekenanya.
Aku telah selesai memakan sarapanku.
" Aku sudah selesai, Aku ke kamar dulu. " Ucapku pamit meninggalkan meja makan.
Aku kembali ke kamarku. Mengambil gitar yang berada di dekat soffa kamarnya lalu berjalan ke balkon yang ada dikamarnya. Ia terduduk dibalkon seraya memetik gitar. Dia teringat akan seseorang yang ia tinggalkan tanpa alasan, Padahal sangat banyak penjelasan yang ingin ia ceritakan, Tapi waktu sudah menentukan jalan-nya. Andra seakan pintar bermain dipikiran Adit, hingga saat bermain gitar pun Adit mengingat perkataan apa yang pernah dilontarkan seseorang yang sempurna itu baginya.
* Flashback On. *
Adit memainkan gitarnya didepan Andra. Andra menatap Adit dengan tatapan kagum-nya.
" Adit bisa main gitar ya ternyata. " Ucap Andra.
Adit tersenyum lalu mengelus puncak kepala Andra.
" Adit hanya belajar sedikit ko, belum mahir. Doa-kan saja ya Andra. " Ucap Adit.
Dia sangat bahagia bisa melihat senyum merekah dibibir perempuan kesayangannya itu. Lalu Andra bertanya lagi.
" Adit selalu bermain gitar ya dirumah? " Tanya Andra polos.
Adit sangat-sangat menyayangi perempuan ini. Dia memilih perempuan ini disaat banyak perempuan yang memilih dirinya.
" Engga Andra. Adit main gitar kalo Adit lagi kesepian dan bosan. " Ucap Adit tersenyum.
" Andra ingin menjadi gitar, yang menemani Adit dikala sepi. Tapi, Andra tak ingin jadi senarnya, Karena Andra tau, Saat senar itu putus senar itu tidak lah berguna lagi, dan pastinya akan digantikan dengan yang baru, yang lebih berguna. " Ucap Andra tiba-tiba. Adit dibuat terperangah dengan ucapannya.
* Flashback Off. *
Adit tersenyum mengingat betapa polosnya perempuannya. Dia sangat menyayanginya meskipun dia telah 2 tahun lamanya berpisah, tapi perasaan ini tidak akan pernah terpisah.
" Kau perempuan yang sangat polos, sayang. Aku mencintaimu. Percayalah, Akan selalu seperti ini. "
---
Tokk..tokkk...tokk..
Seseorang mengetuk pintu kamar Andra. Andra yang mendengar pintu terketuk langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya.
" Surprise " Ucap Rina, Bunda Andra.
Ketika melihat Bunda-nya, Andra langsung memeluknya.
Dia sangat menyayangi wanita yang telah melahirkannya ini. Wanita didepannya ini sangat sibuk, sehingga jaranh dirumah.
" Bunda sudah pulang? Bukannya Bunda bilang, Bunda pulang satu minggu lagi? " Tanya Andra setelah melepaskan pelukan mereka.
Rina tersenyum mendengar pertanyaan dari anaknya.
" Jadi, anak Bunda gak mau nih liat Bundanya pulang kerumah? " Ucap Rina.
" eeeh, Bukan gitu Bunda. Ara hanya bertanya bukan bermaksud seperti itu. " Dengan Cepat Andra menyangkal penuturan Bundanya.
Rina hanya tersenyum, dia sangat-sangat Rindu pada anak sematawayangnya ini.
" Ara rindu banget sama Bunda. " Ucap Andra Tulus, lalu kembali memeluk Bundanya.
" Bunda juga Rindu Ara. " Ucap Rina dan membalas pelukan Andra.
" Ara, mau jalan bareng Bunda? Kita quality time bareng? Yuk? " Ajak Bunda.
Andra mengangguk mengiyakan.
" Boleh Bunda. Ara ganti baju dulu ya bunda. " Ucap Andra.
" Bunda tunggu dibawah ya sayang. "
Setelah mengucapkan itu bunda pergi dari kamar Andra.
Andra mengganti pakaiannya yang lebih ke pakaian pergi. Celana Jeans, Kemeja berwarna putih ditambah sepatu adidas super star ber-list hitam dan Sling Bag berwarna hitam.
Andra turun menemui Bundanya.
" Ayo Bunda, Ara sudah siap. " Ucap Andra bersemangat.
Sesaat Andra melupakan seseorang yang dicintainya.
Andra dan Rina menaiki mobil Honda Jazz milik Rina yang berada di Garasi, menjalankan mobilnya menuju Pondok Indah Mall.
---
Haii..
Segini dulu yaaa...
752 words.
Gua baru sadar, kalo di akhir prolog gue nulis bakal update 1000 kata..maaf ya blm bisa nepatin tapi gua janji bakal nepatin, InshaAllah.
Makasih yang udah Vote.
Aku bakal update lagi besok atau lusa. Tunggu aja jadinya ya.
Intinya aku saiang kalian.
Tinggalkan jejak!
#masihamatirbwank
21 Juni 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
DEFINISI CINTA
Ficção Adolescente" kalau kau bertanya, Apa alasan aku mencintaimu? aku akan menjawab dengan lantang. bahwa mencintaimu tak butuh alasan. kau tak perlu lagi menunggu lama atas pertanyaan yang memang tak ada jawaban yang panjang lebar. kau hanya harus menunggu pernyat...
