Kenapa?

1.4K 194 38
                                        

"Kak Nino!" sentak Ali sambil menuruni tangga. Raut mukanya memang penuh kemarahan, tetapi Ali tidak melakukan apa-apa selain hanya berdiri di hadapan Nino dengan tatapan kaget.

Nino mematung begitu Ali berada di hadapannya. Cowok itu menggeleng pelan, menyadarkan pikirannya dari apa yang diucapkannya tadi. Sungguh, ia benar benar nggak nyadar kenapa mulutnya bisa melenceng seperti itu.

"A...Ali tadi gue..." jelas Nino terbata.

"Nggak usah ngomong!"

Ali menarik tangan Prilly kasar. Gadis itu tak berkutik sama sekali. Seolah-olah mengerti apa yang Ali raasakan sekarang. Prilly bisa melihat jelas mata Ali yang memerah.

"Kamu pulang sekarang!" sentak Ali lagi.

"Iya tapi kaki aku sakit-"

"Kalo kamu sayang aku, pulang sekarang!" Ali melepaskan tangan Prilly lalu menyalakan motornya. Cewek itu berjalan sambil terpincang-pincang dengan hanya menggunakan sandal jepit yang tadi diberikan oleh Nino.

Prilly diam, ia hanya menuruti apa yang Ali suruh. Selama perjalanan pulang ke rumahnya pun sama sekali tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya terdengar deruan mesin motor Ali yang dijalankan kebut-kebutan di jalanan yang sepi.

Jujur, Prilly bingung. Ia harus merasa bersalah atau menyalahkan Nino?

"Makasih," ucap Prilly saat motor Ali berhenti di depan rumahnya. Cowok itu tidak membalas selain memandang lurus dengan tatapan dingin.

Tangan Prilly terangkat, lalu pelan pelan menyentuh pundak Ali.

"Li.." Hening, Ali masih tidak menjawab.

"Ali, jangan diem terus kayak gini. Kalo kamu marah sama aku, bilang. " Prilly menggoncangkan tubuh Ali. Ali melepas helmnya lalu memeluk Prilly secara tiba-tiba. Ia menempatkan kepalanya di bahu gadis itu tanpa berucap sepatah kata pun. Hanya saja, Ali memeluknya dengan sangat erat seolah tak mengizinkan orang lain untuk merebut orang yang ia sayang itu.

"Mungkin tadi Nino lagi khilaf," ucap Prilly lembut.

"Aku sama Nino emang sodara. Dari dulu kita saling berbagi. Tapi bukan berarti semua yang jadi milik aku jadi milik dia juga," tutur Ali tanpa melepaskan pelukannya.

Prilly mengangguk lantas mengusap rambut Ali.

"Ya aku ngerti."

"Wajar kalo kita suka sama orang yang sama, tapi nggak usah dengan cara ngejelekkin aku kan bisa."

"Iya."

Ali menyudahi pelukannya. Ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas hingga menampakkan senyuman hangatnya pada Prilly. Tangannya menggenggam tangan Prilly dan meletakkannya di dadanya.

"Karena semangat hidup aku itu ya kamu." Ali mencolek hidung Prilly yang langsung membuat gadis itu tersipu.

Semangat hidup aku itu ya kamu

Ali menepuk jok motornya. "Ayo naik."

"Hah? Kemana? Kan kita udah nyampe di rumahku."

"Ke tukang urut. Kaki kamu sakit kan?" tanya Ali seraya melirik kaki Prilly yang hanya menggunakan sandal jepit. Sepatunya tertinggal di rumah Ali karena tadi cowok itu menariknya buru-buru.

Prilly terkekeh melihat kakinya dan kaki Ali yang sama sama menggunakan sandal jepit.

"Kamu nggak pake kacamata, terus baju kamu nyantai gini." Prilly menunjuk t-shirt yang Ali gunakan.

"Ya nggak apa apa, aku kan masih ganteng walaupun pake baju jelek. Lagian kalo nggak pake kacamata gini kan tambah ganteng," balas Ali percaya diri. Ia memeletkan lidahnya yang dibalas cubitan di kedua pipinya.

The Last TearsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang