Sejak saat itu, semuanya menjadi berubah. Hubungan Mark dan Sana tidak seperti dulu lagi. Begitupun hubungan Sana dengan Yuta.
Hal ini membuat satu kelas bingung, tetapi mereka memutuskan untuk memperlakukan mereka seperti biasanya.
Dan terkadang, apabila Mark dan Sana bertemu, mereka berdua menjadi canggung.
Hal yang sama juga terjadi dengan Yuta dan Sana.
"San, lo kok udah nggak deket sama Mark lagi?" Tanya Nayeon penasaran.
"Iya, sama Yuta juga," tambah Jisoo.
Sana merasa, sepertinya ia tidak perlu menceritakan ini kepada siapa pun. Cukup hanya dirinya, Mark, dan Yuta yang tahu.
"Gak usah diingetin, deh,"
"Ya seenggaknya lo cerita gitu kenapa," kata Jisoo.
Sana memutar bola matanya dengan malas. "Kim Jisoo, gue nggak mau cerita dan gue nggak mau inget juga,"
"Dan lagian, bentar lagi ujian akhir dan gue nggak mau mikirin begituan," tambah Sana.
"Wes, siap bos!"
Ya, karena sekarang sudah akhir semester dan sudah mau ada ujian akhir untuk kelulusan, Sana tidak mau pusing memikirkan tentang urusan percintaannya.
Ia lebih memilih fokus untuk belajar agar mendapat nilai memuaskan sehingga ia bisa diterima di universitas yang ia mau.
🌸🌸🌸
"San, lo nggak mau bareng?" Tanya Nayeon.
Sana menggeleng. "Nggak, gue mau belajar di perpus,"
"Anjas, Sana sudah berubah,"
"Bacot,"
"Iya, iya. Gue sama Jisoo duluan, ya. Daaaah,"
Sana lalu pergi ke perpustakaan sekolahnya. Biasanya, kalau menjelang ujian akhir, perpustakaan sepulang sekolah akan ramai dan untuk hari ini, bisa dibilang ramai.
Sana untungnya menemukan tempat duduk. Ia lalu segera duduk disana dan membuka bukunya dan memulai kegiatan belajarnya.
"Wes, serius amat,"
Sana mendongak, dan itu adalah Mark. Dan disampingnya, ada kekasihnya Wendy.
"Halo, Sana,"
"Apaan sih lo," Sana mendengus. "Halo, Wendy," Sana lalu mengisyaratkan Wendy untuk duduk di sampingnya. Dan Wendy kemudian duduk disampingnya.
"Wah, kamu ngerti soal matematika ini San? Ajarin aku, dong," kata Wendy sambil melihat soal yang dikerjakan oleh Sana.
"Tapi aku nggak tau kalo jawabannya ini bener apa nggak,"
"Mana sini, gue liat," kata Mark. Sana lalu memberikan Mark soal tersebut.
"Lo salah rumus, San. Lo harusnya pake rumus yang waktu itu diterangin di kelas,"
"Tuh kan, apa aku kata," ujar Sana ke Wendy.
"Sana mah emang matematika dia gitu," ledek Mark. Sana langsung menendang kaki Mark. Dan Mark meringis.
"Ah, iya Wendy. Kamu pintar Bahasa Inggris kan? Ajari aku ya?" Tanya Sana.
Wendy mengangguk. "Boleh saja,"
Dan mereka bertiga pun mulai belajar. Sana dan Wendy belajar Bahasa Inggris, sementara Mark mengerjakan soal-soal matematika yang ia punya.
Sana cukup kebingungan dengan yang diajarkan oleh Wendy. Dikarenakan gadis itu mengajarnya sangat cepat.
