Karma

310 8 0
                                        

Satrio berkata bahwa ia akan kembali ke Indonesia lusa, untuk membereskan hal itu. Satrio sangat tak ingin, apabila harus kehilangan Gina. Ia sangat mencintai Gina.

Sebaliknya pun sama, akupun tak ingin kehilangan Satrio. Walaupun sebelumnya aku merindukan sesosok Rafi, yang membuatku tertawa dengan lelucon lelucon konyolnya.

Ku akui Satrio dan Rafi memiliki sifat yang berbeda. Satrio memang orang yang sangat serius, tak banyak bicara. Sedangkan Rafi, dia sangat humoris.

Tapi, jika ku ingat kesalahan Rafi waktu dulu, yaitu meninggalkanku. Aku tak ingin dia kembali. Cukup, dia mempermainkanku.

Tolong,
Jangan kembali apabila hanya melibatkan rasa, lagi!

...

Lusa itu pun datang

Satrio ke rumahku, hanya seorang diri. Di hari itu Satrio memang tak jadi melamarku, karena orang tuanya yang masih sibuk. Dan ia berjanji akan melamarku Minggu ini.

Setelah mendengar penjelasan itu, tiba-tiba mobil datang dan memarkirkan di depan rumah ku. Akupun keluar untuk melihat siapa yang datang.

Ternyata Rafi dan ayah ibunya. Aku gugup dan panik, sepertinya Rafi akan melamarku akan segera terjadi.

Satriopun keluar, karena melihatku seperti shock.

"Itu Rafi", ujar satrio

Aku hanya mengangguk, dan wajah memang sedikit pucat.

"Udah tenang aja gin, nanti aku yang bicara". Ujar Satrio

Aku langsung masuk menghampiri mamaku, dan memberi kabar bahwa Rafi datang bersama orang tuanya.

Sedangkan di halaman...

"Eh ini Satrio kan ya?", Tanya Rafi

Mereka memang saling kenal, karena satu SMP, dan pernah sekelas, tetapi tak begitu akrab.

"Iya Raf"

"Lagi ngapain di rumah Gina?"

"Aku cuma mau ngasih kabar ke Gina, kalo beberapa hari lagi aku bakal lamar dia"

"Lamar? Oh jadi dia pacar kamu?"

"Pacar?", Senyum tipis. "Dia calon jodoh saya Raf"

"Maksudnya?", Dengan wajah bingung dan kaget

"Iya beberapa hari lagi, saya bakal lamar dia. Dan gak lama lagi aku bakal nikahin dia"

Rafi mendengar itu sangat marah, dan menunjuk wajah Satrio.

"Eh gausah ngaku-ngaku deh! Gina itu bentar lagi jadi milik saya"

Lalu, Gina datang menemui mereka, dan memberhentikan perselisihan mereka.

"Raf, sorry. Kamu bakal percuma lamar aku. Karena aku pengen cuma dihalalin Satrio", ujar Gina menunduk.

Rafi semakin marah, hatinya teriris-iris seperti apa yang Gina dulu rasakan ketika di tinggal Rafi. Mungkin ini namanya karma.

Rafi pergi dari tempat itu bersama orang tuanya menaiki mobilnya.

Dan hatiku merasa lega setelah kejadian itu. Aku harap Rafi tak menggangguku lagi, apalagi merusak hubunganku dengan Satrio.

Tapi nyatanya tidak, Rafi diam-diam memata-mataiku dan Satrio. Ia ingin mencelakakan Satrio, hingga Gina dapat menjadi milik Rafi. Tapi sejauh ini Rafi belum berbuat apa-apa. Ia hanya memikirkan cara, agar pernikahan mereka nanti di batalkan.

...

Acara lamaran Satrio denganku pun selesai, aku sangat bahagia. Tak sabar untuk menjadi wanita halalnya Satrio. Tapi butuh waktu lagi. Satrio harus menjalankan sidang S2 di Belanda. Itu membutuhkan beberapa bulan lagi, dan menciptakan jarak, kerinduan lagi di antara kami.

Setelah ia mendapatkan gelar S2nya nanti, ia akan kembali dan menikahiku. Aku berharap itu semua akan cepat terjadi.

...

Hari itupun tiba, Satrio lulus sidang di Belanda mendapatkan gelar S2 disana. Dan ia bergegas kembali ke Indonesia untuk menikahiku.

Entah dari mana Rafi tau bahwa Satrio sudah berada di Indonesia. Ia mulai merencanakan rencana liciknya.

...

Hari itu Satrio berniat mengajakku ke tempat wedding organitation. Dan mengajakku untuk memilih beberapa gaun pengantin untuk pernikahan kami.

Aku sudah berdandan rapih, dan menunggu kedatangan Satrio untuk menjemputku. Tapi perasaanku tak enak, aku pikir, ini adalah hal biasa.

Sudah lama aku menunggu, ia belum juga datang. Aku mencoba nelfon dia tapi tak di angkat.

"Ting!" Suara hape-ku berbunyi

Ternyata Mama Satrio menelfonku.

"Assalamualaikum ibu",

Setelah mendengar penjelasan dari Mama Satrio, rasanya lututku lemas. Dan aku terjatuh. Aku tak percaya Satrio berada di UGD. Dia sedang kritis. Ia kecelakaan, diduga rem blong dan menabrak pohon, kepalanya terbentur sangat keras. Aku berdoa agar ia diberikan keajaiban oleh Allah.

Aku langsung menangis dan pergi menaiki taksi.

Sesampainya disana keluarga Satrio sedang menangis dan ada sejumlah polisi.

Polisi itu memberikan keterangan, bahwa mereka mendapatkan bukti cctv bahwa ada yang mencelakai Satrio dengan cara mencabut rem-nya agar blong.

-bersambung-

Vote& comment ya❤❤

Love or Future?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang