2. Pregnant

11.8K 798 34
                                        

Ini bulan keempat Joohyun bekerja di restoran semenjak dirinya lulus tiga bulan lalu. Pegawai disini menyenangkan bagi Joohyun yang baru lulus sekolah. Berjalan dari satu meja ke meja lainnya mencatat dan mengantar pesanan makanan mereka. Terkadang juga Lee Jinki kepala chef di restorannya mengajari beberapa masakan yang cukup mudah dengan rasa yang luar biasa nikmat. Atau Park Sooyoung wanita yang pertama dihampirinya saat melihat lowongan pekerjaan di dinding kaca restoran gadis itu mengajarinya menggunakan mesin kasir. Joohyun menikmatinya iya menikmati pekerjaan yang membuat pikirannya teralihkan.

Ibunya bahkan tidak pernah bertanya apa yang dilakukuan dirinya hingga pulang larut malam hanya satpam juga asisten rumah tangga dirumah ibunya apa yang dilakukan Joohyun. Bahkan jika Joohyun terlalu takut pulang di larut malam dirinya meminta asisten rumah tangganya untuk menjemput dirinya.

"Nona Joo mau makan malam?" Tanya asisten rumah tangga, Joohyun memanggilnya Ahjumma Yoon wanita yang mengurusnya menggantikan peran ibu sejak dirinya pindah ke rumah ini.

"Ahjumma tidur saja aku juga akan langsung tidur" Ahjumma Yoon mengangguk hendak kembali ke dalam kamarnya ketika mendengar suara jatuh.

Membalikkan tubuhnya suara histerisnya langsung membuat rumah menjadi gaduh melihat anak majikannya pingsan. Dirinya baru sadar jika gadis lugu itu terlihat pucat.

"Kita bawa ke rumah sakit" yang Ahjumma Yoon tahu tubuh gadis itu terangkat dan segera di bawa ke luar menggunakan mobil.

Dalam hati berdoa agar gadis lugu itu tidak apa-apa hanya terlalu lelah karna selalu bekerja bahkan di hari libur sekalipun.

...

Kedua mata Joohyun terbuka mendapatkan bau obat-obatan tercium di hidungnya. Menatap sekitar disana ada kedua orangtuanya memperlihatkan wajah datar menatapnya. Tubuhnya bangun hingga pipi kanannya terasa sakit tertampar oleh ayahnya sendiri.

"Katakan padaku anak siapa yang kau kandung" Joohyun menatap ayahnya dengan bingung. Dirinya mengandung?

"Seo Joohyun katakan padaku siapa pria itu" Joohyun menggelengkan kepalanya tidak tahu.

"Apa seperti ini kau mendidik anakmu apa yang kau lakukam hingga putrimu hamil!" Joohyun menutup kedua matanya takut mendengar ucapan ayahnya yang ditujukan untuk ibunya.

"Aku mendidik anakmu kau tidak lihat jika Joohyun bisa bersekolah di tempat bagus aku mengurusnya kau yang kemana saja selama ini? Bawalah Joohyun ke rumah mu tugasku sudah selesai untuk mengurusnya umurnya juga sudah 19tahun" Joohyun menatap Ibunya dengan air mata berlinang.

"Gugurkan kandunganmu aku akan mengirimu segera ke London" Joohyun menggelengkan kepalanya.

"Kau mendapatkan karmamu Seo Inguk-ssi lihatlah akibat dulu kau menghamiliku sekarang anakmu dihamili oleh pria lain"

Joohyun terisak dalam diam memandang kedua orangtuanya jadi ini alasan mereka bercerai. Dirinya bukan anak yang diinginkan.

"Aku tidak akan menggugurkannya" gumam Joohyun.

"Kau ingin membuat malu keluarga dengan hamil diluar nikah!" Inguk menatap putrinya marah.

"Keluarga mana yang kumiliki? Katakan padaku! Seperti keinginan kalian aku akan menjauh karna itu memang niatku sejak lama" dengan pelan Joohyun berjalan keluar dari ruangan inapnya meninggalkan kedua orangtuanya yang sudah memiliki pasangan masing-masing.

Pikiran Joohyun berkelana kejadian tiga bulan lalu dimana dirinya terbangun di sebuah kamar hotel tanpa busana pakaiannya yang berserakan di lantai. Joohyun tidak menangis sama sekali tidak ada yang pikirkannya.

Joohyun kembali ke rumah ibunya saat fajar sudah terlihat Yoon Ahjumma berdiri di depan pintu utama lalu memeluknya menggiringnya masuk ke kamar gadis itu.

"Nona Joo akan kemana?" Joohyun menggelengkan kepalanya bingung lalu tersenyum menatap Yoon Ahjumma.

"Aku mempunyai teman dia mengelola sebuah panti asuhan nona Joo mau tinggal disana sementara? Nona juga bisa belajar mengurus anak kecil disana" mendadak perasaan senang Joohyun muncul membayangkan jika dirinya akan menghabiskan waktunya untuk bermain bersama anak kecil yang begitu menggemaskan.

"Aku mau, tapi Ahjumma kau tidak akan mengatakan apapun tentangku kan? Eh tapi siapa juga yang akan mencariku" Yoon Ahjumma menatap sendu Joohyun gadis itu sungguh malang nasibnya.

"Aku akan membantumu berkemas dan mengantarmu kesana"

"Apa tidak apa-apa bagaimana jika orang rumah mencarimu?" Yoon Ahjumma menggeleng tidak akan yang mencarinya karna semua orang di rumah sedang pergi.

Diantar sopir keluarga, Joohyun memperhatikan deretan pohon yang menjulang tinggi panti asuhan yang berada di sebuah kota dengan banyak pohon membuatnya terlihat asri.

Joohyun memperhatikan bagaimana cara anak-anak disana bermain dan tertawa lepas. Joohyun harusnya beruntung memiliki ayah dan ibu tidak seperti anak-anak disana yang tidak memilikinya tapi Joohyun juga kecewa karna sekarang Joohyub bernasib sama seperti mereka yang diinginkan oleh siapapun.

"Aku senang karna Joohyun tidak mau mengugurkan kandungannya" Joohyun tersenyum menatap Kim Taeyeon wanita seumuran dengan Yoon Bora Ahjuma.

"Anak adalah anugrah apapun kondisinya kau harus menerimanya dengan senang hati" Joohyun mengangguk.

"Cukup hanya diriku saja yang tidak diinginkan tapi tidak dengan anakku Ahjuma" Taeyeon menatap gadis di hadapannya dengan kagum. Diusianya yang masih sangat belia di berikan cobaan seperti ini dan dengan ikhlas menerimanya.

Dalam hati mereka Taeyeon dan Bora berdoa agar Joohyun akan semakin tegar kedepannya gadis itu harus kuat sekuat baja menghadapi hidup yang tidak mudah.

"Ahjumma bantu aku untuk belajar menjadi seorang ibu yang kuat" Taeyeon mengangguk dirinya akan mengajarkan Joohyun dengan senang hati.

...

Taeyeon mengantarkan Joohyun untuk memeriksa kandungannya yang sudah menginjak sembilan bulan. Waktu berlalu begitu cepat wanita disampingnya kini akan menjadi ibu dengan hitungan hari.

Jika wanita hamil lainnya akan sangat direpotkan dengan morning sickness dan mengidam maka Joohyun berbeda dirinya tidak mengalami keduanya walaupun beberapa kali Joohyun akan menutup hidung saat dirinya memasak daging sapi dan membuat jajangmyun.

Mereka pernah mengatakan keanehan tersebut tapi dokter berkata jika setiap wanita hamil memiliki hormon berbeda maka setiap kehamilan pun akan berbeda.

Hingga hari kelahiran Joohyun harus berjuang sendiri tanpa keluarga ataupun suami yang mendukungnya hanya ada Taeyeon dan Bora yang menunggui proses melahirkan anak Joohyun.

Taeyeon dan Bora tersenyum mendengar suara tangis bayi Joohyun gadis itu berhasil. Menunggu cukup lama hingga keduanya dipindahkan pada ruang rawat.

"Dia tampan" gumam Joohyun melihat bayinya.

"Siapa namanya?" Joohyun mengusap pipi bayinya dengan sayang.

"Hyunoo namanya Seo Hyunoo" nama yang indah seorang bayi laki-laki.

"Seo Hyunoo selamat datang aku nenekmu" Joohyun tertawa menatap Taeyeon. Biasanya anak-anak panti akan memanggilnya Eomma tapi kali ini Taeyeon ingin dipanggil Halmoni oleh putra Joohyun begitupun dengan Bora.

"Ayahnya pasti tampan hingga putraku terlihat tampan juga" Bora menatap wajah Joohyun yang tersenyum mengucapkannya. Gadis itu terlihat senang mengatakannya.

"Hyunoo akan menjadi pria tampan di panti asuhan" Joohyun mengangguk membenarkan.


FINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang