chapter 8

12.4K 1.1K 88
                                        

    Pt.8 rencana yg gagal

Suara ketukan pintu,  membuat dua makhluk yang masih berpanggutan dibawah satu selimut menggeliat tak nyaman.
Mencoba menghiraukan ketukan yang menggangu, namun ketukan pintu yang menjadi-jadi membuat mereka terusik.

"Akh sialan! kau saja yang buka Jim" Yoongi menggerakkan tangannya keatas, gestur memerintah dengan mutlak.

"Aku masih mengantuk.." Jimin mengeratkan pelukannya pada Yoongi dari belakang.

"Ngh.. Biadab kau Park. Menyingkir kalau begitu" Yoongi sedikit melenguh saat Jimin mengeratkan an pelukannya. Kemudian Yoongi memilih untuk mengalah,  melepaskan panggutan dibawah mereka dengan sedikit lenguhan seraknya. Memunguti bajunya yang berserakan dilantai kamar,  memakai kemeja putih Jimin yang teronggok mengenaskan di lantai. Yoongi melihat selimut dan baju yang bertebaran, tersenyum heran memikirkan seberapa panas kegiatan mereka membakar ranjang semalam.

Ya...  Setelah rayuan yang Jimin berikan dengan segala tipu muslihat. Akhirnya Yoongi,  mengikuti ke inginan Jimin untuk menghangatkan ranjang mereka. Tapi bukannya hanya menghangatkan, mereka malah terbakar habis-habisan hingga subuh datang.

Ah...  Ingin sekali Yoongi mengumpat, Tetapi ia cukup sadar diri. Semalam ia juga sangat menikmati sesi adegan panas itu.

Cklek..
"Oh.. Eomma,  ada apa? " Yoongi menggaruk kepalanya yang Agak gatal,  saat menemukan wajah ibunya; Min Seokjin-  yang tersenyum aneh di depannya.

"Omo~ Kau habis membuatkan ku cucu ya? Ah..senangnya" Seokjin memekik senang.

"Yak! Apa yang eomma lakuka. Jangan memekik, ini masih jam 6 pagi" Yoongi menutup pintu kamarnya pelan,  takut Jimin terbangun oleh pekikan eomma-nya.

Yoongi terhuyung kedepan, saat dengan tiba- tiba Seokjin menariknya dan menyeretnya cepat,  menjauhi daun pintu kamarnya.

"Akh...  Sakit eomma" Yoongi memekik.

Bukan. Bukan karena tangannya yang sakit karena ditarik, tapi karena lubang diantara bokongnya yang masih panas, dipaksa berjalan cepat oleh orang gila yang sayangnya adalah eomma-nya. Untung Seokjin adalah eomma nya, kalau bukan, mungkin Yoongi sudah akan membawanya ke rumah sakit jiwa, namun Yoongi tak akan melakukannya,  dia takut jadi anak durhaka. Bagaimanapun Min Seokjin adalah ibunya.

"Apa eomma menarik tanganmu terlalu keras?" Seokjin melepaskan tangan Yoongi setelah memekik dengan tangan yang menutupi mulutnya sendiri.

"Ah.. Sudah lupakan. Kenapa eomma menarikku kesini?" ketus Yoongi.

"Oh iya,  Apa ya...? Eummm..  Eomma lupa" Seokjin membuat gestur berpikir lalu tersenyum manis saat tak kunjung mengingat apa yang akan ia katakan. Wajah polos yang terukir, membuat Yoongi menghentikan niatnya untuk memaki Seokjin.
Tanpa mengatakan apapun Yoongi beranjak pergi, terlalu malas mengahadapi tingkah eommanya.

"Eh... Sudah ingat!  Aku ingat!" Seokjin memekik senang, membuat Yoongi kembali membalik tubuhnya.

"Jadi Yoongi, Namjoonie bilang, dia mendapat informasi dari staf kantor   kalau Jimin memesan gedung besar milik keluarga kita, sepertinya dia tidak tau kalau itu milik keluarga mertuanya"

"Lalu? " Yoongi bertanya malas. memang kenapa kalau Jimin memesan gedung? Mungkin akan ada rapat besar yang membutuhkan gedung, begitu pikir Yoongi.

"Ah,dengarkan dulu Yoongi. Kata Appa mu, Jimin memesan gedung yang paling besar. Disana juga ada tulisan Happy brithday Park Yoongi, dengan tatanan yang luar biasa mewah Yoon" Seokjin menjeda ucapannya yang luar biasa heboh, Sebelum kembali berujar.

BYUNTAE PARK (MINYOON)[END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang