chapter. 11

10.5K 1K 112
                                        

Pt.11 (kangen uyu)

Dahi mulus Jimin sedikit mengerut saat bias mentari menusuk iris netranya yang meluruh.
Belaian lembut di kepalanya serta cubitan kecil dipipinya membuat jimin bangun dari tidur lelapnya.

"Selamat pagi, sudah bangun?" Jimin berjingkat dengan mata membulat. Suara serak yang Jimin rindukan beberapa hari ini, terdengar jelas menyapa indra pendengarannya, sesaat setelah Jimin membuka matanya.

"Jim, matamu bisa melompat nanti. Operasi mata itu mahal, aku tidak mau membayar biayanya kalau itu terjadi" Suara serak itu kembali menyapa, diiringi kekehan pelan di akhir ucapannya.
Jimin dengan takut-takut mendongak, ia takut kalau itu hanya imajinasinya saja, karena terlalu merindukan Yoongi mungkin.

Jimin mulai menunduk lesu sembari menghela nafasnya pelan. 
Benar. Itu hanya imajinasinya, Yoongi nya masih damai dengan tidurnya. Tak terusik oleh genggaman tangan Jimin sekalipun. Jimin tersenyum kecut, ia ingin menangis saat melihat Yoongi terbaring lemah. Mengingat kebersamaan mereka selama kurang dari dua bulan membuat Jimin sadar, ia sangat mencintai Yoongi *halah.

"Yoongi..." Jimin menggenggam tangan Yoongi, menciumnya sesekali kemudian kembali menghembuskan nafasnya pelan.

Pintu ruangan Yoongi terbuka. Jimin yang menyadari, bahwa dokter yang menangani Yoongi akan memeriksa istrinya itu.
Jimin hanya membalas senyum ramah sang dokter kemudian mulai mempersilakan dokter itu untuk memeriksa Yoongi.

"Dokter, kenapa istri saya belum bangun?" Jimin mengelus sayang rambut lembut Yoongi. Tatapan matanya tampak sendu, dengan pertanyaan yang mencuat setelah dokter bermarga Kim itu selesai memeriksa Yoongi.

"Dia baik-baik saja. Sepertinya dia sudah sadar beberapa jam lalu, tapi mungkin Yoongi-ssi melanjutkannya dengan tidur kembali, dia hanya terlalu lelah" Dokter Kim tersenyum ramah.

"Baiklah tuan Park, berikan Yoongi-ssi makan setelah ia bangun nanti. Tapi jangan bangunkan dia, biarkan dia istirahat. Saya pamit permisi dulu" Dokter Kim mulai beranjak dari ruangan itu, meninggalkan Jimin dengan perasaan lega.

Jimin hanya diam, mengusap dengan sayang punggung tangan istrinya. Berharap istrinya cepat bangun dan tersenyum padanya, meski faktanya istrinya hanya tidur. Bagaimanapun, ia merindukan senyum Yoongi nya.

"Kau pasti akan senang, kalau tau, kita akan punya baby, hyung" Jimin meraih tangan Yoongi, mengelusnya dan mengecupnya pelan.

"Hyung baby butuh makan, kau juga kan? Ayo bangun. Nanti kalau kau bangun, aku janji mau menyuapimu" Jimin membaringkan kepalanya, disamping Yoongi, memejamkan matanya. Mencoba untuk terlelap dengan posisi duduk.

Namun, belum sampai Jimin memejamkan matanya. Sentuhan halus serta usapan lembut pada rambut nya, membuat ia berjingit kecil.
Jimin tidak berani mendongak, ia yakin ini mimpi atau imajinasinya saja, ia tak ingin kehilangan usapan lembut itu. Dengan meyakinkan diri bahwa itu hanya hayalannya, Jimin kembali menutup mata.

"Hei... Sudah tidur ya?" suara Yoongi kembali menyapa, namun kali ini lebih terdengar nyata. Dengan keberaniannya Jimin membuka mata dan mendongak.

"Yoongi hyung?" Yoongi mengernyit, saat melihat Jimin sembab dan acak-acakan.

"Kau tau dimana dominanku?" Jimin merengut, di dahinya membentuk garis perempatan dalam. Sedikit tak mengerti dengan ucapan Yoongi.

"Dominan yang mana hyung? Aku disini. Apa kau sebegitu marah padaku? Maafkan aku" Mata Jimin mulai mengembun. Apa Yoongi sekarang membencinya?

Hati Jimin sakit, saat Yoongi menanyakan seorang dominan, Sedangkan Jimin sendiri ada disini.

Dominan mana yang dimaksud Yoongi?

BYUNTAE PARK (MINYOON)[END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang