Pt. 14. Bumil lahiran.
.
.
"Aduh... Jimin, nyamuknya loncat" Yoongi mengerang kesal, dengan tangan siap memukul betisnya yang membengkak.
"Itu terbang hyung, bukan loncat" Jimin menggeleng pelan diambang pintu kamarnya, tangannya membawa nampan dengan susu pink diatasnya.
"Oh, ganti nama ya?" Tangan mungil Yoongi mengelus perutnya dan tersenyum lembut.
Jimin hanya menggeleng dan berjalan kearah Yoongi yang sedang duduk bersandar di ranjang kamarnya.
"Hyung? Sudah tidak mual?" Yoongi mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan Jimin. Mengetukkan telunjuknya pada dagu, gestur berpikir keras dengan otak mungilnya.
"Sekarang tidak" Yoongi tersenyum, namun matanya yang hilang karena tersenyum tadi, kini berubah melotot dengan tiba-tiba.
"Ah..... Ada biawak Jim!!" Teriak Yoongi tiba-tiba, Jimin berjingit waspada. Dengan tangan sibuk mencoba mengambil vas diatas nakas kamarnya.
Jimin memutar bola matanya malas. Bagaimana tidak? Yoongi semakin tidak waras sejak kehamilannya yang semakin besar. Besar perut Yoongi seperti dua semangka yang disatukan pada bulan kesembilannya ini. Yoongi semakin suka berimajinasi.
Pernah waktu itu, Yoongi tiba-tiba menjerit ketika Jimin mandi. Karena terburu-buru Jimin hampir saja tepleset dengan tubuh half naked saat menghampiri Yoongi. Kemudian, saat ditanya kenapa menjerit.
'baby tadi sudah keluar dari perut Yoongi, tapi masuk lagi' Yoongi hanya mengatakan itu sambil mengelus perutnya dan tersenyum sendu, setelahnya. Bagaimana mungkin bayi bisa keluar dan masuk sendiri? Tentu saja bisa, dengan imajinasi Yoongi tentunya.
"Mana ada biawak Yoon? Kau terlalu sering melihat cuplikan reptil di televisi" Yoongi menatap Jimin tak terima. Bibir mungilnya mulai berkomat kamit, dengan tangan yang mengelus perut buncitnya.
Huh.... Helaan nafasnya lolos dari bibir Yoongi, matanya meluruh.
Kemudian beringsut, mulai merebahkan badannya di atas ranjang dengan bantal dibawah perutnya dan terdiam.
"Ada apa Yoongi? Apa kau lelah?" Jimin memandang Yoongi khawatir. Tangannya mencoba mengelus perut bulat istri nya.
Yoongi mengangguk, tersenyum saat merasakan jemari bantet Jimin mengusap perutnya dengan sayang.
"Jim..., maafkan aku" Mata sipit Yoongi masih setia terpejam, tangannya mengikuti alur gerakan tangan Jimin.
"Untuk apa?" Mendengar ucapan Jimin, Yoongi membuka matanya, memandang mata Jimin dari bawah.
"Yoongie sudah menyusahkan Jiminie" Yoongi menatap Jimin sendu, wajahnya memerah karena menahan tangis, entahlah.. Yoongi memang sangat sensitif.
"Hyung, Jiminie tidak merasa di repotkan, kan ini karena Jiminie juga, Yoongie cat bisa hamil" Jimin tersenyum, menunduk pelan dan mengecup pipi Yoongi.
"Jim, kau mencintai ku kan? Apa yang kau lihat dariku?" Yoongi kembali duduk bersandar pada frame ranjangnya dan menatap mata Jimin.
"Sangat hyung, aku sangat mencintaimu. Sayangnya aku tidak melihat apapun darimu, aku mencintaimu apa adanya" Jimin tersenyum lembut, entahlah ucapan sakral yang jarang sekali keluar dari bibir mereka membuat Jimin mengucapkannya dengan serius.
"Em, aku juga mencintaimu. Sayangnya cintaku tak setulus dirimu, aku mencintaimu karena kau kaya dan tampan" Yoongi terkikik pelan setelah mengatakannya.
Jimin mengernyitkan dahinya, saat mendengar ucapan Yoongi, namun ia kembali tersenyum saat kata 'tapi bercanda' keluar dari bibir Yoongi.
"Jim, baby menendang terus, mau pegang?" Jimin dengan cepat memegang perut Yoongi. Namun Jimin tak merasakan apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
BYUNTAE PARK (MINYOON)[END]
Fanfiction[END]Ini cerita tentang seorang Min Yoongi, yang selalu menjadi korban; Korban rencana ibu dan adiknya. Hingga korban sasaran kemesuman suami nya.. Park Jimin. "Ahaha... Kau pandai sekali Kookie" Seokjin "Kalian menipuku" Yoongi "Sudah terlanjur h...
![BYUNTAE PARK (MINYOON)[END]](https://img.wattpad.com/cover/117959825-64-k842113.jpg)