Aku berlari kecil di lapangan sekolah. Mendekati Mr. Grift, yang dari tadi sudah menungguku.
"Ma,maaf, Mr. Grift.....saya terlambat..." aku menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa.....lagi pula pelatihmu belum datang. Tunggulah dia disini, maaf aku harus pergi."
Aku duduk diatas bebatuan yang bagian atasnya sedikit ditumbuhi lumut. Aku mempersiapkan pedang dan busur panahku. Di sebelah kaki kananku,sebagai tempat anak panah. Lalu di kaki sebelah kiriku, sebagai tempat pedang. Sedangkan busur panahnya sendiri kugantung pada punggungku.
"Maafkan saya....saya telat......" terdengar sesorang pemuda bersuara lembut dari belakangku.
"Tidak apa-apa saya sendiri baru sampai..." aku masih fokus membetulkan posisi masing-masing senjata. Aku membalikkan badan.
Astaga!!
Kami sama-sama membulatkan mata. Aku menunjuk pemuda itu.
"Fedrick de Gabriel!?"
"Fresca Cartrie Varies!?"
Kami menutup mulut. Tatapanku tak bisa teralih dengan sesosok pemuda yang berdiri tegap, dihadapanku.
Rick, sahabat masa kecilku. Terakhir kali kami bertemu sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kami sangat akrab, bahkan kami sendiri sudah merasa seperti saudara kandung.
Saat itu, aku harus pergi ke kota ini, karena tak ada lagi anggota keluarga yang tersisa di kota itu. Satu-satunya anggota keluargaku yang masih hidup adalah kakekku. Ia pemilik sebuah perusahaan ternama dinegeri ini.
Rick yang dulu terlihat begitu, menggemaskan, lucu, serta penakut. Tapi aku menepis kenyataan masa lalu itu. Karena sekarang kenyataan yang terlihat adalah, Rick menjadi seorang pemuda yang gagah. Tak ada julukan pipi chuby yang selalu kuucapkan. Sekarang semua telah berubah. Seolah-olah, Rick terlahir seperti manusia yang baru.
Yang membuatku ingat dengan sosoknya adalah, luka goresan yang berada di lehernya. Dulu saat itu, usia kami masih enam tahun. Rick mendapat luka goresan itu, karena ia sudah putus asa dalam hidupnya.
Tak ada alasan yang jelas, mengapa Rick yang periang seperti itu dulu. Tapi ada sesuatu yang membuatku yakin.
Karena ia telat menyelamatkan temannya satu kelas. Temannya dibantai oleh seorang pembunuh sadis, yang tak punya hati nurani. Hanya aku dan Rick yang selamat.
Beberapa waktu setelah kejadian yang mengerikan itu, aku harus meninggalkan pria malang itu sendirian.
"Rick.....kau benar-benar Rick kan?!" suaraku sedikit bergetar.
"Ya....." ia memperlihatkan senyumannya yang paling tulus, senyuman yang tak pernah berubah dari dulu.
"Syukurlah.....aku kira kau tidak akan berubah." Aku menghela napas lega. Aku mengenggam sarung pedangku. "Baiklah....mari kita latihan."
"Oke!"
Rick berlari dengan langkah pasti, ditangannya sudah ada pedang .
Drap,drap,drap
Aku berlari dengan kekuatanku. Jarak kami sudah dekat, tinggal sepuluh sentimeter. Aku mengayunkan pedangku.
Sreeeet
Rick menghindar dengan menggunakan celah yang cukup besar.
Trang!!!
Senjata kami saling beradu, menimbulkan suara yang sedikit gaduh.
"Jadi, hanya ini yang kau bisa lakukan Fresca? Tidakkah kau serusnya malu?" Ia seperti tersenyum mengejek ke arahku. Ketika pedangnya menggores pundakku.
Ooh....orang ini sengaja memancing emosiku
"Diamlah.....sebelum mulutmu terluka...." aku mengucapkannya dengan nada datar.
Syaaat
Bibirnya tergores. Rick menyapu bersih darah merah segar yang mengalir di atas kulit wajahnya. Wajahnya sedikit kesal sekarang.
"Awas kau!!!"
Ia mulai berlari. Rick mengayunkan pedangnya. Begitu pula aku.
Trang!!!
Pedang kami saling mengunci. Dalam hitungan beberapa detik, ia mengayunkan pedangnya kesegala arah.
Pipi, tangan, dan kakiku banyak yang terkena sayatannya. Aku menggertakkan gigiku.
"Heyaaaaaaa!!!!!"
Aku berlari ke arahnya. Rick terlihat diam ditempat dengan posisi pedang bersiaga. Aku terus berlari.
Sedikit lagi!
Rick mengayunkan pedangnya, ketika aku bersalto ke depan. Dengan hitungan detik, aku mengeluarkan busur panah, dan menarik anak panah. Benda itu langsung melesat, ketika kulepaskan tanganku.
Tep
Aku mendarat dengan sempurna. Posisiku berada di belakang Rick. Aku mengatur napas yang mulai tidak stabil.
Bruk!!
Rick menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Anak panahku mengenai telapak tangannya.
"Hahhhh....aku kalah lagi. Kau memang hebat, Fresca" Rick tersenyum, ketika aku menjulurkan tanganku.
"Tidak.....kau juga hebat" aku menggeleng pelan. "Aku juga mendapatkan luka yang cukup banyak."
Aku menarik tangannya. "Apa terasa sakit?" aku sedikit cemas. Tadi anak panah yang kulepas, tepat mengenai bagian tengah telapak tangannya.
"Tidak, ini sudah biasa bagiku....."
Aku duduk disampingnya. "Apa kau mengikuti sayembara?"
Rick menggeleng. "Aku tidak suka sayembara itu. Hal itu sangat liar....apa kau mengikutinya?"
"Ya."
"Kenapa kau tidak menolaknya!? Kau harus pertaruhkan nyawamu!?" emosinya meninggi.
"Aku tau....tapi, aku tak bisa menolak mentah-mentah hal yang diimpikan orang lain...."
Ia memejamkan matanya, menghela napas. ".....kau masih sama seperti dulu. Kuharap kau bisa menang."
Aku tersenyum. "Terima kasih....."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Black Shadow Forest
AdventureSayembara terkutuk yang harus diikuti Fresca dan yang lain. Misi utamanya adalah, menemukan anak atau sekelompok indigo, kemudian membunuhnya. Dan parahnya lagi, setiap anak diperbolehkan untuk membunuh setiap anak yang ia curigai sebagai anak indig...
