9. Hambatan

147 12 0
                                        

Bibirku terangkat ke atas. Khayalanku tentang sumber mata air sangatlah besar. Kemungkinan disana kita akan mendapat makanan sebagai makan siang kali ini.

Krek!

Aku tersadar dari khayalanku.

Apa itu? Suara dahan kayu patah?

Tidak mungkin ada suara seperti itu, jalan yang kami lalui adalah jalan yang beralaskan guguran dedaunan, tak ada dahan pohon sama sekali. Itu sangat mustahil!

Krek!

Aku semakin memperlambat lariku, walaupun ada kemungkinan besar anggota team-ku akan meninggalkanku. Aku mengeluarkan pedangku dari sarungnya.

"Graaaaa!!!"

Sekelebat bayangan muncul dibelakangku. Begitu besar, cepat, dan ganas.

Trang!!

Aku menahan makhluk itu dengan pedangku. Tapi hanya dengan kedua tanganku, aku tak bisa menahan bobotnya. Posisiku bertahan dengan keadaan berbaring ditanah.

Itu....serigala!!! Tidak hanya satu....tapi sekumpulan serigala, yang beranggotakan lima ekor...

"Fresca!!!"

Mereka baru menyadari hal yang menimpaku. Aku hanya bisa melihat mereka dengan kemampuan binokular mataku.

"Kalian, pergilah!!! Aku akan menyusul! Sekarang cepat pergilah!"

"Ta,tapi--"

"KUBILANG PERGI!!!"

Aku membagi separuh tenagaku untuk terus bertahan, dan setengahnya lagi menahan emosiku keluar.

"Akan kami tunggu di mata air!" Kak Ravie berteriak, sambil berlari. Semuanya meninggalkanku.

Serigala itu, terus berusaha untuk bisa menggigit salah satu bagian dari anggota tubuhku. Menahannya seperti ini tidak akan terlalu berfungsi.

Buagh!!

Aku menendang perut hewan liar itu, hingga terpental beberapa meter.

"Grrrrrrr......."

Kurasa yang barusan kuserang, adalah ketua dari kelomponya. Secara bersamaan keempat serigala itu melompat ke arahku. Mereka menunjukkan gigi mereka. Siap untuk menerkamku secara kelompok.

Breeeet

Aku mengayunkan pedangku ke arah perut mereka. Sontak dua dari mereka menjadi terbaring tidak berdaya. Darahnya menempel pada pedangku.

Satu serigala ingin mencabik perutku, dengan sekali pukulan dari ganggang pedang serigala itu terkapar. Namun tubuhnya sama sekali tidak mengeluarkan darah.

Tinggal satu serigala lagi, semakin cepat aku menghabisinya, semakin cepat aku akan menyusul mereka. Aku mengayunkan pedangku, tapi serigala itu menahannya dengan giginya.

Segera kuambil busurku, lalu kulesatkan tiga anak panah sekaligus.

Jleb!!

Ketiga-tiganya mengenai leher berbulunya.

"Argh!!!" pekikkku.

Serigala yang pertama menyerangku, menggigit lenganku. Giginya benar-benar tajam, kurasa tanganku sudah terluka berat akibat gigitannya.

"Heyaaaaa!!!" aku membanting serigala yang masih menggigit lenganku.

Bruk!!!

Sekarang dia benar-benar tidak berdaya. Aku melihat nasib tanganku yang telah tergigit olehnya. Benar-benar penuh darah, dan luka.

Kurasa untuk sementara ini tangan kiriku akan sulit berfungsi. Dengan langkah bergetar, tapi pasti aku menuju mata air terdekat. Aku sudah berjanji pada mereka.

Setiap langkahku, akan tercetak jelas bercak darah yang berjatuhan.

Nafasku tersenggal. Aku benar-benar tak bisa menahan rasa sakit separah ini. Bulir bening berhasil jatuh, membasahi pipiku yang terkena percikan darah serigala yang liar itu.

The Black Shadow ForestCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang