Chapter 4 : Nose

352 44 0
                                    

"Jadi kalian belum jadian?"

Cecil melihat wajah Ella tampak kecewa. Cecil baru menceritakan semua hal tentang acara kencan mereka kemarin. Tidak semuanya. Tapi Cecil menceritakan soal pertemuan mereka di bar dua tahun lalu. Bagaimana mereka berdua bertemu kemudian mereka merasakan hal yang sama. Ella terlihat sangat senang mendengarnya. Tapi kini kedua bahunya kembali lemas karena Cecil mengatakan kalau mereka tidak jadian.

Sebenarnya Cecil juga merasa sedikit kecewa. Dia kira, setelah sekian banyak yang mereka ceritakan berdua dan akhirnya mereka mengakui perasaan mereka, Josh tidak akan ragu untuk memulai pacaran dengan Cecil. Mungkin ada hal lain yang masih membuat Josh ragu pada Cecil. Tapi Cecil menerima keputusan Josh dan memutuskan kalau dia akan ikut menjalaninya juga. Cecil dapat melihat dengan jelas wajah lega Josh ketika mereka selesai saling berbagi.

Setelah itu Josh mengantarnya pulang sekitar jam lima sore. Cecil duduk selama beberapa menit di jok kursinya dan mengucapkan salam perpisahan pada Mayo berulang-ulang. Adegan itu sempat membuat Josh tertawa. Akhirnya Cecil memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Josh tersenyum kemudian menepuk kepala Cecil satu kali sebelum gadis itu keluar. "Hari ini menyenangkan sekali," Josh tersenyum. "Terima kasih."

Cecil mengerjap. "Bukankah seharusnya aku yang berterima kasih?"

Josh menggeleng. "Aku juga harus berterima kasih."

"Terima kasih," Cecil tersenyum. "Maksudku, kamu sudah bersedia menemaniku dan berbagi denganku, aku tahu itu pasti sulit jadi-" Cecil menarik napas. "aku senang karena kamu menceritakannya padaku."

Josh mengusap rambut Cecil pelan kemudian gadis itu keluar dari mobilnya. Cecil membuka pintu gerbang rumahnya dan menoleh ke arah mobil itu. Dia melihat Josh melambaikan tangannya dari dalam mobil. Cecil membalas lambaiannya kemudian masuk ke dalam rumah. Ketika dia sudah berada di depan pintu rumah, dia melihat mobil Josh melaju pergi dari depan rumahnya. Cecil masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan senang.

"Tidak apa-apa," jawab Cecil menanggapi protes Ella tadi akan hubungan mereka. "Aku merasa senang kok, aku merasa kalau kencan kemarin adalah kencan terbaik."

"Josh pintar memilih tempat kencan," gumam Ella sambil mencuci tangannya. Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam toilet. Ketika mereka keluar dari toilet, mereka mendengar suara bel tanda istirahat berbunyi. Ella dan Cecil kembali ke kelas. Ketika mereka ingin masuk, tubuh Josh menghalangi langkah mereka.

Josh tersenyum manis pada Cecil. "Hei."

"Hei," Cecil merasakan kedua pipinya memanas hanya dengan bertatapan dengan Josh. Cecil melihat ke belakang punggung Josh dan melihat Luke berdiri di belakangnya sambil menggeleng. "Mau makan?"

Josh mengangguk. "Mau makan bersamaku?"

Cecil melirik Ella. "Um.."

"Aku juga tidak membawa makanan hari ini," Ella langsung menjawab. "Aku juga akan ke kantin. Cecil ikut 'kan?"

Cecil mengangguk cepat. Josh tertawa pelan melihat reaksi polos Cecil. Tangannya turun dari atas pintu kelas dan menepuk kepala Cecil. Tangan itu kemudian turun ke pundak Cecil dan laki-laki itu menariknya ke kantin. Cecil melirik ke belakang dan melihat Luke dan Ella menyusul mereka dari belakang. Ella tampak berbunga-bunga sementara Luke memperhatikan mereka dengan tatapan dingin.

Cecil menelan ludah. Sepertinya Luke masih belum bisa memaafkannya.

"Abaikan tatapan Luke," ucap Josh tiba-tiba. "Dia akan mengerti nanti."

"Kurasa aku perlu menjelaskan sesuatu padanya," gumam Cecil pelan.

"Tidak perlu," Josh meremas pelan pundak Cecil. "Berhenti menghawatirkannya."

Breathless (FIN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang