Cecil melihat Josh menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Cecil berusaha setengah mati untuk menahan air matanya. Dia berusaha untuk tidak mengeluarkan ekspresi sedihnya di depan mata laki-laki itu. Josh tidak akan memaafkannya. Sisi dari Cecil yang bisa datang seperti truk yang melaju pesat dan menabrak manusia seakan dia adalah benda tak bernyawa. Sisi dari diri Cecil yang gadis sendiri itu benci. Lebih baik jika Josh membencinya saja dan tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
Josh berjalan mendekat ke arahnya dan Cecil memundurkan tubuhnya. Takut. Dia takut kalau satu sentuhan Josh bisa mengubah pikirannya. Dia takut kalau Josh akan mengubah keputusannya yang sudah matang. Josh berhenti bergerak ketika dia melihat Cecil memundurkan tubuhnya. Josh mengusap wajahnya kasar dan Cecil bisa melihat kalau laki-laki itu sekarang bingung dia harus berbuat apa dengan Cecil.
"Kamu tidak perlu berusaha menerimaku apa adanya," Cecil mendadak berucap. "Kamu jelas tahu kalau aku tidak bisa berubah. Sisi dari diriku yang baik dan yang jahat. Mereka berdua adalah bagian dari diriku. Aku tidak bisa mengubahnya meskipun aku berusaha, Joshua."
"Bukankah itu keputusanku?" balas Josh kesal. Cecil menatapnya tanpa berkedip. "Sejak awal aku tahu kalau ini adalah dirimu. Ella dan Luke sudah memperingatkan aku, Cecil. Aku sendiri sudah tahu apa yang kamu lakukan pada mereka. Dan aku memutuskan untuk mendekatimu lagi, bukankah itu berarti aku sudah memutuskan kalau aku akan menerimamu apa adanya?"
"Kamu benar," Cecil menarik napas. "Tapi kita tidak berpacaran."
Josh menggeleng dengan tatapan tidak percaya. "Seriously? Kamu pikir aku tidak ingin berpacaran denganmu karena hal ini?"
"Aku tidak akan kaget," Cecil menarik napas karena dadanya terasa sesak. "Jika aku ada di posisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Malah mungkin aku akan lebih memilih Cassy yang tampak seperti gadis normal dibandingkan aku-"
"Aku yang berhak memutuskan, okay?" Josh bergerak dengan cepat dan mencengkeram pundak Cecil. "Jika aku sejak awal menyukai Cassy, aku sudah berpacaran dengannya sekarang, Cecil. Kamu pikir kenapa sampai sekarang aku tidak melakukannya?"
Cecil menelan ludah untuk menahan air mata yang akan jatuh dari ujung matanya. "Joshua, hentikan, aku bukan gadis yang tepat-"
"Biarkan aku yang memutuskan!" Josh mencengkeram pundak Cecil lebih erat. "Sekarang kamu lihat. Apa yang kamu lihat di dalam mataku? Apa kamu melihat Cassy di dalam mataku?"
Pandangan Cecil mulai kabur karena air mata. "Joshua, jangan-"
"Demi Tuhan, Cecil," Josh memejamkan matanya dan menunduk. "Aku tidak tahu aku harus mengatakan hal ini berapa ratus kali padamu. Tapi aku menyukaimu. Aku menyukaimu sejak kita SMP, okay? Kamu pikir kamu bisa kabur begitu saja setelah semua yang telah kamu lakukan padaku? Setelah kamu memeluk dan menciumku, kamu bisa pergi begitu saja?"
Tangan Cecil terkepal semakin erat di kedua sisi tubuhnya. "Joshua, kamu mencengkeramku terlalu erat. Sakit."
Pegangan Josh di pundak gadis itu mengendur. Josh menarik napas panjang masih dalam keadaan menunduk dan dia menyandarkan dahinya di pundak Cecil. Matanya terbuka dan dia melihat tangan Cecil yang terkepal di kedua sisi tubuhnya. Cecil terkesiap ketika dia merasakan Josh meraih kedua tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya. Josh memperhatikan tangan itu dan Cecil langsung menariknya kembali.
Tapi terlambat, Josh sudah menahan tangannya. Tangan Josh perlahan memperhatikan darah yang keluar dari tangan itu. Josh merenggangkan jari-jari Cecil yang terkepal. Gadis itu melihat aliran darah dari hujaman kukunya sendiri di telapak tangannya. Josh juga melihatnya. Saat itu, tangisan Cecil pecah. Air mata yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya tumpah saat itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Breathless (FIN)
Teen Fiction(2nd Book of Sense Trilogy) Cecillia Ginanita dianggap sebagai sosok yang memiliki segalanya. Dia adalah putri tunggal di keluarganya, cantik, sopan dan salah satu anggota cheers. Setidaknya itu yang orang-orang lihat dari luar. Tapi siapa yang per...