Queenta merapikan seragam sekolahnya sebelum masuk ke kelas. Ia menyukai seragam Xavier School. Menurutnya, seragam itu modis untuk pakaian sekolah. Kemeja putih, blazer hitam dan rok lipit pendek membuatnya leluasa bergerak. Dasi hitam bergaris merah tergantung rapi di bawah kerah kemejanya.
Awal masuk sekolah ini, ia agak terkejut dengan semua fasilitas yang tersedia. Semuanya serba canggih, mulai dari absensi yang menggunakan finger print, kartu akses masuk pintu kelas, ruang olahraga indoor, laboratorium yang besar dan lengkap, serta segudang kelebihan lainnya. Walaupun sekolah berstandar internasional, meja dan kursi di Xavier School masih diperuntukkan untuk dua orang. Tujuannya adalah agar para siswa tidak bersikap individualisme dan bisa berdiskusi dengan teman sebangkunya.
Kepercayaan dirinya menurun saat mengetahui orang-orang yang bersekolah di sini adalah anak-anak dari kalangan pengusaha sukses. Hanya dirinyalah murid beasisiwa di sini. Ia mengira akan dikucilkan karena bukan dari golongan bangsawan. Namun sebaliknya, warga sekolah Xavier School sangat menerima kehadirannya di sini. Ia bersyukur bersekolah di tempat ini. Dan ia pun tidak menyangka akan bertemu dengan anak pemilik sekolah ini. Reyhan..
Queenta tidak mengingat wajah Reyhan saat bertemu di toko buku. Kalau Reyhan tidak menyapanya bersama satu temannya lagi, entah siapa namanya. Ia benar-benar lupa pernah bertemu mereka di kaki gunung. Saat itu ia sedang terburu-buru mengantarkan pesanan bensin sebuah pabrik. Jadi, ia tidak terlalu mengingat wajah mereka berdua.
Yang Queenta tahu, Reyhan selalu bersama anak cowok yang ia temui di kampung dan di toko buku tempo hari. Namun belakangan, ia mengetahui ada satu cowok lagi yang akrab dengan Reyhan. Ia tidak kenal, dan ia pun tidak ingin mencari tahu tentang nama-nama kakak kelas yang memiliki wajah rupawan. Baginya, semua orang itu sama. Yang membedakan hanya hatinya..
"Itu siapa nari-nari di lapangan?" tanya Queenta pada teman sebangkunya, Vina. Vina segera melihat ke luar jendela untuk mencari tahu orang yang dimaksud Queenta.
"Hah? Itu kan Kak Reyes? Ngapain dia nari Baby Shark?" Vina berkomentar sambil tertawa. Sebelum Reyes menari Bu Michelle marah-marah melalui toa sekolah. Pasti karena Reyes melanggar peraturan. "oh, lagi dihukum sama Bu Michelle, tuh. Telat mulu sih." Vina tertawa lagi. Bukan hanya Vina sekarang yang tertawa, tapi seluruh murid di kelasnya menertawakan Reyes. Lagu Baby Shark itu memang sengaja di setel over load. Mungkin untuk mempermalukan Reyes.
"Loh, kok sekarang ada dua orang? Eh, nyusul lagi ada tiga?" Queenta berseru heran.
"Ya ampun, ganknya kumpul. Kak Reyes, Kak Reyhan, Kak Reymond! Uuuu sweet banget sih nemenin temennya yang lagi di hukum." Vina memegangi pipinya kegirangan.
"Kamu kenal?"
"Ya kenal lah! Reyhan kan anak dari yang punya sekolah ini. Terus dua orang itu tuh donatur terbesar. Siapa juga yang nggak kenal?!"
"Maksud aku, emang kamu kenal deket sama mereka?" Queenta bertanya tidak sabar, karena Vina tidak paham dengan pertanyaannya yang pertama.
"Ya nggak sih. Mereka kan anti cewek, di rumahnya aja pembokatnya laki semua. Nggak ngerti lagi deh mereka itu kenapa. Gosipnya sih mereka ilfil sama cewek karena dulu diselingkuhin, eh selingkuhannya macarin mereka bertiga."
Queenta manggut-manggut. "Oh."
"Iya, tapi biar gitu juga masih banyak aja yang nyoba deketin mereka. Padahal pasti bakal dicuekin."
"Aku agak bingung deh sama nama mereka. Kok bisa samaan ya?" Queenta memegangi dagunya, berpikir.
"Iya, tapi unik sih."
KAMU SEDANG MEMBACA
THREE REY
Teen FictionReyes-Reyhan-Reymond. Tiga cogan SMA Xavier School yang berpredikat untouchable. Tiga cowok ini pelit bicara dengan makhluk bergender cewek, namun seiring waktu penilaian mereka tentang cewek berubah setelah kehadiran Queenta Clarissa, cewek aksel y...
