✱ 19. Gotcha!

514 56 52
                                        

Queenta duduk di kursi dekat dinding kaca restoran sushi. Ia seharusnya sudah pulang daritadi, namun Bu Michelle mengajaknya makan malam bersama di sebuah mall. Sejujurnya ia tidak ingin merepotkan Bu Michelle untuk mengikutsertakan dirinya pergi ke sana kemari atau membelikannya barang-barang mahal. Tapi, ibu angkatnya itu selalu memaksa dan ia tidak berdaya menolak keinginan wanita itu. Padahal, uangnya bisa digunakan untuk Avanza yang merupakan anak kandung Bu Michelle. Ia pun sudah mengatakan hal tersebut namun ibu angkatnya selalu mempunyai cara agar ia mau menerima pemberiannya.

Queenta menimang-nimang amplop titipan Vira dan Lina. Ia belum sempat berkunjung ke panti karena disibukkan dengan urusan sekolah dan pekerjaan sambilannya. Isi amplop itu banyak, jika saja ia tidak terlalu mengedepankan harga diri. Hutangnya sudah lunas, setidaknya ia menerima separuhnya. Benar yang dikatakan Vira, dirinya senang menolak rejeki.

Ia tidak suka dikasihani. Ia memang miskin, alangkah lebih baik jika ia berusaha untuk menggapai keinginannya tanpa mengharap belas kasihan orang lain. Menurutnya, itu jauh lebih mulia dibandingkan memiliki jiwa pengemis. Ia tidak pernah segalau ini selama hidupnya, ternyata mempunyai hutang berdampak psikologis yang luar biasa fatal. Bayangkan saja, tiap detik ia teringat tentang hutang, hutang dan hutang.

Tidak mengapa.. Dengan adanya kejadian ini ia mendapat semangat untuk menggunakan masa mudanya seefesien mungkin. Pola pikirnya semakin berkembang agar memperbaiki kembali ekonominya yang sedang runtuh. Setelah ini ia berencana membuka catering sebagai kerja ekstra plus-plus untuk melunasi hutang Reyes. Modal darimana? Ia akan meminjam uang yang ada di amplop ini. Besok ia akan berbicara dengan Vira dan Lina.

Dan, ia terpaksa berhutang lagi..

"Queen? Mau makan apa?" Bu Michelle bertanya sambil tersenyum di sebelahnya. Ia malu ketahuan sedang melamun. Avanza dan pelayan yang berada di hadapannya pun kini tengah memandangnya seakan tengah menunggu jawabannya. Buku menu berukuran besar yang menyajikan masakan istimewa tidak menggugah selera makannya, justru ia malah dibuat lemas oleh harga yang tercantum di sana.

"Samain sama pesenan Ibu aja deh," jawab Queenta pelan dan memberikan buku menu itu pada pelayan. Pelayan langsung pergi setelah mencatat semua pesanan di meja yang mereka tempati.

"Kamu kenapa Queen? Lagi nggak enak badan?" Avanza bertanya khawatir, tidak biasanya Queenta terlihat tidak bersemangat.

"Nggak, Kak. Aku cuma belum laper,"

"Pesenan Ibu tadi 'kan super banyak," Avanza meringis dan mendapat pelototan dari Michelle.

"Kamu nggak suka ya Ibu ajak ke sini? Mau pindah restoran lain?" Michelle menebak.

"Jangan, Bu. Di sini aja,"

"Kamu lagi punya masalah? Cerita dong sama Ibu,"

Queenta menggeleng-geleng. "Nggak, Bu."

"Kamu dijutekin sama Reyes ya? Bilang aja sama Kak Ava, nanti biar Kakak jitak dia." Avanza mengacung-acungkan tangannya seolah ingin menjitak Reyes. Queenta terkekeh melihatnya.

"Emang Kak Ava berani?" Queen memiringkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia antusias karena Avanza menyebut nama Reyes. Aneh memang..

"Queen, kok kamu malah ngeledek Kakak sih?"

"Reyes? Reyes si biang masalah itu?" Michelle memandang Queen dan Avanza bergantian.

"Iya, Bu. Queen sebangku sama dia."

"Kamu diapain sama dia, Queen?"

"Nggak diapa-apain kok, Bu." jawab Queenta. "Kak Ava, jangan bikin Ibu khawatir sama aku dong Kak," Queen menggerutu, Avanza malah cengar-cengir.

THREE REYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang