✖12. Chairmate Shit

385 69 57
                                        

Reyes menelepon pegawai tokonya malam ini untuk menanyakan soft lense barunya yang belum diantarkan ke rumah. Soft lense-nya expire hari ini dan ia harus menggunakan yang baru besok. Namun, hingga detik ini soft lense pesanannya belum diantarkan.

Reyes duduk di teras rumahnya. Ia berniat untuk ke tokonya saja, tapi hal itu urung dilakukan karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Percuma saja, sebentar lagi tokonya akan tutup. Ia menghela napasnya kesal. Padahal ia sudah memesan soft lense itu tiga hari yang lalu. Masih saja mereka beralasan lupa! Tanggal gajian saja mereka selalu ingat! Huh!

Reyes merasa kurang percaya diri dengan mata hazel-nya. Menurutnya warna mata itu terlalu lembut untuk dirinya. Mungkin Reyhan lebih cocok dengan mata hazel-nya ini. Tapi, kenyataannya? Dua jomblo keparat itu memiliki warna mata sebiru Long Island. Sungguh nasib yang beruntung.

Keesokannya, Reyes datang tepat waktu. Hal yang jarang ia lakukan berlama-lama di sekolah. Ia malas-malasan masuk ke kelas. Mood-nya terasa berbeda tanpa warna mata itu. Seperti ada yang aneh. Ia membuka tas dan mengeluarkan buku serta alat tulisnya. Bel sudah berbunyi daritadi, namun guru mata pelajaran pertama belum masuk.

Reyes benci free class pada jam pertama. Seharusnya, guru itu izin pada hari sebelumnya bila tidak masuk hari ini. Jadi, ia bisa santai saat datang ke sekolah. Peraturan sekolah dirasa tidak adil, murid tidak masuk harus mengirimkan surat dokter. Sementara guru? Mereka bebas melakukan apa saja tanpa perlu ada hambatan.

Kelas yang tadinya ramai mendadak hening saat ada suara ketukan pintu. Wali kelasnya masuk memberitahukan bahwa ada siswa akselerasi yang akan dimasukkan ke kelasnya. Reyes melirik pintu, di sana berdiri seorang anak  perempuan. Dia masih muda, mungkin jauh di bawah umurnya. Sangat tidak sesuai dengan tinggi badannya yang seperti tiang listrik. Masa bodohlah, yang penting anak itu tidak mengganggu dirinya seperti kebanyakan cewek-cewek di sini.

  "Queenta, kamu boleh duduk di sebelah Reyes."



Crap!



Reyes merasa telinganya sedang direndam dengan air segalon. Apa ia tidak salah dengar? Anak itu akan diletakkan di sini? Di sebelahnya? No, no, no ia tidak akan membiarkan siapapun atau apapun berada di sampingnya. Mejanya khusus disediakan untuk dirinya sendiri. Tolong digaris bawahi agar tidak lupa dan di-bold sekalian. SENDIRI!

Reyes menatap ke depan dengan pandangan kesal bukan kepalang. Saat ini ia merasa ingin membunuh orang. Tapi, membunuh siapa? Menahan rasa kesal ini membuatnya semakin tersiksa. Karena tidak ada media pelampiasan. Padahal, darahnya sudah bergejolak daritadi. Ugh!

Anak itu mulai berjalan ke arah mejanya. Ia harus berpikir cepat bagaimana menolak kehadiran sosok itu di sebelahnya. Ia harus protes pada wali kelasnya. Iya, nanti ia akan protes.

Di tengah pikirannya yang semrawut, ada sesuatu yang menimpa dirinya. Lumayan berat. Apa atap gedung ini runtuh karena tidak kuat menahan gelora emosinya? Kalau benar, seharusnya ia terluka atau setidaknya benjol-benjol. Tapi, ternyata tidak. Ia baik-baik saja.

Anak perempuan itu duduk dipangkuannya. Alih-alih berdiri, dia malah betah di atas lututnya. Dalam jarak sedekat ini, tidak mungkin ia dapat menghindari tatapan anak itu. Dia.. tidak cantik. Namun, ia memiliki mata biru yang indah dan kaki yang menawan. Ia sempat melihatnya sekilas saat dia berjalan menghampiri mejanya.

  "Bangku lo di situ 'kan? Bukan di sini?"

Reyes sengaja men-stop adegan slow motion ini. Anak itu mengerjapkan mata karena terkejut dengan ucapannya. Dia perlahan-lahan bangkit dari lututnya. Sejujurnya, ia agak gemetar karena sentuhan tidak sengaja itu. Tapi, ia berusaha tenang dan mengatur ekspresinya se-datar mungkin.

THREE REYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang